• Rabu, 29 Juni 2022

Kejagung Selidiki Dugaan Korupsi Perum Perindo, Terdapat Piutang Macet Rp 181 Miliar

- Minggu, 29 Agustus 2021 | 15:48 WIB
Kapuspenkum Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak, memberikan keterangan kepada wartawan (Dok.Klikanggaran.com/Kejagung)
Kapuspenkum Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak, memberikan keterangan kepada wartawan (Dok.Klikanggaran.com/Kejagung)

Jakarta, Klikanggaran.com - Penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah menyidik dugaan perkara tindak pidana korupsi dalam pengelolaan keuangan dan usaha tahun 2016-2019 pada Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo). Pada perkara ini, penyidik mendalami piutang macet sebesar Rp 181,1 miliar di perusahaan itu, yang diduga sebagai akibat dari kontrol perusahaan yang lemah.

Pemeriksaan oleh Kejagung tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Perintah Penyidikan Nomor PRINT-25/F.2/Fd.2/08/2021 tanggal 2 Agustus 2021.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak, mengatakan, dugaan korupsi di Perum Perindo diduga berawal ketika perusahaan itu menerbitkan surat utang jangka menengah (medium term note/MTN) pada 2017.

Dari penerbitan MTN, lanjutnya, Perum Perindo mendapatkan dana MTN Rp200 miliar yang dicairkan pada Agustus dan Desember 2017.

Baca Juga: Perum Perhutani dan PTPN IX Mengalami Kerugian pada Divre Jateng, Ini Sebabnya

"Perum Perindo menggunakan sebagian besar dana tersebut untuk modal kerja perdagangan. Hal itu terlihat dari meningkatnya pendapatan perusahaan dari Rp 223 miliar pada 2016 menjadi Rp 1 triliun pada 2018. Kontribusi terbesarnya berasal dari pendapatan perdagangan," ujar Leonard dalam keterangannya, Jumat (27-8).

Dia menambahkan, pencapaian yang melibatkan semua unit usaha di Perum Perindo tersebut menimbulkan permasalahan kontrol transaksi perdagangan menjadi lemah.

"Perputaran modal kerja pun melambat dan akhirnya sebagain besar menjadi piutang macet," imbuhnya. "Kontrol yang lemah dan pemilihan mitra kerja yang tidak hati-hati menjadikan perdagangan pada saat itu, perputaran modal kerjanya melambat dan akhirnya sebagian besar menjadi piutang macet sebesar Rp181.196.173.783," lanjut Leonard.

Baca Juga: Perum Perhutani Kurang Memahami Potensi Hutannya, Kata Seorang Aktivis

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X