• Minggu, 5 Desember 2021

Mengapa Anda Memilih Profesi Sebagai Guru? Apa sih Prestise Seorang Guru?

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 20:55 WIB
Ilustrasi: Seorang guru (Pixabay/Alexas_Fotos )
Ilustrasi: Seorang guru (Pixabay/Alexas_Fotos )

KLIKANGGARAN-- Apakah Anda seorang guru? Apakah Anda bangga menjadi seorang guru? Apa justru Anda terpeleset menjadi seorang guru?

Pak, Bu Guru yang saya hormati tulisan ini mencoba untuk menjawab pertanyaan apa prestise seorang guru.

Apa wibawa atau kebanggaan seorang guru? Apa karena status PNS-nya? Apa karena sekolahnya? Apa karena bidang studi yang diajarnya? Apa karena hal lain?

Baca Juga: Gaya Unik Menparekraf Sandiaga Uno, Saat Kunjungi Desa Wisata di Banyumas, Berjoget dan Berpantun.

Apa karena Status PNS?

Apakah status sebagai PNS sebagai sebuah prestise seorang guru? Para pembaca mungkin menjawab iya. Penulis sendiri kurang setuju. Kebanggaan sebagai PNS harus dibedakan dengan kebanggaan menjadi seorang guru.

Memang sebagai PNS mendapatkan banyak keuntungan. PNS dianggap profesi yang paling aman dan stabil daripada pekerjaan lainnya.

Penghasilan tetap, tunjangan-tunjangan, jenjang karier, kemudahan pinjaman, gaji pensiun, dan lain-lain semuanya didapatkan ketika seseorang menjadi PNS, entah itu guru entah itu nonguru. Namun, apakah itu otomatis membanggakan murid ketika diajar oleh seorang guru yang PNS?

Baca Juga: Pembayaran THR kepada Direksi dan Komisaris PT Balairung Citrajaya Sumbar Tidak Memiliki Dasarnya, Duh?

Adakah murid yang bertanya, “Ibu Guru PNS, bukan?”

Adakah murid yang menyimpulkan, “Oh, karena Bapak Guru PNS, maka aku dijamin pintar. Aku dijamin sukses di masa depan. Aku bangga sama guruku!”

Sejujurnya, tidak ada yang mengatakan kedua hal di atas. Apalagi anak SD. PNS atau ASN sejatinya adalah profesi atau jenis karier yang di-setting sebagai abdi negara untuk melayani kepentingan publik atau masyarakat dengan sebaik-baiknya sesuai dengan undang-undang.

Dengan tujuan tersebut, sejatinya seorang guru yang kebetulan PNS harus sungguh-sungguh menjalani pelayanan publik tersebut. Kesungguhan itulah justru yang seharusnya menjadi prestise sang guru. Dengan kesungguhan itu, sang guru lebih bangga daripada sebagai PNS atau ASN-nya.

Baca Juga: Libur Maulid Nabi Digeser, Mengapa ASN Dilarang Ajukan Cuti dan Berpergian ke Luar Daerah

Karena kesungguhan itu, pekerjaan sang guru, yakni mengajar, menjadi lebih optimal. Murid pun sedikit banyak akan bangga, akan senang dengan kemampuan guru tersebut “membantunya” dalam belajar. “Guruku idolaku!”

Apakah karena Sekolahnya?

Sekolah di Indonesia sudah sejak lama “tersetting” ada sekolah favorit dan nonfavorit. Ada sekolah unggulan ada tidak. Ditambah lagi ada sekolah internasional dan lokal. Perbedaan jenis sekolah tersebut sedikit banyak berpengaruh terhadap psikis para “penghuninya”.

Siswa dan orang tua siswa menjadi lebih percaya dan bangga tentunya terhadap sekolah tersebut. Orang tua merasa prestasi anak dijamin bisa dicapai dengan level sekolahnya tersebut.

Baca Juga: Pemerintah Alokasikan Rp510 Miliar Pembangunan Ibu Kota Negara Tahap Satu

Sama halnya dengan siswa dan orang tua, kebanggaan ini terasa juga tentunya oleh guru-gurunya. Honor yang tidak seperti sekolah umumnya dan status sekolah yang keren tidak menutup kemungkinan menjadi prestise sang guru.

Namun, apakah ini prestise atau wibawa yang memang harus ditonjolkan oleh sang guru. Tentu tidak. Menjadi pengajar level atas di sekolah yang elite adalah justru tantangan seorang guru. Bukan prestise yang kemudian dijadikan kesimpulan sang guru sudah keren, sang guru sudah jenius.

Kalau memang sekolah dijadikan prestise, bagaimana dengan guru-guru yang mengajar di pedalaman. Guru-guru yang mengajar di hutan. Guru-guru yang mengajar tanpa digaji. Guru-guru yang mengajar di daerah terpencil.

Baca Juga: Penyelesaian Pembangunan Mega Proyek Tahun 2021 di Kabupaten Batang Hari Akan Terlambat, Kenapa?

Apakah mereka justru lebih keren daripada guru yang mengajar di lokasi yang aman nyaman tersebut?

