• Senin, 18 Oktober 2021

Dua Gelas Kisah Bagian Tiga Belas

- Sabtu, 11 September 2021 | 19:41 WIB
Dua Gelas Kisah (Dok.klikanggaran.com/Sekar)
Dua Gelas Kisah (Dok.klikanggaran.com/Sekar)

Matahari makin condong ke barat. Awan mendung kembali hadir, meskipun tidak sepekat sebelumnya. Angin malu-malu berembus, membawa aroma jepun dan melati. Jujur saja, aku tidak ingin hari ini lekas berakhir. Aku masih ingin bersama Moy, selama yang aku sanggup. Aku ingin mengganti tahun-tahun yang hilang, mengganti deritanya menjadi senyum.

“Wajar jika aku tidak ingin ditemukan, Ru,” kata Moy. “Lebam-lebam itu tidak bagus untuk dipamerkan.”

Memang, siapa yang tega melihat wajah yang biasanya penuh tawa itu berhias lebam? Tidak ada! Namun, bukan itu maksudnya. Moy terlalu keras pada dirinya sendiri. Ia selalu merasa tidak ada yang mau peduli padanya.

“Kamu selalu menghindar, Moy.”

Baca Juga: Kerja Sama dengan PNM, Sandiaga Uno Berikan Akses pada 34 Juta Pelaku Parekraf

Moy tertawa. “Siapa yang menghindar, Ru? Aku tidak pernah menghindar.”

“Kamu … selalu menghindar,” kuulang pelan-pelan ucapanku. “Kamu menghindar dari orang-orang yang menyayangimu. Kamu bahkan menghindar dari keluargamu sendiri.”

Moy membuang muka. “Aku tidak menghindar,” gerutunya.

“Sudahlah, Moy. Aku sudah tahu semuanya dari Cecil.”

Moy mendekap dirinya sendiri. Kepalanya menunduk amat dalam. Ia menangis. “Chris sialan,” gumamnya bercampur isak.

Karena pernikahannya dengan Chris tidak pernah direstui keluarga, Moy memutus hubungan dengan orang-orang yang sesungguhnya masih amat peduli padanya. Moy menjauh, mengganti nomor ponselnya, dan benar-benar berusaha tidak bisa ditemukan. Hanya saja, bayangan pernikahan yang indah segera sirna beberapa bulan setelah pengucapan janji.

Baca Juga: Kebutuhan Pengawas di Kemenag Belum Disusun Secara Memadai, Ini Analisisnya 

Chris memang tidak putus memberi nafkah, tetapi ia kerap ringan tangan dan mudah melempar kata kasar. Moy tetap bertahan karena cinta sudah membutakannya. Sampai suatu hari, Chris meninggalkan Moy begitu saja, dengan banyak lebam di wajahnya. Seorang pegawai katering yang biasa mengantar makanan ke sana tidak tega melihat Moy dan mengantarnya ke rumah sakit. Dokter berkata, luka Moy tidak sekadar lebam-lebam di wajah.

“Bisakah kita kembali ke kisahmu dan Yuna, Ru?”

“Aku dan Yuna sudah selesai, Moy. Apa lagi yang ingin kamu dengar?”

Moy terdiam sejenak. “Aku tidak tahu, Ru.”

***

Baca Juga: Pengadaan Material LLD Terlambat dan Dibatalkan, Ini yang Ditanggung Pertamina

Episode aku dan Yuna sudah selesai. Berkat bantuan beberapa teman—serta intervensiku kepada Yuna sendiri—akhirnya aku mendapat surat putusan cerai. Bahkan, Yuna sendiri yang memohon padaku untuk memegang hak asuh anak-anak. Kelegaan luar biasa menghampiriku.

Suatu hari, Kirana menghampiriku. Katanya, selagi aku bekerja, Yuna datang sebentar ke rumah Ibu untuk menengok mereka, serta menitipkan sepucuk surat untukku.

Surat?

Surat putusan sudah di tanganku. Surat apa lagi ini?

Ah, ternyata itu tulisan tangan Yuna sendiri.

--

Baca Juga: Pandemi dan Korupsi, Dua Wabah Besar yang Sangat Berbahaya

Dear Ru,

Apa kabar, Kak?

