• Rabu, 19 Januari 2022

Kata Kuntowijoyo, (Laki-Laki) 'Dilarang Mencintai Bunga-Bunga', ketika Ayah Menjadi Pusat Hidup

- Jumat, 8 Oktober 2021 | 15:26 WIB
Ilustrasi: seorang anak (dok Sri Puspa O)
Ilustrasi: seorang anak (dok Sri Puspa O)


Bekasi, Klikanggaran.com-- Cerpen 'Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijaya' adalah cerpen yang bertema tradisional pada zamannya.

Cerpen 'Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijaya' ini menggambarkan paradigma yang telah terbentuk sesuai pakem-pakem yang berkembang pada zaman dulu.

Dalam cerpen 'Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijaya', seorang laki-laki harus bekerja, yang makna bekerjanya merujuk pada pekerjaan fisik.

Baca Juga: Jokowi Dibilang Jenius oleh Profesor Luar Negeri, Rocky Gerung pun Meradang, Kita Harus Malu, Lho?

Pun seorang anak harus mewarisi latar belakang ayahnya tanpa tedeng aling-aling, anak harus sama dengan profesi ayahnya.

Seorang ayah yang mungkin digambarkan sebagai seseorang yang kehilangan banyak kelembutan sehingga hanya menjadi figure otoriter untuk anaknya.

Sementara itu, seorang ibu adalah figur penetral dalam sebuah keluarga. Seorang wanita yang hanya akan manut dengan keputusan suaminya.

Baca Juga: The Genius of Jokowi, Profesor Univeristas Nomor 98 Dunia Itu Menyanjung Jokowi, Sementara di Sini? Tahu kan?

Cerpen ini, menurut saya, tidak berhenti hanya dalam ranah kritik sosial pada kaum Weberian atau kaum kapitalis.

Lebih dari itu, saya menangkap pesan lain dari cerpen ini. Mungkin saya akan memandang dari sudut religiusitas.

Pada sisi tokoh ibu, saya merasa cerpen ini memberikan pesan mendalam tentang bakti seorang istri kepada suaminya dan pengajaran seorang ibu kepada anaknya.

Baca Juga: Aktor Film Indonesia Yayan Ruhian Kembali Bermain Film Produksi Hollywood, Boy Kills World.

Bagian ketika Ibu menyambutku dengan ramah. “Jangan membantah ayahmu, Nak. Cepatlah mandi. Ah, hampir lupa: Kau harus mengaji" menggambarkan tokoh ibu yang berbakti kepada suaminya.

Tokoh ibu digambarkan sebagai objek yang manut yang sepakat dengan paradigma suaminya tentang laki-laki yang tidak boleh suka dengan bunga-bunga.

Satu sisi lain, tokoh ibu digambarkan sebagai pusat religiusitas keluarga yang mengajarkan bahwa seorang anak tidak boleh membantah ayahnya, selama keinginan ayahnya tersebut tidak keluar jalur.

Baca Juga: Sebanyak 26 Desa Persiapan di PALI Kejepret Bantuan Rp100 juta, Mantap dan Masya Allah

Tokoh ibu juga digambarkan sebagai penggerak jiwa agamais Si Buyung dengan menyuruhnya mengaji.

Sebenarnya, saya menangkap maksud yang baik dari sikap Sang Ayah kepada Buyung.

Sebagai seorang Bapak, tokoh Ayah tidak ingin anaknya out of frame dari tanggung jawab sebagai laki-laki.

Baca Juga: Tiga Hari Pencarian, Korban Bunuh diri Terjun ke Sungai Serayu Ditemukan

Pada zaman itu frame laki-laki digambarkan dengan badan yang keras besar dengan tangan yang kotor—tanda dia bekerja membanting tulang—menyukai hal-hal yang berbau keras dan tegas. Sementara itu, pandangan tentang laki-laki yang menyukai bunga dimaknai dengan laki-laki yang lemah, kemayu, dan melankolis.

Dengan demikian, pikiran positif saya beranggapan bahwa Sang Ayah tidak mau Buyung menjadi seseorang yang tidak tegar—walaupun memang caranya salah karena kasar.

Saat membaca cerpen Kuntowijaya ini—dari sudut pandang Buyung—saya teringat dengan anak laki-laki saya yang pertama.

Baca Juga: RDMP Pertamina Balikpapan Bisa Menjadi Kasus Besar, Salamuddin Daeng: Penegak Hukum Harus Usut Tuntas

Kesan seorang anak pasti akan berbeda dengan orang tuanya saat melihat objek yang sama.

Lalu, kesan itu pun nantinya akan melahirkan pandangan yang berbeda tentang suatu objek itu.

Saya merasakan bahwa pandangan saya terhadap sesuatu jauh berbeda dengan apa yang dirasakan anak saya.

Baca Juga: Anda Perlu Senjata Api dan Perlengkapan Militer buatan Amerika Serikat? Di Afganistan Dijual Bebas Tuh

Pun dengan yang tergambar dalam cerpen ini, saya pikir Buyung beranggapan bahwa menyukai bunga adalah hal yang wajar—meski dia notabenenya laki-laki.

Menurut Buyung kedamaian jiwa adalah segalanya yang tecermin dari pemandangan damai bunga-bunga yang segar di dalam air dan semerbak wanginya.

Untuk tokoh Kakek, sebenernya saya masih menduga-duga banyak hal tentang beliau.

Baca Juga: Jabar di Puncak Klasemen Perolehan Medali PON XX Papua, Semoga Terus Bertahan Hingga PON Berakhir!

Satu sisi saya membenarkan tokoh Kakek yang mengajarkan Buyung perihala kedamaian jiwa karena saya pikir Kakek adalah tokoh yang sudah sepuh. Selayaknya seseorang yang sudah senja, dunia bukanlah tujuan—benar sekali.

Pada akhirnya, akhirat adalah tujuan akhirnya.***

Apabila artikel ini menarik, mohon bantuan untuk men-share-kannya kepada teman-teman Anda, terima kasih.

 

 

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menikah atau Tidak Menikah?

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:03 WIB

Melepas Keriuhan, Menyambut Keheningan

Selasa, 4 Januari 2022 | 16:27 WIB

Pemikiran Gus Dur dalam Pergerakan PMII

Kamis, 30 Desember 2021 | 19:39 WIB

Relasi Sinergis Nahdlatul Ulama-Partai Gerindra

Minggu, 19 Desember 2021 | 12:42 WIB

Jangan Stigma Negatif Pesantren

Sabtu, 11 Desember 2021 | 21:25 WIB

Mengulik Makna Selangkangan

Senin, 6 Desember 2021 | 17:28 WIB

Pentingnya Perencanaan Tenaga Kerja di Perusahaan

Jumat, 19 November 2021 | 18:32 WIB
X