• Kamis, 9 Desember 2021

Novel Melukis Langit 12, Satu Pintu Prahara Telah Terbuka

- Rabu, 24 November 2021 | 21:25 WIB
Novel Melukis Langit (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)
Novel Melukis Langit (Dok.klikanggaran.com/Blackrose)

KLIKANGGARAN – Malam telah menjelma dan saatnya pembaca untuk beristirahat. Tentu saja sambil membaca novel Melukis Langit. Semoga hari ini adalah hari yang indah untuk pembaca.

Letakkan seluruh beban di atas tiap aksara novel Melukis Langit di hadapan Anda. Melemaskan seluruh sendi agar rasa syukur kembali terhimpun dan kian liat.

Novel Melukis Langit sekali lagi, hanya mewakili para kisah dalam kehidupan. anda bisa menjadikannya sebagai salah satu sarana untuk belajar memaknai hidup.

Yuk, meluncur ke novel Melukis Langit bagian duabelas. Semoga pembaca menemukan sesuatu di dalamnya.

Baca Juga: Miris! Adik Kakak Bergantian Sepatu di Sekolah

Di langit sudah tertera gelombang biru dan mendung, sudah tercatat langit cerah dan hujan, dari rincian musim dan noktah, dan di sana kau ada, tak perlu lagi kau mainkan tarian kuasmu pada kanvas biru-Nya yang sudah terbingkai.

Jika musim sedang berganti dan memang harus berganti, itulah lukisan-Nya dan kau sudah ada di dalamnya, maka hentikanlah tangismu saat matahari menghilang, agar air mata tak menodai binar cahaya bintang, di ujung malam dan hitam, betapa indah lukisan-Nya

Seorang induk tak akan memupuk permusuhan yang sedang terhampar dan memanas, tapi mengapa di sini induk menerkam ganas, hingga angin pun terburai pilu

Apakah ketulusan ini hanya pura-pura tanpa kutahu? Hingga hukuman merajam hati, masih haruskah melewati beberapa ujian lagi, dan langkahku kian terpuruk

Haruskah menyudahi semuanya, agar segera terlihat adakah hati yang bening

*

Baca Juga: Dosen dan Mahasiswa Prodi MPI IAIN Ternate Laksanakan PkM di Kota Tidore

Puniawati mengemas barang-barang dengan hati gundah. Liburan yang sudah dia janjikan pada anak-anaknya tak bisa ditawar lagi. Sedangkan hatinya menatap bayangan kelam dalam mimpi-mimpi yang belakangan tak pernah berhenti singgah dalam tidurnya.

Entah ada hubungan atau tidak dengan mimpi itu, Puniawati sepanjang hari teringat pada usaha mereka yang ada di Surabaya. Tiga bulan sudah tim kerja di sana tidak mengirimkan laporan keuangan, dan dilihatnya Aji masih tenang-tenang saja.

Beban baginya bukan hanya karena semua harta dan uang simpanan sudah ditanamkan di sana, tapi juga karena pemegang kendali keuangan di usaha itu adalah adik iparnya, Bima Hatmadja. Puniawati tak ingin menambah catatan hitam mengenai diri dan keluarganya di mata keluarga Aji.

Peristiwa di kantor Aji yang melibatkan nama Reno sudah cukup membuat Puniawati merasa harus lebih berhati-hati. Entah kenapa, ingatannya setiap hari melayang pada pembicaraan dengan Aji beberapa tahun lalu mengenai perusahaan itu, setelah semua kendali usaha berpindah ke tangan Aji.

Baca Juga: Pembangunan RSUD Muara Beliti Diduga Tidak Akan Selesai Akhir Tahun, Pemkab Musi Rawas Diminta Cermat!

"Mas, apa tidak ditunda dulu menambahkan modal baru pada usaha di Surabaya?" tanya Puniawati saat itu.

"Kenapa harus ditunda? Saat ini usaha kita di sana mengalami kemajuan sangat pesat. Bima sudah memberikan rincian sasaran pasar yang akan dibidik, dan aku sudah menyetujui untuk menambah modal, sesuai dengan yang dia ajukan," jawab Aji penuh keyakinan.

"Tapi, apa perlu sampai menggadaikan rumah?"

"Kamu tenang saja, semua pasti beres. Aku sudah membuat analisa perputaran uang dan angsuran bank. Paling lama satu tahun aku sudah bisa menutup pinjaman bank, tanpa harus mengurangi laba."

Masih jelas dalam ingatan Puniawati, waktu itu Aji tersenyum puas dan bangga. Dia mencoba menjelaskan bagaimana usaha itu dulu dimulainya dengan modal sangat kecil. Puniawati bahkan ingin mengatakan, usaha itu adalah keberuntungan yang diberikan Allah karena keisengannya.

Baca Juga: Menko Polhukam dan Mendagri Kunjungi Pulau Sekatung dan Pulau Laut yang Berbatasan dengan Vietnam

Saat mengunjungi adiknya di Surabaya, secara tak sengaja Puniawati bertemu temannya. Mereka berbincang beberapa lama, kemudian dia melihat celah dan pasar usaha yang bagus. Awalnya Puniawati hanya bertujuan mengajari adik perempuannya, Melia, bagaimana menghasilkan uang di sela kesibukannya mengurus rumah dan anak.