Hmm, pasti kamu ingat, kan, panggilanku ke kamu ketika kita baru pertama berkenalan? Kurasa itu amat manis, sungguh. Bukan hanya panggilan itu yang terasa manis, tetapi semua yang berhubungan denganmu, rasanya manis luar biasa.

Kamu adalah salah satu anugerah dari Tuhan yang patut aku syukuri. Darimu, aku belajar arti perjuangan, kesabaran, dan ketulusan. Namun, aku yang hina ini tidak pernah lulus dari ketiga hal itu.

Aku minta maaf, aku tidak bisa menjaga ikatan sakral kita. Sebab, sejak awal semuanya sudah terasa salah. Hanya saja, aku masih percaya keajaiban. Aku masih percaya bahwa cinta bisa dibangun, dipupuk, dan dirawat hingga akhir hayat.

Aku masih percaya itu, sampai sekarang.

Baca Juga: Jokowi Targetkan 17 Bendungan Selesai di Akhir Tahun, Ini 8 yang Sudah Diresmikan

Hadirnya Dean bukan sebuah kebetulan. Aku mengenalnya lebih dulu, jauh sebelum aku dan kamu bertemu di kampus. Aku dan Dean memang jarang bertemu, dan makin tertutup kemungkinan kami untuk bertemu karena Dean bekerja di luar negeri. Ketika Dean kembali, aku sudah bersamamu.

Aku gamang, aku bingung. Dean tidak pernah bicara soal kepulangannya. Aku pikir, ia akan selamanya di sana. Aku tidak pernah berharap banyak untuk sesuatu yang nyaris mustahil kudapatkan. Jadi, aku memutuskan untuk mencari pengganti Dean.

Lalu, kamu menemukanku, Kak.

Aku selalu ragu cinta bisa datang begitu cepat. Dan, kamu, Kak, berhasil menjungkirbalikkan logikaku.

Baca Juga: Ada Perusahaan yang Belum Memenuhi Ketentuan Penggunaan Kawasan Hutan, Ini Kerugian Kementerian LHK

Teman-teman seperti tidak ada hentinya menyuruhku mendekatimu, menerima ajakanmu berkenalan. Akan tetapi, aku tidak tertarik. Dan, ketika kamu tiba-tiba mundur, aku malah penasaran. Kuamati kamu dari kejauhan, barulah aku melihat apa yang orang lain lihat. Kamu memang punya sesuatu yang membuat orang lain ingin berdekatan denganmu. Wajahmu memang tidak serupawan model-model di majalah, tetapi sorot matamu, senyummu, dan bahasa tubuhmu, membuatku memutuskan: aku ingin dekat denganmu.

Kita menikah. Itu membuatku merasa sempurna sebagai perempuan, mendapatkan lelaki yang peduli padaku. Apalagi, ketika dua buah hati kita hadir, segalanya tampak indah.

Tetapi, ada Dean …

Baca Juga: Kurang Cermat, 5 Pekerjaan di Pertamina RU IV Cilacap Ini Rugikan Keuangan Perusahaan

Aku tidak bisa membohongi diri ini, Kak. Aku masih memiliki rasa kepada Dean, begitu pula dengan Dean. Kami bertemu, dan aku tahu, itu sebuah kesalahan. Tetapi, sekali lagi, aku tidak ingin jadi manusia yang serakah. Sayangnya, aku tidak pernah tega memutus hubungan kita. Pikiran pendekku berkata: mari buat masalah saja, agar Ru yang mengajukan cerai. Nyatanya, cara itu pun tak berjalan lancar.

Inginnya kubiarkan saja kamu tak mendapat surat putusan itu, Kak. Lagi pula, aku sudah punya suratnya, meski lewat jalur tak resmi. Aku dan Dean pun sudah menikah dan punya wujud buktinya. Namun, ada suara dari dalam sini, dari hati ini, yang membujukku agar sedikit melunak, sedikit menurunkan ego.