Menjadikan status sekolah sebagai tantangan mengajarlah justru yang merupakan “kebanggaan” seorang guru. Dengan begitu, dia harus belajar dan belajar untuk menghadapi tantangan tersebut.

Apakah karena Bidang Studinya?

Lalu, apakah karena bidang studinya sang guru dianggap keren? Karena beliau mengajar Matematika, sang guru dicap paling pintar. Karena mengajar Sains, sang guru dicap paling jenius. Paling tahu banyak hal. Apakah seperti ini?

Baca Juga: Waduh, Data KTP dan Foto Selfie Nasabah Pinjol Ternyata Dijual Oleh Oknum Lewat Aplikasi Telegram

Tentu tidak. Guru Matematika belum tentu bisa menulis artikel dengan baik dan benar seperti guru Bahasa Indonesia. Guru IPA belum tentu paham biografi pahlawan seperti guru IPS. Juga guru-guru lainnya yang tentunya masing-masing punya “kepintarannya” sendiri-sendiri.

Dengan begitu, bukan prestise ketika guru mengajar bidang tertentu. Yang seharusnya dianggap keren adalah ketika sang guru terus belajar. Sang guru terus meningkatkan kemampuannya dalam bidangnya.

Karena itu, mengajarnya pun menjadi lebih baik lagi. Siswa lebih paham lagi. Soal-soal yang sulit gampang dijawab karena memang penjelasan dan pemahaman sang guru makin oke.

Baca Juga: PT Balairung Citrajaya Sumbar Diaudit BPK, Ada Temuan Masalah Lho, Apa Saja Ya?

Ada pepatah, when you stop learning, you stop growing. Ketika kamu berhenti belajar, kamu berhenti tumbuh. Guru yang berhenti belajar adalah guru yang berhenti untuk berkembang, yang berhenti untuk menjadi keren, yang berhenti untuk menjadi kebanggaan atau prestise.

Maka dari itu, belajarlah. Meminjam ungkapan Ibu Guru dari SMA PI Bandung, Ibu Nadia Cassinie, beliau berkata, “Guru yang belajar yang pantas mengajar”.

Jadi, Apa Prestise Seorang Guru?

Di awal tulisan sudah disinggung beberapa hal yang seharusnya menjadi prestise seorang guru. Bukan hal-hal yang sifatnya “duniawi”. Apa hal itu?

Baca Juga: BPK: Pembayaran Tujuh Paket Pekerjaan pada Tiga OPD di Pemkab Agam Tidak Sesuai Kontrak, OPD Mana Saja Ya?

Pertama, kesungguhan mengajar. Karena dengan kesungguhan mengajar siswa akan bangga kepada gurunya.

Kedua, menganggap status sekolah sebagai tantangan adalah prestise berikutnya. Dengan begitu, guru akan terus meningkatkan kemampuan dirinya dengan belajar dan belajar.

Ketiga, terkait belajar dan belajar ini pun adalah prestise atau hal yang bisa dibanggakan dari seorang guru. Dengan belajar, guru semakin berkembang. Guru semakin keren. Guru semakin rendah hati.

Baca Juga: Nasib Mantan Pegawai KPK Gagal TWK, dari Pendidik Pesantren Hingga Jualan Nasi Goreng

Beberapa hal tersebut adalah hal yang sebenarnya menjadi kebanggaan sang guru. Dari hal-hal tersebut lahirlah siswa-siswa yang memiliki potensi. Siswa-siwa yang baik ilmunya, baik akhlaknya. Dengan kata lain, guru memberikan manfaat yang teramat banyak bagi siswa dan lingkungan.

Dan kebermanfaatan sang guru itulah yang justru menjadi “prestise utama” sang guru. Sebagaimana hadis, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Anda bangga menjadi guru?***

Apabila artikel ini menarik, mohon bantuan untuk men-share-kannya kepada teman-teman Anda, terima kasih.

DISCLAIMER: Artikel ini adalah sebuah opini sehingga isi artikel ini tidak mengekspresikan pandangan dan kebijakan redaksi klikanggaran.com

 

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pentingnya Perencanaan Tenaga Kerja di Perusahaan

Jumat, 19 November 2021 | 18:32 WIB

Mengenali Penyakit-Penyakit Batin

Sabtu, 6 November 2021 | 13:45 WIB

Menyamakan Editor dengan Polisi Saltik: Anda Waras?

Selasa, 2 November 2021 | 15:57 WIB

Keikutsertaan Lendir dalam Sebuah Karya Sastra

Selasa, 2 November 2021 | 12:24 WIB

Revolusi Bahasa

Sabtu, 30 Oktober 2021 | 15:57 WIB

Jangan Meletakkan Kebahagiaan di Mulut Orang

Jumat, 29 Oktober 2021 | 14:03 WIB

Makna Sumpah Pemuda buat Pejabat

Jumat, 29 Oktober 2021 | 06:26 WIB

Makna Sumpah Pemuda buat Milenial Kekinian

Selasa, 26 Oktober 2021 | 19:39 WIB

MBOK GINAH, LEO KRISTI DAN YEHUDI MENUHIN (2)

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:27 WIB
X