• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Klikanggaran.com (02-05-2018) -  Hari Pendidikan Nasional itu ibarat musim. Hari ini saatnya telah tiba untuk diperingati dan dirasakan oleh bangsa Indonesia, esok hari akan terganti dan kembali senyap dengan membawa sejuta perubahan atau tidak sama sekali.

Begitu pula pada tempo dulu, seorang Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, mampu membawa secercah harapan dan perubahan bangsa ini, dengan menentang kebijakan pendidikan pemerintahan Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Ditambah lagi, salah satu cita-cita luhur bangsa Indonesia ini telah tersurat di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat. Yaitu bertujuan untuk "mencerdaskan kehidupan bangsa". Artinya, pendidikan adalah hak semua warga negara Indonesia.

Tapi, itu hanyalah dulu, di saat musim tersebut membawa berkah bagi kehidupan bangsa. Namun, saat ini musim pendidikan begitu mengalami kesenjangan. Pendidikan hanya menyeleksi bagi yang banyak duit dan mereka yang pintar.

Bahkan untuk masuk sebuah di universitas pun, kesenjangannya pun terasa menusuk ulu hati. Ujian masuk tes tidak lain merupakan sebuah saringan untuk menyeleksi mereka yang pintar-pintar. Setelah lolos dari tes masuk universitas mereka yang pintar akan dididik dan terus melejit. Sedangkan yang tidak punya duit dan yang tidak pintar dengan sendirinya akan terasing.

Di mana ruh semangat "mencerdeskan kehidupan bangsa"? Apa yang diperingati dari Hari Pendidikan Nasional jika semangat Ki Hajar Dewantoro hanya pada musim tempo dulu saja digelorakan?

Belum lagi persoalan kesejahteraan guru. Mereka yang menjadi guru, berprofesi sebagai tenaga pengajar dan pendidik, mempunyai peran mencerdaskan kehidupan bangsa, malah mendapatkan upah yang tak layak. Sakit menyiksa diri, di saat orang yang berperan mencerdaskan kehidupan bangsa kesejahteraannya terenggut.

Bukan persoalan ikhlas atau tidak ikhlas dalam pengabdian, tapi miris rasanya jika melihat honor guru yang kebanyakan masih lebih kecil ketimbang honor seorang artis yang telah banyak merusak moral bangsa Indonesia. Pejabat yang masih banyak kerjanya hanya memakan gaji buta dari uang rakyat, hingga para koruptor yang masih berkeliaran dimana-mana dan masih membuat kebijakan yang mempersulit pendidikan.

Mungkin saja, musim itu akan berlalu dan berganti saat ada seorang Bapak Pendidikan kedua yang mampu menentang sistem pendidikan dan kebijakan yang tidak sesuai dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...