• Sabtu, 29 Januari 2022

Secret Door

- Minggu, 3 Oktober 2021 | 15:50 WIB
ilustrasi (sekar_mayang)
ilustrasi (sekar_mayang)


Klikanggaran.com-- Aku menemukan kaus Em di kolong tempat tidur. Sesaat aku bertanya-tanya bagaimana benda ungu muda ini bisa berakhir di sana. Lalu, ingatan itu muncul.

Adalah dua malam sebelum Em pergi, kami bergumul di lantai. Kata Em, ia ingin menjajal karpet kami, karpet beludru yang aku beli bulan sebelumnya, karpet abu-abu yang tampak cocok dengan dinding kamar kami yang putih tulang. Kata Em, ia ingin meninggalkanku dengan memori manis di atas karpet. Dan, ya, saat itu memang cukup manis. Sebuah permainan panjang, hangat, dan mungkin akan sulit kulupakan, meskipun sudah hampir sepuluh bulan berjarak.

Aku membawa kaus Em ke ruang cuci. Kebetulan hari ini aku punya setumpuk pakaian kotor yang meminta perhatian. Sebelum kumasukkan ke mesin, selintas aroma tubuh Em menembus hidungku. Aku masih memegang kausnya. Kudekatkan ke wajahku dan aroma itu semakin menggila. Membawaku menjauh dari lantai apartemen, menarikku menuju ruang lain yang hanya berbatas garis horison jingga. Tampak jauh, tampak sulit terjangkau.

Kupikir jika aku aku mengerjap beberapa kali atau mencubit lenganku atau menampar wajahku sendiri, aku akan kembali ke ruang cuci, ke hadapan setumpuk pakaian kotor. Nyatanya, selepas tiga hal konyol itu aku lakukan, aku masih di tempat yang sama, di ruang luas berbatas horison jingga.

Seperti petir, rasa itu hadir dalam sekejap kedip mata. Nyeri kurang ajar serupa daging tertusuk duri. Perih nan biadab serupa garam yang menggauli luka menganga. Akan tetapi, ia juga rasa hangat serupa selimut tebal Ibu yang melingkupi tubuhku ketika bayi, rasa manis serupa sirup maple yang Ibu tuang di atas waffle.

Aku sendirian, tetapi semua rasa yang kusebutkan itu nyata aku alami. Ketika aku coba bernapas, semuanya menebal, semuanya menguat. Aku terjatuh, bertumpu dengan kedua lutut dan tanganku, sampai akhirnya meringkuk seperti janin dalam rahim Ibu.

Aku rindu Em.

***

David mengajakku ke ruang konferensi. Sebuah ruang dengan sebagian besar dinding kaca tebal, tempat aku dan rekan-rekan, juga David, merencanakan edisi demi edisi majalah kami. Ruang itu kedap suara. Meskipun berteriak, orang lain di luar ruangan tidak akan mendengarnya. Namun, sebenarnya bukan itu yang menjadi tanda tanya besar di benakku.

Jika itu pembicaraan pribadi, David akan mengajakku ke taman atau ke kedai kopi langganan kami satu blok dari sini. Dan, jika ini urusan pekerjaan, ia akan langsung bicara di mejaku, tidak peduli didengar rekan lain, sebab memang tidak ada rahasia soal penugasan.

"Tidak ada apa-apa, Em. Aku hanya tidak ingin Simon tahu soal penugasan ini. Sebab, aku tahu, ia akan menuduhku pilih kasih. Meskipun, yah, pada akhirnya ia akan tahu juga nanti, hanya saja tidak sekarang. Tidak, aku sedang malas bicara dengannya akhir-akhir ini."

Sebuah pembuka yang panjang. Bukan khas David, tetapi aku bisa memahami. Simon sudah terlalu sering merepotkan dan menghabiskan kesabaran David.

"Di kotamu sedang berlangsung festival budaya," lanjut David. "Aku tahu, aku punya kontributor di sana, tetapi aku ingin kamu yang membuat liputannya. Kamu bisa berangkat besok dengan pesawat pertama. Kemarin aku sudah bicara dengan Gwen untuk mengurus tiketmu."

Sesuatu yang hangat sekaligus dingin merayap pelan dari ujung kakiku. Sneakers yang kupakai seolah-olah lenyap entah ke mana dan aku hanya menapaki lantai rumput mahaluas. Aku tahu hawa sejuk di ruangan ini berasal dari mesin penyejuk di langit-langit, hanya saja pengharum yang terpasang adalah aroma lemon, bukan aroma tubuh Dez.

Segala sesuatu setelah David selesai bicara tampak seperti gerakan otomatis. Aku nyaris mati rasa, nyaris kehilangan orientasi ruang dan waktu. Selama berjalan kembali ke mejaku, kaki-kaki ini seperti tidak menjejak lantai kantor. Saat aku duduk, memejam sebentar, aku seperti terbangun di ruang lain. Ruang yang hanya berbatas horison jingga di kejauhan. Dan, meskipun tidak terdengar suara apa pun, aku tahu seseorang sedang memanggilku. Kurasakan dalam hati, kupahami dalam kesadaran.

Aku melihat Dez.***

 

Halaman:
1
2

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puisi Malam yang Sakit

Jumat, 28 Januari 2022 | 21:11 WIB

Cerpen Ramli Lahaping: Segitiga Pembunuhan

Jumat, 21 Januari 2022 | 12:34 WIB

CERITA ANAK: Kerang untuk Damar

Minggu, 9 Januari 2022 | 16:11 WIB

CERPEN: Dekap Hangat yang Selamanya

Sabtu, 1 Januari 2022 | 11:43 WIB

Tiga Puisi Karya ALfi Irsyad Ibrahim

Jumat, 24 Desember 2021 | 18:52 WIB

Cerbung: Kabut Pembatas Dua Hati

Minggu, 19 Desember 2021 | 13:29 WIB

Cerbung Kabut Pembatas Dua Dunia

Jumat, 17 Desember 2021 | 20:05 WIB

Cerbung: Tanda Cinta di Wajah Pias

Rabu, 15 Desember 2021 | 18:28 WIB

Cerbung: Wajah Pias dalam Pelukan

Selasa, 14 Desember 2021 | 21:26 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Hati Venerose

Kamis, 9 Desember 2021 | 18:06 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Antara Dua Hati

Kamis, 9 Desember 2021 | 17:40 WIB

Puisi untuk Sahabat

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:52 WIB

Puisi: Aku Adalah

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:32 WIB

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB

Cerbung: Samudra di Lautan Malas

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:06 WIB

Puisi: Tepian Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:20 WIB

Cerbung: Cicak Merayap di Dinding

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:08 WIB

Puisi: Pulau Asmara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:33 WIB

Cerbung: Cicak Jatuh di Halaman

Sabtu, 4 Desember 2021 | 11:19 WIB
X