• Minggu, 26 September 2021

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Enam

- Selasa, 14 September 2021 | 21:46 WIB
Kopi Sore dan Timbunan Cinta (Dok.klikanggaran.com/KitRose)
Kopi Sore dan Timbunan Cinta (Dok.klikanggaran.com/KitRose)

Ratih mencoba menenangkan diri, memberi jeda pada hatinya agar tak lagi mengingat masa lalu. Dia bertekad menyudahi angan, kelak akan ada kopi sore dan timbunan cinta bersama Gading.

Wajah Gading masih belum bisa diusirnya begitu saja. Untukmenguatkan hati diraihnya sobekan kertas di dalam tas, lalu dibacanya nyaring dalam hati. Kopi sore dengan timbunan cinta yang telah kandas…

Ratih menatap sosok di depannya, bertanya dalam hati, apakah akan ada kopi sore dan timbunan cinta yang bisa dinikmatinya bersama lelaki muda itu?

“Baru bangun, Mas?” Luvia mencoba ramah, membangunkan lamunan Ratih.

Baca Juga: Wanita Jalang

“Hmmm…”

“Gimana persiapan wisudanya Kanda, udah beres?” Ratih mencoba bertanya dengan tenang, menyembunyikan gemetar tangannya.

“Udah. Kalau persiapan pernikahanmu gimana, udah beres?”

Rama menyalakan kreteknya, lalu duduk tak acuh di depan kedua gadis itu. Dihembusnya asap ketek di udara, mengepul memenuhi ruangan yang masih segar.

Ratih melirik sahabatnya, tak berani menjawab.

“Nggak usah malu-malu. Aku udah tahu kok, kalian mau nikah. Kamu Vi, nggak mau nikah juga?”

Baca Juga: Monolog Sepatu Bekas

“Aku juga mau nikah Mas, mungkin nanti setelah wisuda, tapi sama siapanya masih rahasia.”

“Kenapa dirahasiakan?”

“Bukan rahasia sih, sebenarnya, mau bikin kejutan aja.”

“Kejutan apa, nih?” Dodit tiba-tiba sudah berada di pintu dengan dandanan rapi.

“Cepet Ma, mandi sana.” Mengusir paksa Rama dari duduknya.

“Nggak ah, nanti aja.”

“Cepetan, udah telat, nih. Mumpung masih pagi kita berangkat.”

“Ke mana?”

Baca Juga: Pangeran Berkuda

“Udahlah, sana mandi. Aku siapin mobil dulu.”

“Nggak mau ah, nggak jelas kalian, nih.”

“Mas Rama, kita kan, sahabatnya Mas Dodit dan Ratih. Hari ini mereka mau belanja keperluan pernikahan mereka. Nah, kita diminta untuk bantu memilih yang sesuai.” Luvia mencoba menjelaskan, sementara Ratih semakin membeku wajahnya.

“Kenapa sih, mau nikah aja bikin repot semua orang.”

“Ayolah Ma, demi aku dan Ratih.” Dodit tersenyum memelas.

Rama menatap Ratih sekilas, ada pandangan terluka dalam tatapan itu, tapi dengan gagah ditepisnya luka itu dan memaksakan diri memenuhi keinginan sahabat-sahabatnya. Semua saling menatap dan tersenyum penuh bahagia.

Ratih memerah wajahnya saat Luvia menyenggol lengan dan kakinya. Tangannya semakin dingin dan gemetar, tapi ada gurat harapan dan kecemasan di wajah ayu itu.

-∞-

Baca Juga: Pengen Kopi Gula Aren yang Bikin Ketagihan? Boleh Coba Resep Sederhana Ini

Dodit membelokkan mobil memasuki kawasan menuju pantai Carita. Rama menyimpan heran dan tanda tanya dengan bersikap tak peduli, tapi tak dapat ditahannya juga kekesalan hatinya.

“Berurusan sama orang yang lagi kasmaran emang susah,” gumamnya.

“Kenapa, Ma?

Rama tak menjawab.

“Pantainya kalau masih pagi gini sepi, jadi enak untuk dinikmati.”

“Aku sih, senang-senang aja ikutan menikmati pantai. Dari semenjak di tol tadi sih, udah curiga.”

Baca Juga: Bicara Kopi, Seperti Apa Kopi Bagus dan Jelek?

“Tapi, kok diem aja?” Luvia menggoda.

“Males mau ngomong. Namanya juga lagi pada kasmaran.”

Ratih menundukkan wajahnya menyembunyikan gelisah, sementara Rama tak mau mempedulikan tawa Luvia dan Dodit. Sampai pada pasir-pasir yang masih belum ramai pengunjung, Dodit menghentikan mobilnya.

Dibukanya pintu mobil perlahan, lalu keluar sambil merentang kedua tangan. Yang lain serentak mengikuti.

