• Rabu, 8 Desember 2021

K-MAKI: Ada Apa dengan Kisruh Holding PT Pupuk Indonesia

- Kamis, 25 November 2021 | 16:09 WIB
Aktivis antikorupsi Sumsel, Ir Feri Kurniawan (Dok.Klikanggaran.com/BudiS)
Aktivis antikorupsi Sumsel, Ir Feri Kurniawan (Dok.Klikanggaran.com/BudiS)

KLIKANGGARAN-- Komunitas Masyarakat Anti Korupsi Independen (KMAKI) menyoroti kisruh Holding PT Pupuk Indonesia yang tak pernah usai dan terkesan mengungkap dugaan adanya ketidakberesan dalam manajemen PT Pupuk Indonesia.

"Sampai saat ini belum jelas proses hukum di Kejaksaan RI terkait dugaan korupsi ekspor pupuk di bawah harga ambang batas bawah atau COGS atau HPP", ujar Koordinator K-MAKI, Bony Bolitong.

Hal yang sama diungkapkan, Deputy K MAKI, Ir Feri Kurniawan. Dia menambahkan khawatir ekspor pupuk di bawah harga COGS dan merugikan Holding Pupuk Indonesia bukan hanya terjadi di PT Pusri tapi juga pada anak-anak perusahaan holding seperti di Pupuk Iskandar Muda, Kaltim dll.

"Sehingga kalau diakumulasikan mencapai triliunan rupiah", kata Deputy K-MAKI, Ir Feri Kurniawan dalam keterangannya diterima klikanggaran.com, Kamis, 25 November 2021.

Baca Juga: Kata KPK, jika Kepala Daerah Tersandung Korupsi, Inspektorat Mesti Bertanggung Jawab

Lanjut Fery, hal ini mungkin sudah terjadi beberapa tahun dan mungkin saja berdampak pada harga pupuk subsidi yang naik lebih dari 100%. Perkara dugaan korupsi di Bank Sumsel Babel mungkin juga dampak dugaan ketidakberesan manajemen anak usaha Holding Pupuk Indonesia.

"Direktur Keuangan BUMN PT Pupuk Indonesia Listiarini Dewajanti dikabarkan mengundurkan diri. Alasannya karena ingin berkiprah di masyarakat. Namun alasan ini terkesan klise yang diduga untuk menutupi ketidakberesan manajemen Holding Pupuk Indonesia," Fery menilai.

Dugaan korupsi pada Bank Sumsel Babel terkait PT Rekind yang diduga ingkar janji dengan sub kontraktor PT Gatramas Internusa (PT GI) dan akibatnya Komisaris PT Gatramas Internusa Agustinus Judianto terhukum 8 tahun dan denda 13,4 miliar pada putusan kasasi.

Baca Juga: Dugaan Korupsi di BUMD Kota Palembang Tengah Disorot KPK?

"Apakah karena ingin terlibat dalam kerugian sekitar Rp1,7 triliun yang diduga terjadi di PT Rekayasa Industri/Rekind anak usaha PT Pupuk Indonesia Dirkeu Holding undur diri", tanya Feri.

Beredar isu tak sedap kerugian ini akibat bisnis Holding PT Pupuk Indonesia dengan kakak Menteri BUMN yakni Garibaldi Thohir pada proyek pembangunan pabrik amonia di Banggai, tetapi isu ini menurut Feri perlu pembuktian.

"Namun yang pasti dalam setahun direktur keuangan berganti nyaris tiga kali. November 2020, Eko Taufik Wibowo menggantikan Indarto Pamoengkas. Delapan bulan kemudian (Juli 2021), Eko digantikan Listiarini Dewajanti.

Baca Juga: Kasus Pengeroyokan di Depan Hotel Resinda, Karawang: 1 Meninggal dan 7 Diamankan Polisi

Menurut Feri, urusan pupuk adalah urusan sensitif yang menyangkut subsidi langsung pemerintah Rp25 triliun per tahun. Anehnya terjadi kenaikan harga pupuk subsidi yang diduga karena core bisnis damping harga ekspor pupuk.

Pembangunan pabrik amonia senilai US$ 830 juta adalah fakta yang jelas berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas Pengendalian Biaya dan Manajemen Proyek Tahun 2016, 2017, dan 2018 pada PT Rekayasa Industri No. 15/AUDITAMA/VII/PDTT/06/2020 tanggal 10 Juni 2020.

Restatement atau penyajian kembali dalam Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Tahun 2020 dimana Laba tahun 2019 sebesar Rp3,7 triliun diubah menjadi Rp2,9 triliun.

Baca Juga: Penyedia Layanan Internet, PT Indosat Mega Media atau IM2 Akhir November Tutup, Kenapa Ditutup?

Agreement antara PAU dan Rekind tanggal 12 Agustus 2020 yang diteken oleh Chander Vinod Laroya (Presdir PAU) dan Yanuar Budinorman (Dirut Rekind) terkesan menyepakati berhentinya segala langkah hukum arbitrase maupun laporan pidana.

"KPK selaku institusi terdepan pemberantasan korupsi entah kenapa sepertinya diam membisu," Feri mengakhiri.***

Apabila artikel ini menarik, mohon bantuan untuk men0share-kannya kepada teman-teman Anda, terima kasih.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Sumber: rilis KMAKI

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X