• Minggu, 28 November 2021

Pelangiku untuk Gaza

- Selasa, 21 September 2021 | 08:22 WIB
Ilustrasi: Pelangiku untuk Gaza (Pixabay/hosny_salah)
Ilustrasi: Pelangiku untuk Gaza (Pixabay/hosny_salah)


Aku melepas keberangkatan Gita, calon istriku, di bandara. Kami sama-sama menangis, walau dengan alasan yang berbeda. Aku menangis karena kami akan berpisah untuk waktu yang entah. Sementara Gita, menangisi keikhlasanku yang memberinya izin untuk menjadi sukarelawan di Gaza.

Sesungguhnya aku mengutuk adanya pandemi ini. Benar-benar mengacaukan segalanya. Seharusnya, tahun ini kami akan melangsungkan pernikahan. Persiapan perhelatan besar yang menjadi impian Gita sudah 90% selesai. Aku mempercayakan sebuah Wedding Organizer yang cukup ternama untuk mengurus semuanya. Jasa mereka sudah kulunasi dari uang tabunganku selama bekerja menjadi konsultan pajak. Aku benar-benar ingin Gita bangga karena sudah memilihku. Namun, semua harus tertunda untuk batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Pihak pemerintah Indonesia menjembatani kepeduliannya pada anak-anak dan itu yang membuatnya semakin merasa terpanggil untuk berangkat ke Gaza.

*
Dengan begitu mudah Gita bisa melewati perairan menuju Gaza walau rasanya sulit dicerna dengan logika. Area itu sudah diblokade sejak beberapa tahun terakhir, pembatasan tambahan juga diberlakukan untuk mengatasi penyebaran virus Corona. Jangankan sukarelawan asing, penduduk asli saja sepertinya sangat sulit mengaksesnya.

Memantau perkembangan tentang Gaza di tengah-tengah jam kerja melalui internet menjadi rutinitas wajibku semenjak Gita berada di sana. Sudah 6 bulan kami terpisah dan angka penyebaran virus Corona yang melonjak tajam membuatku semakin mengkhawatirkan keadaannya.

Baca Juga: Shah Abbas I: Raja Kelima Dinasti Safawi Iran

Sesungguhnya ini bukan kali pertama kami berhubungan jarak jauh. Dulu, Gita pun mengenyam pendidikan di Singapore dan aku di Jakarta. Tapi situasinya jauh berbeda, keadaan di Gaza tidak seaman di Singapore atau Jakarta. Aksi serangan di antara kedua kubu semakin menggila. Rudal-rudal dilepaskan Hamas ke Israel, begitu pun sebaliknya. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana jika Gita menjadi salah satu korbannya. Bagaimana dengan rencana kebahagiaan yang sudah kami impikan sejak 8 tahun yang lalu?

Aku melihat wajah kekasihku yang sumringah dari layar ponsel. Kami melakukan panggilan video. Dari senyumnya di balik masker aku tahu dia baik-baik saja dan semoga akan selalu baik-baik saja. Gita tinggal bersama sahabatnya, Ahhibat, yang dinikahi pria bernama Ilham seorang jurnalis asli Indonesia. Aku tak habis pikir mengapa Ilham tidak membawa istri dan anak-anak mereka untuk tinggal di Indonesia saja.

“Lalu, kapan kamu akan pulang? Aku takut kamu akhirnya jadi korban,” tanyaku di ujung percakapan setelah hampir satu jam mendengar rentetan cerita tentang anak-anak yang kini sangat menjadi pusat perhatiannya.

“Jika iya, itu sudah takdirku, Sayang,”

“Ringan sekali ucapanmu,” balasku cepat.

“Hanya dua kemungkinan yang akan terjadi di sini. Mati karena serangan rudal atau mati karena menahan rindu, aku lebih pilih yang pertama, rasa sakitnya tidak akan terlalu lama,” Gita melancarkan humor romantisnya yang membuatku semakin rindu.

Baca Juga: Rumi, Putra Afganistan, Karya-karyanya Memberi Inspirasi hingga Kini

“Kamu perempuan, yang kodratnya dijaga laki-laki. Tapi, kamu terlalu mandiri. Terkadang aku merasa payah,”

“Sayang, jangan pernah lagi menyebut dirimu seperti itu. Apa yang aku lakukan saat ini semata-mata hanya karena aku pernah kehilangan keluargaku saat masih kanak-kanak, walaupun dengan alasan kematian yang berbeda. Namun, saat itu aku benar-benar merasa sendiri. Aku ingin ke sini untuk menghibur anak-anak yang kehilangan anggota keluarganya. Aku tak ingin air mata mereka kering dengan sendirinya, aku ingin mengusapnya dan menceritakan tentang pelangi yang akan muncul setelah hujan.”

Kalimat terakhir yang Gita ucapkan menghentikan konfrontasi di antara kami. Ia sukses membuatku bungkam. Ya, bukan hanya anak-anak itu yang sedang menunggu pelangi. Pun aku yang juga akan menunggu sampai pelangi itu muncul di sini, menjadi mempelai wanitaku.

*
Komunikasi di antara kami semakin jarang terjadi. Media sosial miliknya pun seperti jarang diakses. Kabar terakhir yang Gita kirimkan melalui surel bahwa banyak fasilitas kesehatan yang rusak sehingga vaksinasi pencegahan virus tidak bisa dilakukan secara maksimal. Juga puluhan warga Palestina yang ditangkap pihak kepolisian Israel saat sedang mengkampanyekan sterilisasi di Sur Baher. Kemudian sukarelawan asing diminta untuk menahan aksi sosial mereka juga agar tidak ada peristiwa salah tangkap yang bisa berujung kematian.

