• Rabu, 5 Oktober 2022

Imbas Konkret Virus Corona; Mahasiswa Pusing Kampus Pusing

- Jumat, 3 April 2020 | 22:23 WIB
farid UB (2) crop
farid UB (2) crop


  1. Mahasiswa yang sudah lulus ujian skripsi dan dijadwalkan wisuda di semester genap ini jadi tertunda. Mereka yang secara psikologis sudah siap jadi sarjana, terpaksa tertunda di wisuda.

  2. Mahasiswa semester akhir yang sedang skripsi pun mengalami kesulitan untuk melakukan penelitian ke lapangan. Akibat diimbau untuk jaga jarak atau physical distancing dan menghindari keramaian. Konsultasi bimbingan skripsi dengan dosen pembimbing pun terganggu. Mau ganti judul khawatir tidak selesai, tidak ganti judul tapi tidak bisa meneliti ke lapangan.

  3. Mahasiswa yang kost, pasti pusing tujuh keliling menghadapi keadaan ini. Mau pulang ke rumah orang tua, takut bahaya virus corona. Bila tetap di kost-an pun tidak ngapa-ngapain. Mau gimana lagi?

  4. Dosen pun bisa bermasalah secara psikologis. Karena sehari-harinya mengajar dan ber-aktivitas di kampus. Tapi sekarang harus drop, tidak ke kampus dan hanya #DiRumahAja. Bisa jadi, jenuh dan gelisah. Bila mengajar daring pun, pastinya tidak optimal.

  5. Perguruan tinggi apapun, suka tidak suka, direpotkan akibat wabah virus corona ini. Secara jujur, virus corona ini kejadian luar biasa dan tidak pernah diduga hingga begini. Alhasil, banyak protokol kuliah dari rumah yang belum memadai. Mulai dari presensi, UTS, UAS, dan sebagainya.  


 


Bisa jadi, wabah virus corona ini akan dikenang sepanjang sejarah dunia mahasisa dan perguruan tinggi di Indonesia. Karena sebelumnya, tidak pernah terjadi “musibah wabah penyakit” yang bikin pusing semua pihak semua orang, bahkan semua negara. Termasuk para mahasiswa, dosen dan kalangan perguruan tinggi.


 


Wabah virus corona bikin pusing. Mahasiswa, dosen dan kampus sendiri.


Tapi sebagai insan akademis, tentu solusi terbaik pasti sudah disiapkan oleh kampus masing-masing. Dan semua berjalan sesuai dengan acuan yang ditetapkan. Karena itu mahasiswa, dosen dan kalangan perguruan tinggi tidak akan menyerah. Apapun alasannya, tradisi akademik harus tetap tegak berdiri di kampus. Hanya saja, wabah virus corona ini akan sangat dikenang sepanjang masa.


 


Apa hikmahnya bagi mahasiswa dan perguruan tinggi?


Hikmah terbesar adalah ilmu dan pengetahuan itu tidak ada yang ajeh, tidak ada yang stagnan. Ilmu selalu berdinamika. Selalu ada yang baru. Maka mahasiswa dan perguruan tinggi “ditantang” oleh wabah virus corona. Untuk lebih inovatif dan kreatif, bukan sebaliknya. Bayangkan di Indonesia saat ini, ada 8,2 juta mahasiswa dan hamoir 300.000 dosen yang terhimpun dalam 4.670 kampus atau perguruan tinggi. Maka potensi besar untuk lebih bisa memajukan bangsa Indonesia ada di pundak mereka. Bahkan penelitian untuk “mencari obat” wabah virus corona pun harusnya lahir dari kampus.


 


Hikmah lainnya, wabah virus corona inilah momentum untuk “berpikir jernih” tentang kebijakan “Merdeka Belajar - Kampus Merdeka” cetusan Mendikbud Nadiem Makarim. Sebuah perubahan paradigma pendidikan yang fundamental. Agar kampus menjadi  lebih otonom dengan kultur pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan fleksibel. Bahwa setiap setiap perguruan tinggi punya kebebasan untuk meramu kurikulum sesuai dengan visi dan misi-nya. Tidak lagi terbelenggu oleh kurikulum yang kaku, yang tidak asyik dan kurang menyenangkan.

Halaman:

Editor: Syarif Yunus

Tags

Terkini

Guru Amin: Ulama Betawi dan Pejuang Kemerdekaan

Minggu, 25 September 2022 | 16:07 WIB

CPM: TNI Solid, Effendi Simbolon Harus Meminta Maaf

Rabu, 14 September 2022 | 11:16 WIB

Ini 5 Macam Content Writer, Bidang Mana Pilihanmu?

Sabtu, 3 September 2022 | 21:51 WIB

5 Rahasia Sukses Content Writer, Mana Terpenting?

Sabtu, 3 September 2022 | 17:14 WIB
X