• Kamis, 29 September 2022

Indonesia Hadapi China dengan Klaim Kepemimpinan Islam Moderat

- Rabu, 27 Januari 2021 | 21:59 WIB
d3bbd610-32b5-4aeb-b1f2-fe83e12ebcaa_43
d3bbd610-32b5-4aeb-b1f2-fe83e12ebcaa_43

Pelarangan FPI muncul setelah pemilihan Miftachul Akhyar, seorang ulama NU, sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada November. Ia berpengaruh untuk menggantikan Ma'ruf Amin, wakil presiden Jokowi yang di masa lalu mengambil sikap keras terhadap minoritas dan mendukung posisi Muslim Sunni Ortodoks. Miftachul Akhyar adalah pembimbing spiritual Nahdlatul Ulama.


Selanjutnya beberapa ulama yang mendukung demonstrasi anti-Ahok tersingkir dari kepemimpinan dewan. Mereka di gantikan oleh setidaknya satu pendukung Islam Kemanusiaan, Masdar Masudi. Serta ulama dari Muhammadiyah, gerakan Muslim terbesar kedua di Indonesia, yang dianggap progresif.


Meskipun demikian, beberapa analis menyatakan bahwa dewan yang bertentangan dengan Yaqut, tidak akan mematahkan sikap diskriminatifnya terhadap minoritas.


Alexander R Arifianto, seorang sarjana Indonesia di Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam Singapura mengatakan, “Ketika berbicara tentang minoritas yang terpinggirkan, kita dapat mengharapkan kepemimpinan MUI yang baru untuk mempertahankan posisi konservatif mereka. Ulama termasuk mereka yang ada di MUI cenderung memiliki ortodoksi konservatif dalam interpretasi agama mereka terhadap kelompok-kelompok ini."


 


Oleh: Dr. James M. Dorsey, jurnalis pemenang penghargaan dan peneliti senior di Sekolah Kajian Internasional S. Rajaratnam Universitas Teknologi Nanyang di Singapura dan Institut Timur Tengah


Versi podcast dari cerita ini tersedia di Soundcloud, Itunes, Spotify, Stitcher, TuneIn, Spreaker, Pocket Casts, Tumblr, Podbean, Audecibel, Patreon, dan Castbox.


Halaman:

Editor: Rizki Hakiki Valentine

Tags

Terkini

Presiden Iran: Tak Ada Perbedaan era Trump dan Biden

Minggu, 18 September 2022 | 10:36 WIB
X