• Senin, 24 Januari 2022

CERPEN: Ketika Bila bertanya, 'Bu, Ayah Itu untuk Apa Sih?'

- Jumat, 12 November 2021 | 13:07 WIB
Ilustrasi (dok. Ratih_Sugi)
Ilustrasi (dok. Ratih_Sugi)


KLIKANGGARAN--Bila selalu terlihat bahagia. Dia sangat jarang menanyakan sosok ayahnya yang seharusnya ada dalam hidupnya. Menangis ya pasti tapi hanya ketika dia bertengkar dengan kakak atau adiknya. Aku heran begitu heran kepada Bila,apakah tak ada yang dia ingat tentang ayahnya? Apakah tak begitu melekat sosok ayahnya di hati dan pikirannya?

Almarhum pasti bangga melihat Bila tumbuh sehat dan bahagia. Memang tidak berprestasi tapi dia tak pernah mengeluh. Dia anak yang selalu mengerti aku dan anak yang penurut. Dikala keuangan sedang tak bergairah, dia mengerti bahkan seringkali mengingatkan kakaknya. Namun, entah mengapa kalimat yang sering dia ucapkan adalah "gak tahu"

Apakah sebegitunya hingga Bila sulit menjelaskan atas apa pun. Dia menjadi sulit untuk mengambil keputusan. Dia sunggguh pemalu. Dia tidak pernah nyaman dengan orang baru. Dia tidak nyaman dengan keramaian. Jika ada temannya main ke rumah, aku yang bahagia. Aku bahagia akhirnya dia punya teman. Ada apa dengannya?

Baca Juga: Puan Maharani Disindir Susi Pudjiastuti yang Diamini Fadli Zon, Lantas Netizen Menikmatinya

Siang itu, Bila duduk di atas ayunan. Katanya sih dia sedang menunggu tukang tahu bulat. Tapi kenapa wajahnya terlihat sedih dan hampa?

"Kamu kenapa kaka Bila? Kangen ayah ya?"

"Iya bu. Tapi aku lupa ayah itu seperti apa wajahnya. Aku lupa ayah pernah gendong-gendong aku. Aku gak inget ayah penah beliin tahu bulat. Aku lupa semua, Bu! Kan ibu selalu bilang, kalau dulu ayah suka beliin aku tahu bulat."

"Kamu gak inget? Beneran lupa?"

"Ya bu, tapi kok kaya ada yang ilang gitu loh"

"Apanya yang hilang?"

"Aku gak tahu bu. Ada yang hilang gitu. Ada yang kosong gitu dada aku."

Baca Juga: Hari Ayah dan Kado Cerpen Sang Ratu

Mataku tiba-tiba saja berderai dan memeluknya. Ah ternyata di hatinya ada yang hilang. Ah ternyata dia tidak mengerti tentang kehilangan. Dia tak ingat apa-apa padahal waktu itu umurnya 5 tahun ketika ditinggal ayahnya. Itulah kenapa dia menjadi pemalu, menutup diri, dan ada rasa takut di dirinya.

Jangan ya nak, jangan mencari sesuatu yang hilang itu di sosok laki-laki siapa pun. Ayahmu tidak ada yang bisa menggantikan. Yang hilang itu tetap akan hilang. Biarkan Allah yang mengisi kehampaan itu., batinku.

"Kaka jangan lupa berdoa terus yaaa. Jangan lupa sholat. Itu penting banget loh! Supaya hati kaka selalu terisi. Nanti kaka akan mengerti. InsyaAllah nanti Allah tolong supaya kaka mengerti."

"Aku bisa ketemu ayah gak bu?"

Baca Juga: Sekilas tentang Waskita Karya, Kondisi Keuangan Perusahaan

"InsyaAllah bisa. Ketemu di surga. Kaka banyak doain ayah ya. Kakak sholehah nanti masuk surga dan ketemu ayah."

Dia kemudian tersenyum dan kembali mengayunkan ayunannya. Tiba-tiba dia menatapku dan bertanya banyak hal.

"Bu, ayah itu untuk apa sih?"

Aku pun terbata-bata untuk menjawab.

"Ayah itu ada dalam sebuah keluarga. Ayah itu pemimpin. Ayah itu yang melindungi kita."

"Lalu kita gak ada yang pimpin dong!"

"Ada dong! Ibu pemimpinnya hehehhe. Gini loh ka, Kaka gak ada ayah itu berarti udah Allah pilih. Ayah gak sama-sama kita itu maunya Allah. Maka semua udah Allah siapin untuk kita. Tetap bahagia dan bersyukur ya" jawabku dengan suara yang kurang begitu jelas karena air mata sulit dibendung.

Baca Juga: Avanza Veloz Tawarkan Fitur dan Teknologi Tercanggih di Kelasnya

Tak lama teleponku berbunyi.

"Hai, Ca! Aku memutuskan bercerai dengan istriku! Dia susah diatur! Bagaimana menurutmu?"

"Jangan pernah memutuskan untuk bercerai. Ingat anak-anakmu. Turunkan ego kalian. Jangan kamu bilang sudah tak cinta lagi! Ingat anak-anak! Kamu lihat deh mereka? Terlihat ceria tapi kamu tahu apa yang ada di dalam hatinya nanti. Luka batin yang tak mungkin sembuh! Kamu lihat anak-anakku yang ditinggalkan ayahnya. Ternyata mereka seserius itu hatinya. Perceraian kamu akan menjadi masalah besar untuk mereka. Istrimu hanya sulit diatur maka kamu yang harus diperbaiki! Jadilah ayah yang hebat!"

Aku langsung menutup teleponnya dengan sesak di dada dan tangis yang semakin tak karuan.***

Apabila artikel ini menarik, mohon bantuan untuk men-share-kannya kepada teman-teman Anda, terima kasih.

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerpen Ramli Lahaping: Segitiga Pembunuhan

Jumat, 21 Januari 2022 | 12:34 WIB

CERITA ANAK: Kerang untuk Damar

Minggu, 9 Januari 2022 | 16:11 WIB

CERPEN: Dekap Hangat yang Selamanya

Sabtu, 1 Januari 2022 | 11:43 WIB

Tiga Puisi Karya ALfi Irsyad Ibrahim

Jumat, 24 Desember 2021 | 18:52 WIB

Cerbung: Kabut Pembatas Dua Hati

Minggu, 19 Desember 2021 | 13:29 WIB

Cerbung Kabut Pembatas Dua Dunia

Jumat, 17 Desember 2021 | 20:05 WIB

Cerbung: Tanda Cinta di Wajah Pias

Rabu, 15 Desember 2021 | 18:28 WIB

Cerbung: Wajah Pias dalam Pelukan

Selasa, 14 Desember 2021 | 21:26 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Hati Venerose

Kamis, 9 Desember 2021 | 18:06 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Antara Dua Hati

Kamis, 9 Desember 2021 | 17:40 WIB

Puisi untuk Sahabat

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:52 WIB

Puisi: Aku Adalah

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:32 WIB

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB
X