• Rabu, 19 Januari 2022

MBOK GINAH, LEO KRISTI DAN YEHUDI MENUHIN (1)

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 22:14 WIB
Ilustrasi (Ilustrasi/Dodi)
Ilustrasi (Ilustrasi/Dodi)

 

 

Bagi saya, menjadi Indonesia itu tidak mudah. Beruntung pada masa kanak dan remaja saya dulu, saya menemukan musik Leo Kristi. Musiknya banyak mengajari saya --setidaknya saya jadi sedikit lebih mengerti dan turut merasa "menjadi Indonesia" melalui lagu-lagunya.

----


Ini cerita keluargaku. Hingga umur 3 atau 4 tahun aku masih suka digendong dan ditidurkan oleh MbokGinah. Terutama jika aku rewel dan susah tidur. Namun, ada yang tak lazim: ia lebih sering membawaku ke kebun belakang kami yang gelap.

Dan terjadilah drama yang sama itu, dengan jurus pamungkasnya sebuah tembang yang ia rengeng-rengeng-kan, Mbok Ginah tinggal menungguku mengeluarkan air mata –tapi bukan tangis-- lantas biasanya tak lama kemudian akupun terlelap dengan damai.


Cerita tentang “keanehan” drama antara aku dan Mbok Ginah ini beredar di kalangan famili dan keluargaku. Beberapa di antara mereka bahkan memerlukan bertandang ke rumahku, hanya agar bisa menyaksikannya sendiri “secara live”. Ketika aku beranjak dewasa, mereka suka meledekku,

“... jangan-jangan itu bukan tembang, tapi mantra... Lagipula, ia suka menggendongmu ke dekatpapringan, kan?”

Baca Juga: Presiden Turki, Erdogan, Mempertimbangkan Usir 10 Duta Besar Barat sebab Serukan Pembebasan Tokoh Oposisi

Dengan bercanda mereka mengingatkanku bahwa Mbok Ginah dulunya seorang dukun, sebelum beranjak tua dan kemudian mengasuhku sejak bayi. Aku hanya bisa ketawa kecut dan tidak pernah benar-benar menanggapi.


Ayah dan almarhumah ibuku pun ternyata tidak mengetahui apa yang dulu Mbok Ginah tembangkan.

“Itu bukan tembang dolanan, mungkin sejenis mocopat kuno yang sekarang sudah punah,” kata Ibu.


Ada serpihan kenangan yang masih aku ingat. Kenangan paling jauh dari masa kanak-kanak dan bayiku tentang musik.

 

Baca Juga: Sebanyak 60 Desa Pilkades Serentak di Kabupaten Batang Hari, Tetap Mengacu Standar Prokes Covid-19


Malam itu bulan purnama penuh.


Sinarnya yang keperakan menerobos di sela-sela dedaunan mangga yang meranggas. Pucuk-pucuk daun bambu petung seperti ujung pena riang berlomba mencucuki langit.

Suara jengkerik dan serangga malam berkelindan dengan desau angin yang mengelus entah berapa jenis dedaunan di kebun belakang kami.

Selain mangga golek dan rumpun bambu, di ujung kebun yang berbatasan dengan sebuah kali kecil ada kedondong dan kersen, setelah itu kelapa, jambu gelas, duwet, srikaya pathek, kluwih dan blimbing wuluh. Sebagai pagar, berjejer mahoni, pinang dan jarak.

Baca Juga: Gregoria Mariska Belum Mampu Kalahkan Akane, Praven/Melati Melaju ke Perempat Final Denmark Open 2021


Lamat-lamat masih kuingat apak kain jarik yang membalutku, bercampur bau penguk dan wangi sabun Cap Tangan tubuh Mbok Ginah, membiusku memasuki alam sonya-ruri, antara jaga dan tidur.

Kemudian dimulailah pertunjukan musik semesta itu. Prolognya begini: tiba-tiba saja kebun sepi, jengkerik dan serangga malam mendadak diam, demi mendengar suara Mbok Ginah. Hanya suara angin malam.

Sejurus kemudian ketika ia lantunkan lagi tembangnya, beberapa jengkerik mulai berani bersuara. Setelah itu, satu-dua mulai saling menimpali dan akhirnya mereka bersuara full-orchestrakembali.

Baca Juga: Terus Diserang, Kini Pasangan Lesti Kejora dan Rizky Billar Dapat Ancaman Santet dari Haters

Sementara suara Mbok Ginah sudah sepenuhnya menguasaiku dan mengantarku ke langit. Airmata pun meleleh hangat di pipiku.