“Dah, sana, cari pojok yang sepi, tapi karena pantai nggak ada pojok gelapnya, masuk aja ke hutan.” Dengan nada sinis Rama bergumam, lalu menyalakan kretek menahan jemu.

Baca Juga: Puisi Basi untuk Sang Maha

Disisirnya pantai tanpa semangat, dipandangnya laut dengan tatapan hampa. Dihembuskannya napas lelah tanpa ingin menoleh. Dicarinya rumah kacanya pada titik terjauh birunya samudera tanpa mampu mengetuk pintunya.

Dodit dan Luvia memasuki mobil sambil berteriak diiringi derai tawa. Sementara Ratih berdiri ketakutan, tak tahu harus bersikap apa. gadis itu tak berani menatap Rama yang wajahnya terlihat semakin mengeras.

“Sorry Ma, toko baju pengantinnya keburu tutup, nanti sore kalian aku jemput. Hati-hati, ya.” teriak Dodit dengan tawa semakin berderai.

“Mas Rama, nitip Ratih, ya, jangan diapa-apain!” Luvia berteriak dari dalam mobil sambil memeluk Dodit dengan mesra.

Baca Juga: Pesan untuk Wibu dari Anime The Garden of Words

Rama berjalan mendekati mobil, tapi Dodit dan Luvia sudah menjauh, masih dengan tawa berderai. Dihampirinya Ratih, lalu ditariknya tangan gadis itu dengan kasar. Air mata sudah memenuhi pipi Ratih.

“Maksudnya apa ini?”

Ratih tidak berani menjawab, kepalanya semakin menunduk, wajahnya menyimpan ketakutan.

“Ratih, tolong jelaskan. Aku nggak ngerti maksudnya apa ini?”

“Sebenarnya yang mau menikah Mas Dodit dan Luvia.” Ratih menjawab hampir tak terdengar, tetapi suaranya hampir membuat dada Rama meledak.

Ditariknya lagi jemari Ratih, kini lebih lembut, lalu bertanya, “Kamu?”

Ratih menggeleng.

“Bukan kamu sama Dodit yang nikah?”

Baca Juga: Belajar dari Film Selesai, Apa yang Ingin Disampaikan Tompi?

Kembali Ratih hanya menggeleng, dan seketika gelengan itu disambut pelukan hangat kedua tangan merintih sepi di depannya. Rama berteriak pada laut, melompat menghamburkan bahagia, lalu menggenggam jemari Ratih yang masih ketakutan.

“Sudah terbukakah pintu rumah kaca itu untukku?”

“Kanda tak pernah mengetuknya,” jawab Ratih pelan.

“Sekarang aku tidak ingin mengetuk pintu itu lagi, tapi memasukinya dan memanggil gadis yang tak mau membukanya untukku. Akan kupaksa dia menutup pintu itu agar tak ada yang memasuki rumah kaca itu dan aku dapat berdiam di sana bersamamu.”

Bersambung…

Jika menurut pembaca kisah ini menarik untuk dibaca teman, mohon bersedia men-share link cerita ini ya, terima kasih.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cenayang Bukit Mawar 2

Sabtu, 25 September 2021 | 21:57 WIB

Cenayang Bukit Mawar 1

Jumat, 24 September 2021 | 16:55 WIB

Khutbah Angin

Rabu, 22 September 2021 | 21:07 WIB

Hijab: Hanya Cerita Pendek

Rabu, 22 September 2021 | 09:47 WIB

Ternyata Kau Bukan Lelaki

Selasa, 21 September 2021 | 22:07 WIB

Pelangiku untuk Gaza

Selasa, 21 September 2021 | 08:22 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Enam

Selasa, 14 September 2021 | 21:46 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Lima, Rumah Kaca

Senin, 13 September 2021 | 21:05 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Bagian Empat

Minggu, 12 September 2021 | 22:10 WIB

Pangeran Berkuda

Minggu, 12 September 2021 | 06:15 WIB

Dua Gelas Kisah Bagian Empat Belas

Sabtu, 11 September 2021 | 20:43 WIB

Dua Gelas Kisah Bagian Tiga Belas

Sabtu, 11 September 2021 | 19:41 WIB

Dua Gelas Kisah Bagian Dua Belas

Sabtu, 11 September 2021 | 15:42 WIB

Dua Gelas Kisah Bagian Sebelas

Sabtu, 11 September 2021 | 05:45 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Bagian Dua

Kamis, 2 September 2021 | 18:10 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Bagian Satu

Rabu, 1 September 2021 | 17:42 WIB

Dua Gelas Kisah Bagian Sepuluh

Rabu, 1 September 2021 | 13:12 WIB

Dua Gelas Kisah Bagian Sembilan

Rabu, 1 September 2021 | 12:19 WIB

Dua Gelas Kisah Bagian Delapan

Selasa, 31 Agustus 2021 | 17:57 WIB

Dua Gelas Kisah Bagian Tujuh

Selasa, 31 Agustus 2021 | 15:28 WIB
X