• Selasa, 18 Januari 2022

Orang-Orang Oetimu: Timor, Sopi, dan Takdir Sersan Ipi dalam Sepenggal Kisah

- Kamis, 30 September 2021 | 13:05 WIB
Sampul Orang-orang Oetimu (dok. Moy)
Sampul Orang-orang Oetimu (dok. Moy)


Jakarta, Klikanggaran.com-- Kisah yang cukup padat. Begitu yang muncul dalam benak saya selepas membaca kisah Sersan Ipi dalam Orang-Orang Oetimu. Saya jarang mendapat buku yang berkisah soal tanah Timor dengan segala keeksotisannya, meskipun kerap mengikuti perjalanan Bu Erna Gunawan (penulis novel Gerimis di El Tari) yang mengambil studi tentang penduduk yang hidup di sana. Satu kata untuk Timor dalam benak saya: indah.

Oetimu adalah sebuah wilayah kecil di pelosok Nusa Tenggara Timur. Dalam cerita yang dirangkai Felix, Oetimu adalah wilayah yang damai, jauh dari ingar-bingar perkotaan yang membikin pusing, meskipun tak pelak terkena imbas apa pun yang terjadi di tanah Jawa. Oetimu adalah representasi Timor yang tenang dan bersahabat. Paling tidak, begitulah yang dirasakan Laura, ibu dari Sersan Ipi, ketika memutuskan hidup sebentar sebelum mati demi terlahirnya pahlawan dari Oetimu.

Kita mungkin sepakat bahwa alam negeri ini dipenuhi tempat-tempat indah, sekalipun itu bentang gersang berdebu seperti tanah Timor. Lewat hamparan sabana mahaluas, alam Timor seolah-olah menyimpan kekuatan tak kasatmata yang bekerja bahkan tanpa diminta. Kekuatan yang akan membantu manusia-manusia menjalani hidup meski dalam kondisi pelik. Setidaknya, sopi dapat membantu meringankan kepelikan itu.

Baca Juga: Anda Mau Bersedekah ? Cukup Klik saja di Aplikasi I-Warga, Purwokerto menjadi kota pertama yang memakai IOT

Bicara sopi, bicara teman tanpa nada protes. Sopi tidak hanya berperan sebagai sebuah minuman tradisional rakyat Timor. Sopi adalah sebuah identitas. Sebagai teman tanpa nada protes, ia siap menghangatkan suasana, membantu menunda masalah, dan menemani sampai tak terbatas waktu. Sopi akan selalu ada, seperti juga leluhur yang selalu menemani.

“Leluhur tidak pernah meninggalkan bunga dan akar-akarnya.” (halaman 48)

Memakai alur mundur, novel ini dibuka dengan kisah Sersan Ipi yang menjamu para lelaki satu kampung untuk menonton final Piala Dunia. Orang-orang Oetimu mengidolakan Ronaldo. Jadi, jika giliran Brazil tampil, mereka akan bersukacita dalam kebersamaan. Dan, sopi.

Maka, berkumpullah mereka di rumah—sekaligus pos polisi—yang ditempati Sersan Ipi. Mereka larut dalam kebersamaan, tak sadar jika ada sekelompok orang bayaran yang tengah mengincar Martin Kabiti.

Baca Juga: Atlet Judo Ini Meraih Medali Perunggu sekalipun Cedera Dislokasi Tulang di Bahu, Masya Allah

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menikah atau Tidak Menikah?

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:03 WIB

Melepas Keriuhan, Menyambut Keheningan

Selasa, 4 Januari 2022 | 16:27 WIB

Pemikiran Gus Dur dalam Pergerakan PMII

Kamis, 30 Desember 2021 | 19:39 WIB

Relasi Sinergis Nahdlatul Ulama-Partai Gerindra

Minggu, 19 Desember 2021 | 12:42 WIB

Jangan Stigma Negatif Pesantren

Sabtu, 11 Desember 2021 | 21:25 WIB

Mengulik Makna Selangkangan

Senin, 6 Desember 2021 | 17:28 WIB

Pentingnya Perencanaan Tenaga Kerja di Perusahaan

Jumat, 19 November 2021 | 18:32 WIB
X