Sekali lagi, aku minta maaf, Kak, atas semua kesalahan yang pernah kuperbuat padamu. Rawatlah anak-anak dengan baik. Aku tetap membuka diri untuk diskusi masalah pendidikan mereka atau keperluan lainnya. Hanya saja, aku tidak bisa lagi menengok sesering sebelumnya. Sebab, ketika kamu membaca surat ini, aku sedang dalam perjalanan ke Jakarta. Ya, aku dan Dean akan tinggal di Jakarta. Aku akan kembali belajar di kampus sambil tetap bekerja di firma. Kamu boleh mampir jika ingin. Pintuku selalu terbuka untukmu.

Baca Juga: Database Pengawas pada Aplikasi SIMPATIKA Kemenag Tidak Akurat, Ini Identifikasi Masalahnya

Terakhir, terima kasih, Kak. Terima kasih atas semuanya. Aku tidak bisa menyebut satu per satu kebaikanmu yang jumlahnya begitu banyak. Biarlah Tuhan yang membalas semuanya.

Love,

Yuna

--

Penutup kisah yang begitu manis, meski sempat bercampur getir.

Kirana menambahkan, “Nenek yang terima surat Bunda, Yah. Kirana juga lihat, Bunda bersujud di depan Nenek.”

Oh …

“Bunda menangis, Yah. Kirana tidak pernah lihat Bunda menangis seperti itu.”

Meski aku tidak melihatnya langsung, aku dapat merasakan apa yang Kirana ceritakan. Tepatnya, aku merasakan isi hati Yuna, apalagi setelah membaca surat darinya. Segalanya mulai tampak jelas, tampak terang.

Aku membalas surat Yuna keesokan harinya. Kutulis segalanya, kukirim lewat pos-el karena aku tidak tahu alamat Yuna di Jakarta. Meskipun Yuna bilang ia bersedia menerima kunjunganku, aku tidak akan melakukannya. Pasti rasanya akan canggung sekali berhadapan dengan Dean. Tidak, aku tidak akan melakukannya. Aku hanya ingin fokus dengan hidupku, anak-anak, dan cita-citaku sendiri.

Aku ingin sekali kembali membuka kedai kopi sekaligus toko buku. Dan, kalian tahu apa lagi yang kuinginkan?

Aku ingin bertemu wanita yang benar-benar mencintaiku. Seperti seorang kutu buku mencintai buku-bukunya, seperti pujangga mencintai puisi-puisinya, seperti hutan mencintai pepohonan.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

CERPEN: Menunggu Kereta

Minggu, 17 Oktober 2021 | 20:23 WIB

PUISI : Cappucino Pagi

Minggu, 17 Oktober 2021 | 07:06 WIB

PUISI: Melukis dalam Doa dan Harapan

Minggu, 17 Oktober 2021 | 07:03 WIB

Puisi Cevi Whiesa Manunggaling Hurip.

Rabu, 13 Oktober 2021 | 07:35 WIB

PUISI: Sekisah Cappucino

Selasa, 12 Oktober 2021 | 07:34 WIB

CERPEN: Pertemuan Kedua

Minggu, 10 Oktober 2021 | 18:53 WIB

PUISI: Rembulan Menangis

Minggu, 10 Oktober 2021 | 08:18 WIB

PUISI: Aku Akan Menangis Lain Kali

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 20:21 WIB

Kita Membutuhkan Kata Saling

Kamis, 7 Oktober 2021 | 13:57 WIB

Guru Berdaster

Rabu, 6 Oktober 2021 | 15:42 WIB

Secret Door

Minggu, 3 Oktober 2021 | 15:50 WIB

Lelaki Air Mata Ikan

Rabu, 29 September 2021 | 20:18 WIB

Cenayang Bukit Mawar 2

Sabtu, 25 September 2021 | 21:57 WIB

Cenayang Bukit Mawar 1

Jumat, 24 September 2021 | 16:55 WIB

Khutbah Angin

Rabu, 22 September 2021 | 21:07 WIB

Hijab: Hanya Cerita Pendek

Rabu, 22 September 2021 | 09:47 WIB

Ternyata Kau Bukan Lelaki

Selasa, 21 September 2021 | 22:07 WIB

Pelangiku untuk Gaza

Selasa, 21 September 2021 | 08:22 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Enam

Selasa, 14 September 2021 | 21:46 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Lima, Rumah Kaca

Senin, 13 September 2021 | 21:05 WIB
X