• Rabu, 26 Januari 2022

CERPEN: Pertemuan Kedua

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 18:53 WIB
Ilustrasi (dok. Sekar_Mayang)
Ilustrasi (dok. Sekar_Mayang)

 

Klikanggaran.com-- Hidup adalah tentang pertemuan-pertemuan. Bertemu orang lain, bertemu dengan hewan yang akan jadi peliharaan, bertemu tanaman yang bisa membangkitkan suasana baik pada hati, bertemu pekerjaan yang mendatangkan keuntungan, juga bertemu dengan belahan jiwamu. Pertemuan-pertemuan itu tidak pernah bisa kita rancang. Maksudku, tentu kita merencanakan sesuatu, tetapi jarang yang bisa berjalan sesuai dengan perkiraan.

Tidak percaya? Oke, akan kuceritakan satu hal. Ini tentunya tentang sebuah pertemuan. Sebuah peristiwa yang kukira tidak akan pernah aku alami. Aku bertemu dengan malaikat.

Aku duduk di bangku panjang, dingin, dan sendirian, sementara adikku berdiri di konter, menunggu resep obatku selesai dikerjakan apoteker. Kami baru selesai dari klinik satu jam lalu—psikiater itu kembali meresepkan lithium untukku. Satu minggu sekali aku memasuki apotek yang jaraknya hanya selemparan batu dari klinik kecil tempatku menjalani pemeriksaan rutin. Ini mungkin seperti kencan mingguan aku dan Renata, adikku.

Baca Juga: Pesawat Ringan yang Membawa Skydivers Jatuh di Kota Menzelinsk Rusia, 16 Tewas dan 6 Selamat

Kalau kalian ingin sedikit tertawa, aku dan Renata sering dikira pasangan. Padahal, aku tidak pernah menunjukkan tingkah apa-apa. Renata juga begitu. Menurut kami, kami tidak merasa melakukan hal-hal yang dilakukan pasangan di muka umum.

Sudahlah, itu hanya intermeso. Niatku di sini ingin menceritakan pertemuanku dengan malaikat. Yang indah, yang sejuk, yang tenang, meskipun aku yakin, orang lain akan memandang kebalikannya. Aku belum tahu namanya karena baru kali itu aku melihat perempuan dengan rambut ekor kuda, tetapi aku mengenal wajahnya. Entah dari mana, mungkin dari memoriku pada kehidupan yang lalu. Atau, aku hanya merasa nyaman memandang wajahnya sehingga kupikir aku telah mengenalnya jutaan tahun lalu.

Tangannya tampak dipegang erat oleh seorang wanita paruh baya. Kurasa itu ibunya, atau tantenya, atau siapa pun yang memang bertanggung jawab terhadap dirinya. Sementara kulihat tangan kanannya berkali-kali mengepal, terbuka, mengepal lagi, terbuka lagi. Matanya terlihat menjelajah segala hal. Lalu, bola mata itu berhenti bergerak setelah bertemu dengan bola mataku.

Baca Juga: Dua Tahun Jokowi-Maruf Memerintah: Jangan Kriminalisasi gerakan Mahasiswa!

Ingin tahu seperti apa rasanya? Ini seperti kamu mendapat segelas bir dingin saat hari yang panas, seperti menyisakan satu potong besar ayam setelah kentang tumbukmu habis, seperti tidak perlu lagi mendapat resep baru tiap minggu. Ada yang terbebas begitu saja, berenang-renang ke permukaan, mencari udara segar. Aku tahu, senyumku sedang terkembang ketika ia melihatku.

***

Aku tidak tahu apa namanya, tetapi perasaan ini semacam tidak asing. Bola mata itu seolah-olah sudah lama menetap di memoriku. Aku ingin melepaskan diri dari genggaman Ibu, ingin segera duduk di samping lelaki itu. Aku yakin, umurnya tidak berselisih jauh dariku.

“Siapa yang kamu lihat, Rin?”

Aku menjawab dengan mataku. Tidak perlu penegasan lagi karena memang yang duduk di bangku itu hanya satu orang.

“Kamu kenal?” tanya Ibu lagi.

Baca Juga: 2 Juta 700 ribu Dosis Vaksin Pfizer Tiba di Tanah Air, Langsung Akan Dibagikan ke 12 Provinisi

Aku menggeleng. Sekali lagi, aku yakin, Ibu bisa membaca segala hal dari mataku, seperti yang selama ini ia lakukan.

Oh, tidak, tidak. Aku tidak bisu. Aku bisa bicara, aku bahkan bisa menyanyi dengan baik. Hanya saja, aku selalu enggan berbagi bebunyian dengan orang lain, apalagi di luar rumah seperti ini. Aku malu, aku takut orang lain meledekku. Aku terlalu malu, terlalu takut.

