• Rabu, 8 Desember 2021

The Tomorrow War: SBY dan Pemanasan Global

- Minggu, 19 September 2021 | 09:52 WIB
Poster film The Tomorrow War (Instagram/thetomorrowwar)
Poster film The Tomorrow War (Instagram/thetomorrowwar)

Jakarta, Klikanggaran.com-- Film The Tomorrow War yang rilis 2 Juli 2021 lalu menuai banyak kritik dan mendapat ulasan negatif.

Sebanyak 25 dari 38 kritikus yang dihimpun laman agregator Rotten Tomatoes mengkritik film The Tomorrow War dengan total nilai 52 persen.

Di Indonesia, film The Tomorrow War juga menuai perbincangan hangat karena menampilkan figur SBY yang sedang berjabat tangan dengan mantan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown.

Beberapa kalangan mengaku bangga, beberapa mengecam. Bagaimana tidak? Lini masa yang digunakan dalam The Tomorrow War ini tampak mengganggu.

Baca Juga: PM Malaysia: AUKUS Akan Menjadi Katalis untuk Perlombaan Senjata Nuklir

Plot The Tomorrow War ini berlatar tahun 2022 ketika tiba-tiba, sekelompok tentara masa depan muncul dari sebuah asap dan meminta bantuan kepada manusia untuk berperang melawan alien yang memusnahkan sebagian besar populasi manusia 30 tahun mendatang.

Sontak, semua presiden menjalin dukungan, tak terkecuali SBY (bukan Jokowi) yang tampil sedetik dalam ulasan berita salah satu televisi. Ya, mengapa SBY yang ditampilkan, bukan presiden kita saat ini?

Namun, saya tak ingin membahas hal tersebut. Munculnya Presiden Indonesia di film Holywood memang patut menjadi perbincangan.

Dalam “The Tomorrow War, SBY yang tampil menimbulkan polemik, tidak hanya karena kesalahan riset, tetapi juga mengingat secara umum sangat sedikit film Hollywood yang menampilkan Presiden Indonesia dalam cuplikannya.

Baca Juga: Lagi-Lagi Kurang Volume Pekerjaan di Pemkot Tasikmalaya, yang Ini di Kecamatan Cihideung

Salah satunya pernah kita temukan dalam serial “The West Wing” tahun 1999 yang menceritakan kunjungan Presiden Indonesia ke White House.

Sekalipun mendapatkan rating yang kurang memuaskan, film ini mengangkat satu isu lingkungan yang tidak bisa kita kesampingkan.

Film itu menceritakan mengapa alien yang sudah mendarat di Bumi sejak 947 M baru menampakkan diri pada tahun 2050, ribuan tahun ke depan. Alasannya adalah pemanasan global.

Alien yang tertimbun ribuan tahun di kedalaman es di daerah Siberia, Rusia, mulai aktif karena mencairnya es di daerah tersebut. Film memang tetaplah film yang mengandung unsur fantasi.

Akan tetapi, munculnya bencana/wabah akibat pemanasan global sudah menjadi kekhawatiran para pakar dan aktivis lingkungan.

Baca Juga: Menerka Pemilu Bupati Kabupaten Bekasi: Politik Kekuasaan Tingkat Lokal

Menariknya, tahun 2050 yang digunakan dalam film tadi bukanlah angka sebarang. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), aktivitas manusia telah menyebabkan sekitar 1,0 oC pemanasan global di atas tingkat praindustri.

Jika pemanasan terus berlanjut pada laju saat ini, suhu akan mencapai 1,5 oC di atas level ini antara 2030 dan 2052. Ini akan membuat ratusan juta nyawa terancam. Bagi David Wallace-Wells, penulis buku Bumi yang Tak Dapat Dihuni, tahun 2050 adalah masa ketika kita akan melihat puluhan juta pengungsi akibat iklim dan masa ketika kita melihat dunia bertempur dengan ancaman eksistensial.

Union of Concerned Scientiest memperkirakan bahwa hampir 311.000 rumah di Amerika Serikat akan berisiko kebanjiran kronis pada 2045.

Pemanasan global memang telah menyebabkan perubahan-perubahan sistem terhadap ekosistem di bumi: perubahan iklim yang ekstrem atau mencairnya es sehingga permukaan air laut naik.

Baca Juga: Banjir Itu, Karena Penanganan Banjir di Pemprov DKI Jakarta Belum Mengacu pada Perencanaan yang Jelas?

Mencairnya es akibat pemanasan global ternyata tidak hanya akan menenggelamkan daratan yang kita kenal sekarang, tetapi juga membuka peluang munculnya wabah-wabah mematikan.

Sebagai contoh, untuk pertama kalinya dalam sejarah yang tercatat, hujan baru saja turun di puncak lapisan es Greenland. Dalam perspektif ekologi, ini merupakan pertanda buruk yang mengkhawatirkan.

Es adalah buku catatan sejarah planet. Es membekukan sejarah yang sebagian bisa dihidupkan lagi jika dicairkan. Ini bukanlah fiksi.

Pada 2005, bakteri ekstremofil berumur 32.000 tahun berhasil dihidupkan kembali. Bahkan, pada 2018, ilmuwan berhasil menghidupkan sesuatu yang lebih besar yang telah membeku di bawah es abadi selama 42.000 tahun: cacing.

Baca Juga: Ya Allah, Edi, Penderita Tumor Ganas, Hanya Bisa Terbaring Lemas. Yuk Galang Bantuan untuk Pengobatannya!

Wells (2019) menulis dalam bukunya bahwa Artika menyimpan penyakit-penyakit yang menakutkan. Di Alaska, para peneliti telah menemukan sisa-sisa flu 1918 yang menulari sampai 500 juta orang dan menewaskan 50 juta orang.

Para ilmuwan curiga bahwa penyakit cacar, pes, serta banyak penyakit lain yang telah menjadi legenda terjebak di es Siberia. Banyak hal yang belum kita pahami terkait wabah dan penyebabnya: bakteri, parasit, atau virus.

Perubahan iklim kemungkinan akan mengenalkan pada alam semesta penyakit baru ini yang belum pernah cukup dikenal manusia untuk dikhawatirkan.

Selama lebih kurang seratus tahun terakhir, suhu rata-rata di permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C.

Baca Juga: Pengen Bibir Merah Alami Kayak Artis Korea? Gini Caranya

Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi yang terjadi disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca akibat proses pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta akibat penggundulan dan pembakaran hutan: Apa kabar dengan moratorium sawit yang berakhir hari ini (19 September 2021)?

Sumber
Utina, Ramli. “PEMANASAN GLOBAL: Dampak dan Upaya Meminimalisasinya”. Universitas Negeri Gorontalo
Well, David Wallace. 2019. Bumi yang Tak Dapat Dihuni. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

---------

Artikel ini merupakan opini yang ditulis oleh M. Irfan Sulistya.

Isi artikel ini tidak mencerminkan pandangan dan kebijakan redaksi klikanggaran.com.

Apabila artikel ini menarik, mohon bantuan Anda untuk men-share kepada teman-teman Anda, terima aksih.

 

 

 

 

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inul Berduka, Ibu Mertua Meninggal Dunia

Kamis, 2 Desember 2021 | 13:28 WIB

Akun Baru Instagram Gong Yoo, Yuk Cek

Rabu, 1 Desember 2021 | 21:15 WIB

Ayah Vanessa Angel Bilang Besannya Temperamental

Minggu, 28 November 2021 | 19:24 WIB
X