• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (19/3/2017) - Dalam gelar kajian pakar kesehatan terhadap berkas pengaduan para keluarga korban vaksin palsu ke YLBHI, Jakarta, Minggu (23/10/2016) lalu, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), Marius Widjaja, mempertanyakan dasar pernyataan bahwa vaksin palsu tidak akan berdampak pada tubuh.

Hal tersebut selain untuk mempertanyakan kejelasan pertanggungjawaban pemerintah dan rumah sakit terkait peredaran vaksin palsu, juga merespon Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek, dan jajarannya, yang meyatakan bahwa vaksin palsu tidak menimbulkan efek samping untuk kesehatan anak. Pada acara tersebut, Marius mengatakan bahwa proses pembuatan vaksin palsu menurutnya tidak steril, berbagai zat dicampur tidak dengan takaran seharusnya.

Putusan Pengadilan Negeri Bekasi, Jawa Barat, yang telah menetapkan vonis hukuman penjara dan denda kepada lima dari 19 terdakwa kasus vaksin palsu, Sabtu (18/3/2017), membuktikan bahwa tindakan memalsukan vaksin adalah bersalah, merugikan, dan membahayakan.

(Baca juga: Denda Masing-Masing 1 Miliar untuk 3 Tiga Terdakwa Vaksin Palsu)

Berdasarkan data yang diperoleh di PN Bekasi, seluruh terdakwa yang mengikuti persidangan adalah Hidayat Taufiqurahman, Rita Agustina, Kartawinata alias Ryan, H. Syafrizal dan Iin Sulastri, Nuraini, Sugiyati alias Ugik, Nina Farida, Suparji, Ir. Agus Priayanto. M. Syahrul Munir, Seno, Manogu Elly Novita, Sutarman bin Purwanto, Thamrin alias Erwin, Mirza, Sutanto bin Muh Akena, Irnawati, dan Muhamad Farid.

Berikut kronologi dari kegiatan peredaran vaksin palsu seperti ditulis warta kota:

Pasangan suami istri (Rita dan Hidayat Taufiqurahman) berperan sebagai produsen vaksin palsu. Mereka membuat vaksin palsu di rumah mewahnya yang terletak di Perumahan Kemang Pratama Regency, Rawalumbu, Kota Bekasi. Dari olahan keduanya, vaksin palsu diedarkan ke beberapa apotek yang ada di Bekasi dan Jakarta. Vaksin palsu dibawa dari rumah Hidayat dan Rita menggunakan termos es, fakta yang tidak mengacu pada standarisasi penyimpanan vaksin.

Dalam persidangan juga terungkap, Rita dan Hidayat memproduksi vaksin palsu sejak 2010 sampai 2016. Setiap bulan mereka memperoleh pendapatan sekitar Rp 30 juta sampai Rp 40 juta.

Ada lima jenis vaksin palsu yang diproduksi yaitu pediacel, tripacel, engerix B, havrix 720, dan tuberculin. Meski ada lima jenis vaksin palsu yang diproduksi, namun seluruhnya memiliki kandungan yang sama, tetapi kemasan berbeda. Menurut keterangan, hal itu untuk mengelabui konsumen.

Sementara metode pengemasan, botol bekas dicuci menggunakan alkohol dan ditunggu sampai kering. Setelah itu mereka mencampurkan cairan vaksin DT/TT dengan cairan aquades, dengan masing-masing takaran sebanyak 5 mililiter. Kemudian vaksin ditutup menggunakan alat pres dan dimasukan ke dalam kemasan masing-masing vaksin yang telah disiapkan.

Bahan baku yang mereka gunakan adalah vaksin DT/TT, antibiotik gentacimin, dan cairan aquades yang mereka beli di pasar Proyek Bekasi dengan harga bervariasi.

 

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...