Melia, istri Bima, akhirnya secara perlahan dapat mengembangkan usaha kecil-kecilan itu di bawah pengawasan Puniawati. Sampai akhirnya menjadi usaha yang menguntungkan juga bagi Puniawati. Setelah Aji memegang kendali seluruh usaha, posisi Melia akhirnya juga dialihkan ke Bima.

Tak ada yang keberatan sebenarnya mengenai hal itu. Hanya saja, Puniawati melihat Aji semakin jarang mengawasi usaha itu. Semuanya seperti diserahkan secara utuh pada Bima. Bahkan Puniawati melihat, Aji terus mengucurkan tambahan modal, tapi tanpa penambahan pengawasan.

Makin lama tim kerja di Surabaya makin jarang mengirimkan laporan keuangan dan Aji terlihat tidak berusaha menegur para pegawai di sana. Bahkan, ketika pada bulan kesekian tak ada laporan keuangan sama sekali, Aji pun tak pernah berkunjung ke sana.

Baca Juga: Semifinal, Kakak Adik, Muara Enim dan PALI Bertemu di Cabor Sepak Bola Porprov XIII OKU Raya

Bukan hanya rasa khawatir yang disimpan Puniawati, tapi mimpi-mimpi dan kelebatan-kelebatan bayangan mengenai usahanya itu makin sering mengintip tidurnya.

Puniawati merasakan tubuhnya melayang di sebuah lorong yang teramat sangat panjang. bahkan, seperti tak berujung. Di sepanjang sisi lorong dilihatnya ada banyak pintu tertutup rapat.

Puniawati ingin membuka salah satu dan mengintip ke dalamnya, tapi tubuhnya terus melayang. Di ujung lorong tubuh Puniawati berhenti dengan sendirinya, lalu sebuah pintu terbuka dan mengeluarkan asap tebal berwarna hitam.

Bersamaan dengan itu, Puniawati terbangun dari mimpinya. Begitu setiap malam, Puniawati merasakan dirinya seolah melihat sebuah pintu prahara akan segera terbuka untuknya.

"Aku ragu-ragu, Mas." Puniawati masih mencoba mengingatkan suaminya.

"Kapan sih, kamu nggak ragu?" jawab Aji saat itu.

“Perasaanku nggak enak.”

Baca Juga: Siapa Sih Zakry Sulisto yang Menikahi Velove Vexia?

“Serahkan semua padaku. Kamu tidak perlu banyak berpikir, apalagi ikut campur.”

“Perasaanku benar-benar nggak enak, Mas.”

“Kenapa lagi?”

"Mas Aji seperti terburu nafsu.”

Aji mendengus sambil mengangkat kedua alis matanya tinggi-tinggi.

“Tabungan kita sudah terkuras habis, Mas. Semua Mas masukkan ke sana untuk tambahan modal. Sekarang Mas Aji menambahkan modal lagi dengan menggadaikan rumah dan aset lain. Apa itu tidak berbahaya?"

"Kamu sudah mulai kehilangan naluri bisnismu rupanya." Aji tertawa, menatap Puniawati.

Baca Juga: Ramai Perdebatan Gara-Gara BTS Masuk Nominasi Grammy Award untuk Kedua Kalinya, Lho, Kenapa?

"Bukan begitu, Mas Aji terlalu banyak mempertaruhkan, kurasa. Aku merintis dan mengembangkan usaha itu perlahan dan sesuai kemampuan keuangan, nggak seperti ini."

"Kenapa kamu selalu saja ikut campur?" bentak Aji tiba-tiba. "Tak bisakah kamu percaya padaku? Biarkan aku memutuskan sendiri tanpa kamu ganggu dengan perasaan-perasaan nggak enakmu itu!"

Bersambung….

Mungkin teman Anda tertarik dengan novel ini. Mohon bantu share kepadanya, ya. Terima kasih telah menjadi pembaca setia klikanggaran.com*

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB

Cerpen: Pangeran Cinta

Selasa, 30 November 2021 | 19:44 WIB

Puisi: Diam Itu Membunuhku

Selasa, 30 November 2021 | 19:06 WIB

Surat Bersampul Hitam

Senin, 29 November 2021 | 12:10 WIB

Puisi Ingin Kau Tahu

Senin, 29 November 2021 | 11:37 WIB

Cerpen Batu Cinta

Sabtu, 27 November 2021 | 13:07 WIB

Novel Melukis Langit 11, Luka di Atas Luka

Rabu, 24 November 2021 | 20:47 WIB

CERPEN: Sapu Jagat

Kamis, 18 November 2021 | 06:13 WIB

Cerpen: Perjalanan Hati

Selasa, 16 November 2021 | 21:51 WIB

Hari Ayah dan Kado Cerpen Sang Ratu

Jumat, 12 November 2021 | 12:32 WIB
X