“Kamu ingin mengobrol dengannya?”

Aku mengangguk kencang, tetapi kemudian perasaan bingung menyerangku. Tidak biasanya Ibu mengizinkan aku bicara dengan orang asing, apalagi seorang lelaki.

Seakan-akan mengerti kebingunganku, Ibu berkata lagi, “Ibu tadi melihatnya di klinik.”

Di klinik? Kenapa aku tidak melihatnya?

Baca Juga: Mengulas Baju Logistik KPU Musi Rawas di Toko Wadah Kreatif Capai Rp8,9 Miliar

“Kamu sedang berada di ruang terapi ketika pemuda itu keluar dari ruang terapi lain. Ibu sempat berbincang dengan adiknya. Ia sepertimu.”

Oh, pantas saja. Itu seperti menjelaskan banyak hal.

Aku melepaskan tangan dari genggaman tangan Ibu. Kaki-kakiku dengan percaya diri melangkah menuju bangku. Tatapanku dan lelaki itu saling mengunci. Aku bahkan merasa sekeliling kami berubah menjadi latar taman yang penuh bunga.

Ya, ya, aku tahu, itu terdengar sangat norak, tetapi bisakah kalian membiarkan aku menikmati hal manis ini? Aku belum pernah mengalami ini. Tidak, setelah dulu Jerome nyaris membuatku mati.

***

Keduanya duduk bersisian, berjarak sejengkal, dan tangan-tangan yang masih malu-malu di atas pangkuan masing-masing.

Baca Juga: Sopir Shah Rukh Khan Diinterogasi Badan Narkotika India terkait Narkoba di Kapal Pesiar

Keduanya menunduk, menekuni jemari masing-masing yang bertalian tak tentu arah, dengan keringat dingin yang tipis-tipis membuat permukaan kulit menjadi licin dan dingin.

Keduanya lalu saling melihat, masih tanpa kata-kata, masih dengan degup jantung yang berlomba mengejar ketertinggalan.

“Minggu depan,” kata si lelaki, “apakah bisa?”

Si perempuan mengangguk, lalu menyahut, “Minggu depan, dan minggu-minggu setelahnya. Masih ada tiga sesi lagi.”

“Paling tidak, kita bisa bertemu lagi sebanyak tiga kali.”

Baca Juga: Mantan Presigen Afganistan Itu Bobol Uang Negara Sebanyak 169 Juta Dolar dan Tidak Muat Dibawa di Pesawatnya!

Dahi si perempuan berkerut-kerut. “Mengapa hanya tiga kali?”

Giliran si lelaki yang kebingungan. “Memangnya …?”

Ibu si perempuan memanggil. Wanita itu sudah selesai dengan urusan resep putrinya.

“Kita harus sembuh. Kita akan sembuh,” kata si perempuan. “Di pertemuan kedua nanti, aku akan memberi nomor teleponku. Tetaplah di sini sampai aku datang.”

Lalu, si perempuan pergi bersama ibunya. Tinggallah si lelaki mematung. Namun, dalam benaknya ia sudah siap dengan pertemuan kedua, ketiga, keempat, dan selamanya.***

Halaman:
1
2
3
4
5

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerpen Ramli Lahaping: Segitiga Pembunuhan

Jumat, 21 Januari 2022 | 12:34 WIB

CERITA ANAK: Kerang untuk Damar

Minggu, 9 Januari 2022 | 16:11 WIB

CERPEN: Dekap Hangat yang Selamanya

Sabtu, 1 Januari 2022 | 11:43 WIB

Tiga Puisi Karya ALfi Irsyad Ibrahim

Jumat, 24 Desember 2021 | 18:52 WIB

Cerbung: Kabut Pembatas Dua Hati

Minggu, 19 Desember 2021 | 13:29 WIB

Cerbung Kabut Pembatas Dua Dunia

Jumat, 17 Desember 2021 | 20:05 WIB

Cerbung: Tanda Cinta di Wajah Pias

Rabu, 15 Desember 2021 | 18:28 WIB

Cerbung: Wajah Pias dalam Pelukan

Selasa, 14 Desember 2021 | 21:26 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Hati Venerose

Kamis, 9 Desember 2021 | 18:06 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Antara Dua Hati

Kamis, 9 Desember 2021 | 17:40 WIB

Puisi untuk Sahabat

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:52 WIB

Puisi: Aku Adalah

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:32 WIB

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB

Puisi: Biruku

Kamis, 2 Desember 2021 | 18:04 WIB
X