“Allah Akbar ! Alhamdullilah, Gus, Alhamdullilah”, bisik Mbok Ginah, disekanya airmataku dengan ujung tapihnya. Ia menciumku dan memelukku lebih erat. Aku berhutang doa dan kemesraan pada wanita sederhana yang mulia ini.


Jika engkau mengira aku menikmati tembangnya waktu itu dengan telingaku, engkau salah besar. Bukan begitu kejadiannya. Aku tidak mendengarkan, melainkan sepenuhnya menyerahkan diriku pada suara tembang wanita tua itu.

Baca Juga: Denmark Open 2021: Mampukah Jonatan Christie Kalahkan Kento Momota dan Melaju ke Semifinal?

Juga pada suara jengkerik, juga pada suara desau angin... Kemudian mereka bersama-sama membawaku membumbung ke langit yang sudah berubah corak dan warna. Entahlah, mungkin juga karena aku telah lelap dalam mimpi.


Pada usia SD, aku terbiasa mendengarkan musik yang diputar ayahku setelah subuh. Beragam. Mulai Fausto Papeti, Areta Franklin, Pat Boone, Jim Reeves, Frank Sinatra, hingga Tety Kadi, Emilia Contesa dan serial keroncong keluaran Lokananta, Solo.


Aku gelisah. Tak satupun musik-musik itu membawaku membumbung ke langit yang berubah corak dan warnanya.

Baca Juga: Nama Sekolah yang Tidak Lazim, Mulai SDN Pocong, Setan, hingga Siluman


Akupun mulai membongkar-bongkar khasanah musik ayahku. Dan aku menemukan Yehudi Menuhin.

Sebenarnya hanya sebuah lagu pop, “Moon River” yang dibawakan secara solo oleh Menuhin dengan biola. Itupun satu-satunya lagunya dalam kompilasi musik berjudul “Golden Instrumentalia”.

Pernahkah engkau mendengarkan Menuhin? Jika belum, cobalah sekali waktu. Ia akan memainkan biola seakan-akan langsung di dalam kepalamu sendiri. Ia akan meyakinkanmu bahwa suara itu memang milikmu sendiri, dan sudah berabad-abad berada di situ tanpa kamu menyadarinya.

Baca Juga: Nikahi 2 Istri Mudanya, Mantan Kades Gelapkan Dana Desa 500 Juta


Aku jatuh cinta pada Menuhin dan mulai tiap hari mengubek-ubek seluruh toko kaset di kotaku yang tak seberapa besar itu.

Nihil. Aku rayu teman dari temanku yang anak pemilik radio amatir agar mau membongkar gudang kaset dan piringan hitam bapaknya.

Nihil. Fuad, teman bermainku yang bapaknya kyai penyuka lagu-lagu Mesir, seperti Umi Khulsum, malah mendelik, “Lagu-ne Yahudi? Kharom iku ! “


Frustrasi tak menemukan Yehudi Menuhin membuatku liar. Aku mulai melahap segala jenis musik. Jika uang sakuku habis, maka aku mencuri uang belanja Ibu atau merogoh saku celana ayahku untuk membeli kaset.

Baca Juga: Kevin/Marcus Dikalahkan Yuniornya, Gagal Melaju ke Perempat Final Denmark Open.

Ketika suatu hari, ayahku menghadiahiku album Heintje –penyanyi cilik Jerman yang waktu itu ngetop dengan hit-nya “Mama”—aku ketawa ngakak.

Mana aku sudi menelan musik bayi begituan. Ayahku tidak tahu aku sudah “terjerumus” jauh pada Deep Purple dan Gran Funk.

(Pada 1983 atau 1984, di Yogyakarta, akhirnya aku menemukan kaset Yehudi Menuhin dan Stephen Grappeli dalam satu kompilasi bersama).

Penulis: Indra Setiawan, tinggal di Magelang, Jawa Tengah. 

Halaman:
1
2
3
4
5

Editor: Muslikhin

Sumber: opini

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menikah atau Tidak Menikah?

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:03 WIB

Melepas Keriuhan, Menyambut Keheningan

Selasa, 4 Januari 2022 | 16:27 WIB

Pemikiran Gus Dur dalam Pergerakan PMII

Kamis, 30 Desember 2021 | 19:39 WIB

Relasi Sinergis Nahdlatul Ulama-Partai Gerindra

Minggu, 19 Desember 2021 | 12:42 WIB

Jangan Stigma Negatif Pesantren

Sabtu, 11 Desember 2021 | 21:25 WIB

Mengulik Makna Selangkangan

Senin, 6 Desember 2021 | 17:28 WIB

Pentingnya Perencanaan Tenaga Kerja di Perusahaan

Jumat, 19 November 2021 | 18:32 WIB
X