• Senin, 24 Januari 2022

Menengok Kompleksitas Dunia Wanita pada Masa Lalu

- Rabu, 6 Oktober 2021 | 15:09 WIB
Ilustrasi: perempuan Indonesia berhijab (Pixabay/Afik_eleck)
Ilustrasi: perempuan Indonesia berhijab (Pixabay/Afik_eleck)

Jakarta, klikanggaran.com--- Dunia wanita adalah dunia yang kompleks sehingga tidak mudah dipahami, sebagian orang berpendapat demikian.

Pada kenyataannya, tidak hanya ada pada zaman kekinian, kompleksitas dunia wanita juga telah terjadi sejak zaman wanita diciptakan pertama kalinya.

Lho, kok bisa bukankah zaman dahulu kehidupan tidak serumit sekarang sehingga wanita pun tentu tidak mengalami kompleksitas seperti sekarang?

Yuk, ah, kita tengok para wanita masa lalu, kita akan dapatkan hikmah di dalamnya.

Baca Juga: Dipecat dari Partai, Empat Anggota PDIP Gugat Megawati Rp40 Miliar.

Sebagai wanita pertama di dunia, Hawa dihadapkan pada kondisi penantian panjang.

Kala itu, perpisahan Hawa dengan Nabi Adam terjadi akibat kekhilafan yang mereka lakukan.

Nabi Adam yang kala itu dinobatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagi khalifah di bumi mendapatkan penentangan dari iblis. Iblis yang merasa tersaingi membuat sebuah tipu daya agar Nabi Adam tersesat.

Akhirnya, dengan berbagai tipu daya yang dilancarkan iblis, Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke muka bumi.

Allah menurunkan keduanya bukan di tempat yang sama.

Baca Juga: Utang BRI China Kian Berat, Negara Pengutang Berani Batalkan Proyek Lho, Bagaimana dengan Indonesia?

Berdasarkan studi pustaka yang dilakukan para ilmuwan diketahui bahwa Nabi Adam diturunkan di India, sedangkan Hawa diturunkan di Jeddah.

Penantian panjang dialami Hawa kala itu hingga pada akhirnya Hawa bertemu Adam di Arafah, tepatnya di Jabal Rahmah.

Asiyah istri Fir’aun dapat pula dijadikan salah satu contoh gambaran kompleksitas wanita.

Asiyah adalah salah satu wanita yang dijamin masuk surga.

Diriwayatkan oleh ummul Mukminin, A'isyah radhiyallahu 'anha dalam Hadits Riwayat Hakim dan dinilai Shahih oleh ad-Dzahabi sesuai syarat Muslim bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah."

Baca Juga: Pernah Sesumbar Ramalkan Kematiannya, Eh.. Diterpa Isu Meninggal Roy Kiyoshi Ngamuk

Asiyah binti Muzahim adalah seorang ratu dari seorang raja yang besar kala itu, Fir’aun alias Pharaoh alias Ramses II. Asiyah adalah istri yang sangat dicintai Fir’aun. Apa pun keinginan Asiyah, Fir’aun selalu mengabulkannya walaupun hal itu tidak sesuai dengan kehendaknya, misalnya ketika Asiyah menginginkan Musa untuk dijadikan anak angkat keduanya.

Meski menjadi istri Fir’aun, Asiyah kerap tidak setuju dengan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan suaminya.

Sampai pada Nabi Musa AS datang membawa wahyu dari Allah swt, Asiyah dihadapkan pada kondisi rumit.

Beliau menyembunyikan imannya kepada Allah swt dari suaminya yang notabene telah menobatkan dirinya sebagai tuhan.

Baca Juga: Penyakit Menular Baru yang Disebabkan oleh Virus Ditemukan di Jepang

Keteguhan Asiyah dalam mempertahankan keimannya tergambar dari salah satu ayat Al-Qur’an, yaitu Surah At-Tahrim Ayat 11, “Dan Allah membuat isteri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”

Cerita lainnya yang menggambarkan komplesitas wanita adalah gambaran kehidupan Ummul Mukminin, Khadijah bintu Khuwailid.

Khadijah radhiyallahu anha adalah istri Rasulullah saw yang berasal dari keluarga revolusioner yang sangat dihormati di kalangan Quraisy.

Baca Juga: Pemberdayaan Ekonomi pada Pertanian Hortikultura, Prudential Syariah Hadir di Desa Tani Dompet Dhuafa

Khadijah ra adalah sosok wanita yang cakap dan tegas. Kecakapan dan ketegasan Khadijah ra menjadikannya seorang pengusaha wanita yang sukses dan disegani.

Hingga pada akhirnya Ummul Mukminin, Khadijah ra, menikah dengan Rasulullah saw.

Beliau, Ummul Mukimini, mendampingi Rasulullah saw dalam suka dan duka, terlebih lagi ketika Rasulullah saw menyebarkan dakwah Islam untuk pertama kalinya. Beliau, Ummul Mukimini, menyerahkan jiwa dan raganya dalam mendukung dakwah Islam yang dilakukan suami tercinta.

Baca Juga: Setelah WhatsApp Down, Sepertinya Anda Perlu Membaca Ini

Oleh sebab itu, sosok Khadijah ra sangatlah penting bagi Rasuulullah saw. Bahkan, tahun meninggalnya Khadijah ra diistilahkan dengan tahun kesedihan bagi Rasulullah saw.

Wanita adalah sosok mulia yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an Surah An-Nissa.

Wanita merupakan al-ummu madrasatul ula, iza a'dadtaha a'dadta sya'ban thayyibal a'raq ‘ibu merupakan madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya’. Apa pun kondisi yang dialami, wanita tetaplah berharga.

Tanpa wanita, keberlangsungan hidup manusia mustahil terjadi.***

-----------

Artikel ini merupakan oini yang ditulis oleh Sri Puspa Oktaningrum, praktisi pembelajaran bahasa Indonesia.

Apabila artikel ini menarik, mohon bantuan untuk men-share-kannya kepada teman-teman Anda, terima kasih.

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menikah atau Tidak Menikah?

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:03 WIB

Melepas Keriuhan, Menyambut Keheningan

Selasa, 4 Januari 2022 | 16:27 WIB

Pemikiran Gus Dur dalam Pergerakan PMII

Kamis, 30 Desember 2021 | 19:39 WIB

Relasi Sinergis Nahdlatul Ulama-Partai Gerindra

Minggu, 19 Desember 2021 | 12:42 WIB

Jangan Stigma Negatif Pesantren

Sabtu, 11 Desember 2021 | 21:25 WIB

Mengulik Makna Selangkangan

Senin, 6 Desember 2021 | 17:28 WIB

Pentingnya Perencanaan Tenaga Kerja di Perusahaan

Jumat, 19 November 2021 | 18:32 WIB
X