Entah, aku merasa kosong. Kami adalah calon suami-istri, bukan teman biasa. Rasanya sangat aneh jika aku sampai kehilangan kabar darinya dalam kurun waktu yang cukup lama. Aku jadi berasumsi Gita tidak benar-benar ingin menikah denganku atau aku yang terlalu obsesif ingin mejadikannya pasangan hidup.
Jika saja Gita mau sedikit memahami, kabar yang kuharapkan datang darinya bukan lagi tentang eskalasi perang di area konflik itu, bukan pula tentang ganasnya Covid yang membuat angka kematian semakin mengerikan. Aku hanya ingin mendengar keinginan Gita untuk pulang. Sudah hampir 1,5 tahun aku menunggunya. Orang tuaku sudah mulai kehilangan kesabaran dengan segala macam alasan yang kusampaikan. Hak Gita untuk memiliki jiwa solidaritas pada sesama, pun hak orang tuaku untuk melihat anak semata wayangnya bahagia.

Baca Juga: Kata Siapa Menulis Puisi Sulit? Begini lho Cara Menulis Puisi agar Terlihat seperti Penyair Sungguhan

Dengan sangat terpaksa kuminta keputusan darinya, putus atau terus. Lagi-lagi aku tak tahu kapan Gita akan membalas surel dariku. Di satu sisi, ikatan di antara ia dan anak-anak yang diurusnya menjadi semakin masif, sementara kami semakin berjarak dan menipis.

*
Surel terakhirku baru dibalasnya beberapa pekan kemudian. Banyak yang ia tuliskan, mulai dari keadaan hingga perasaan. Selain menceritakan kondisi di sana yang semakin sulit, juga sebuah kata putus yang teramat pahit. Ya, pelangiku memutuskan akan tetap muncul di Gaza, bukan di Jakarta.
Aku tak perlu menarik napas dalam-dalam untuk mencari kelegaan. Aku sudah sangat siap menerima kenyataan. Kami punya cara berbeda untuk bahagia. Aku tak ingin menjadi penghalang baginya.

Seorang gadis lain muncul setelah mendung yang berkepanjangan, memberi jawaban atas lamanya penantian. Riska namanya. Aku belum memiliki ikatan apapun dengannya, namun aku bisa membaca sinyal-sinyal itu dari sorot matanya. Ternyata aku tak hanya butuh pelangi, aku juga butuh matahari. Riska muncul menghangatkan setelah aku hampir beku dalam ketidakpastian.

*
Hari ini, 21 September, tepat di peringatan Hari Perdamaian Dunia, kudapati seorang perempuan yang dulu pernah mengisi hidupku muncul di headline portal berita online dengan sebuah pencapaian. Sebuah penghargaan dari pemerintah RI atas misi kemanusiaan yang sudah ia lakukan. Gita sudah menyelesaikan tugasnya dan dalam proses dipulangkan ke Indonesia. Banyak pesan masuk ke ponselku menyatakan turut berduka cita dari orang-orang yang tidak tahu bahwa pelangiku sudah lama kurelakan untuk Gaza.

-selesai-

(Sebuah cerita pendek yang ditulis oleh Ajeng Leodita)

Apabila artikel ini menarik, mohon bantuan untuk mensharekannya kepada teman-teman Anda, terima kasih.

Halaman:

Editor: Insan Purnama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerpen Batu Cinta

Sabtu, 27 November 2021 | 13:07 WIB

Novel Melukis Langit 11, Luka di Atas Luka

Rabu, 24 November 2021 | 20:47 WIB

CERPEN: Sapu Jagat

Kamis, 18 November 2021 | 06:13 WIB

Cerpen: Perjalanan Hati

Selasa, 16 November 2021 | 21:51 WIB

Hari Ayah dan Kado Cerpen Sang Ratu

Jumat, 12 November 2021 | 12:32 WIB

Novel Melukis Langit 9, Gadis di Pangkuannya

Kamis, 11 November 2021 | 21:55 WIB

Novel Melukis Langit 8, Bersenggama dengan Laut

Kamis, 11 November 2021 | 19:41 WIB

Novel Melukis Langit 7, Cintanya Ditelan Laut

Kamis, 11 November 2021 | 19:06 WIB

Novel Melukis Langit 6, Kenyataan Pahit

Senin, 8 November 2021 | 19:24 WIB

Novel Melukis Langit 5, Perselingkuhan

Minggu, 7 November 2021 | 21:16 WIB

Novel Melukis Langit 4, Keputusan

Minggu, 7 November 2021 | 19:42 WIB

Novel Melukis Langit 3, Pertemuan

Jumat, 5 November 2021 | 20:36 WIB

Novel Melukis Langit 2, Gumpalan Awan Hitam

Jumat, 5 November 2021 | 18:10 WIB

Novel Melukis Langit 1, Memeluk Prahara

Jumat, 5 November 2021 | 14:37 WIB

PUISI: Pahlawan Itu

Kamis, 4 November 2021 | 09:59 WIB

Cerita Anak: Hari Pahlawan Adalah Hariku

Senin, 1 November 2021 | 10:26 WIB

PUISI: Cappuccino Senja

Minggu, 31 Oktober 2021 | 17:00 WIB
X