• Selasa, 25 Januari 2022

Analisis Psikologi Terhadap Puisi Sukmawati

- Rabu, 4 April 2018 | 10:18 WIB
images_berita_2018_Mar_IMG-20180404-WA0022
images_berita_2018_Mar_IMG-20180404-WA0022

Ini agak sedikit berbeda dengan kidung yang dijelaskan oleh Prof Sukron Kamil, Guru Besar Sastra Banding dan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau menyebutkan bahwa kidung adalah produk dari walisongo yang merupakan hasil dialog keislaman dan keindonesiaan. Jadi menurut beliau, salah jika Sukmawati membandingkan kidung dan azan hanya karena persoalan kekhawatiran terhadap kebudayaan Islam fundamental yang berkembang pesat pada saat ini. Karena pada dasarnya, kidung sendiri adalah sebuah kebudayaan yang tidak hilang dari sarat ruh keislaman yang hadir secara implisit.

Kita menyadari betul bagaimana fluktuasi rasa nasionalisme kecintaan terhadap tanah air dua tahun terakhir menimbulkan konflik yang berujung SARA. Dimulai kasus penodaan agama yang disandungkan kepada mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kemudian kasus desas-desus hadirnya ideologi PKI kembali, pelecehan ulama, dan lain sebagainya.

Nah, dari sinilah saya pikir Sukmawati ingin menyampaikan rasa kekhawatirannya terhadap berapa porsi rasa nasionalisme yang dimiliki oleh rakyat Indonesia. Sehingga ia dengan berani membandingkan nilai-nilai yang ia anggap asli dari nusantara dan budaya Arab yang sudah mengakar di agama Islam sendiri. Sukmawati sudah terlanjur men-generalisir semua hal yang berbau Arab sebagai budaya Arab, bukan ajaran Islam. Termasuk azan yang ia sampaikan dalam bait puisi tersebut.

Mustahil kita akan mendapatkan sebuah informasi dan perubahan sosial yang benar apabila dari cara berpikir kita masih terdapat sebuah kesalahan atau ketimpangan. Dalam melihat sebuah fenomena masalah sosial, tentu kita juga berbicara cara berpikir seseorang dalam memberlakukan sebuah masalah sosial.

Oleh para ilmuwan, fenomena kesalahan berpikir ini biasa disebut dengan _intellectuall cul de sac_ yang artinya kesalahan dalam berpikir. Nah, kesalahan dalam berpikir ini juga terbagi lagi menjadi dua, yakni _intellectual cul de sac_ dan mitos. Mitos adalah sebuah informasi yang belum tentu wujud kebenarannya, akan tetapi sudah diamini dan dipercayai oleh masyarakat umum.

Dalam teori rekayasa sosial Jalaluddin Rakhmat tentang kesalahan dan kerancuan berpikir, ada banyak macam-macam kesalahan-kesalahan berpikir. Satu di antaranya adalah disebutkan _Fallacy of Dramatic Instance_ tentang kecenderungan melakukan _over generalization_. Sukmawati bisa kita asumsikan gagal dalam memahami perbedaan antara budaya asli Arab dan ajaran Islam yang memang pada dasarnya (hampir seluruh) menggunakan bahasa Arab. Kecenderungan ini oleh Jalaluddin Rakhmat disebut sebuah kesalahan berpikir.

Di lain sisi, kita tidak bisa juga sepenuhnya menyalahkan Sukmawati, karena kemungkinan alasan lain bisa jadi diterima dalam nalar berpikir kita. Penulis meyakini betul, bahwa Sukmawati sebenarnya tidak bermaksud melecehkan ataupun menistakan agama. Karena menarik ulur lagi keseluruhan isi dari puisi tersebut, Sukmawati ibarat sosok yang sedang merintih akan kekhawatirannya tentang jiwa nasionalisme cinta tanah yang sudah mulai hilang seiring berkembang pesatnya ajaran-ajaran Islam konservatif di Indonesia.

Terakhir, penulis ingin menyampaikan konteks puisi yang dibacakan oleh putri Soekarno tersebut tidak sepenuhnya bisa kita salahkan. Akan tetapi, dari segi tekstual, cara berpikir, dan pemahaman tentang Islam, saya pikir memang jelas ada kesalahan. Nah, kewajiban kita sebagai warga negara yang menghargai pendapat orang lain serta senantiasa menanamkan nilai toleransi, hendaknya dijadikan sebagai senjata kita dalam menghadapi segala macam bentuk kesalahan-kesalahan dalam berpikir.

Penulis : Dwi Putri, Mahasiswa Psikologi UNU Indonesia, Equality Institute, PMII UNUSIA Jakarta

Opini kolumnis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi.

Halaman:

Editor: Kit Rose

Terkini

Menikah atau Tidak Menikah?

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:03 WIB

Melepas Keriuhan, Menyambut Keheningan

Selasa, 4 Januari 2022 | 16:27 WIB

Pemikiran Gus Dur dalam Pergerakan PMII

Kamis, 30 Desember 2021 | 19:39 WIB

Relasi Sinergis Nahdlatul Ulama-Partai Gerindra

Minggu, 19 Desember 2021 | 12:42 WIB

Jangan Stigma Negatif Pesantren

Sabtu, 11 Desember 2021 | 21:25 WIB

Mengulik Makna Selangkangan

Senin, 6 Desember 2021 | 17:28 WIB

Pentingnya Perencanaan Tenaga Kerja di Perusahaan

Jumat, 19 November 2021 | 18:32 WIB
X