• Senin, 18 Oktober 2021

Dua Gelas Kisah Bagian Delapan

- Selasa, 31 Agustus 2021 | 17:57 WIB
Dua Gelas Kisah (Dok.klikanggaran.com/Sekar)
Dua Gelas Kisah (Dok.klikanggaran.com/Sekar)

Matahari kembali muncul. Kirana dan Dira kegirangan. Mereka sudah selesai dengan gelembung-gelembung sabun dan sekarang bermain ayunan. Keduanya seolah-olah berlomba mencapai titik tertinggi. Tawa mereka begitu meneteramkan hatiku.

“Aku tidak menyangka Yuna seberani itu,” kata Moy. Ia berdiri, menghampiri perdu melati, lalu memetik salah satu kuntumnya. “Andai aku punya keberanian seperti itu, Ru, segalanya pasti akan berbeda.”

Aku meringis mendengar ucapan Moy. Berandai-andai tidak akan mengubah apa-apa. Nyatanya, itulah yang terjadi. Setelah nyaris bertubrukan di selasar, aku dan Moy seperti benar-benar dipisahkan oleh semesta. Aku sibuk dengan hidupku: kenakalan-kenakalan khas remaja, tugas sekolah yang seolah-olah tidak ada habisnya, juga aktivitas pencarian jati diri yang tak absen kukerjakan. Moy juga seperti amat menikmati hari-harinya. Entahlah, tahun-tahun itu, dan belasan tahun setelahnya, terasa begitu kabur. Aku tidak pernah mendapati sosok Moy, bahkan dalam mimpiku sekali pun.

Sampai tiga tahun lalu, aku menemukannya.

Baca Juga: Tak Kunjung Lengkapi Berkas Sidang Gugatan Limbah TTM Blok Rokan, Ini Kata Hakim pada Kuasa KemenLHK

“Aku ingat pertama kalinya kita berjumpa lagi setelah belasan tahun itu, Ru. Kamu datang dengan buket bunga. Aku tidak tahu nama bunga itu, tetapi aku suka aromanya. Mengingatkanku akan aroma pagi hari di taman sekolah kita dulu. Dan, yang kamu lakukan setelah kita berjumpa lagi … hanya duduk menungguiku selama entah berapa jam.” Moy menoleh ke arahku. “Betul, kan?”

“Moy, please ….”

Moy tersenyum. Ia kembali duduk di hadapanku. “Sudahlah, Ru. Aku tidak akan mengungkitnya lagi. Sekarang ceritakan padaku. Apa Yuna kembali lagi setelah kepergian malam itu?”

Aku menghela napas panjang setidaknya dua kali. Berat sekali. Semakin berat setelah beberapa episode kuceritakan pada Moy. Akan tetapi, memang harus seperti ini jalannya. Tidak ada makan siang yang gratis, tidak ada senyum tanpa perjuangan yang mahasialan.

“Ru, don’t ever think to say those bad word again in front of me.”

Aku menyeringai. Lagi-lagi Moy berhasil membaca pikiranku.

“Tidak, Moy, Yuna tidak kembali lagi untuk waktu sekitar sepuluh hari.”

***

Baca Juga: Bank Indonesia Menarik 20 Pecahan Uang Rupiah Khusus dari Peredaran, Ini Rinciannya

Sudah sepuluh hari dan aku tidak tahu kapan Yuna akan kembali. Anak-anak mulai resah dan berulang kali menanyakan keberadaan ibu mereka. Bu Imah pun tampak tak bisa membantu apa-apa. Paling tidak, selama Bu Imah berada di rumah untuk menjaga anak-anak, Yuna tidak muncul sama sekali. Yuna tidak punya kunci cadangan rumah, jadi sepertinya kecil kemungkinan ia kemari tengah malam untuk … mengambil baju ganti?

“Bunda ke mana, Yah?” tanya Kirana ketika aku menemaninya tidur.

Sambil membelai rambut panjangnya, kukatakan pada Kirana bahwa ibunya sedang bekerja di kota lain dan akan kembali dengan oleh-oleh yang banyak. Aku tidak tahu mengapa harus kusampaikan kebohongan itu. Akan tetapi, apa yang bisa dicerna anak umur lima tahun soal kisruh rumah tangga?

“Bunda bawa oleh-oleh apa, Yah? Apa bawa roti keju kesukaan Kirana?”

“Iya, Sayang,” sahutku sambil tetap membelai rambutnya. Sementara Dira sudah terlelap sejak setengah jam lalu. “Sekarang Kirana tidur, ya? Besok, kan, Ayah libur. Kita jalan-jalan ke mal. Kita beli roti keju kesukaan Kirana dan menemani Dira mandi bola. Oke?”

Baca Juga: Indonesia di Posisi ke 6 Dunia Eksportir Keragenan, Industri Rumput Laut Masuk Daftar Prioritas Investasi

Kirana mengangguk. Ia membenamkan diri ke pelukanku. Tak lama, kudengar napasnya mulai teratur. Pelan-pelan aku bangkit dari ranjang anak-anak. Aku butuh menghirup udara segar sejenak sebelum beranjak tidur.

Aku membawa secangkir teh jahe dan dua batang rokok. Cukup untuk menghalau penat dan gundah yang beberapa hari ini selalu menang melawan diriku.

Tidak biasanya aku duduk sendirian di teras belakang. Selalu dengan Yuna atau anak-anak. Aku memang membuat taman kecil di halaman belakang. Ada kolam ikan, berhias perdu melati dan sebatang pohon jepun. Lalu, ada satu ayunan besar yang biasanya dipakai Yuna dan anak-anak untuk bersantai. Dulu, halaman belakang ini amat hidup. Gelak tawa Yuna dan anak-anak memenuhi udara, mengisi tiap sudut taman. Sekarang, kalau saja tidak ada lampu besar di tengah taman, semuanya tampak tak bernyawa.

Satu batang rokok berlalu, setengah cangkir teh tandas, hatiku masih belum bisa tenang. Aku bukan orang yang intuitif, jarang memakai perasaan jika menghadapi masalah. Namun, sejak aku sadar Yuna mulai berulah, insting itu seperti muncul sendiri dan menajam seiring waktu. Dan, malam ini aku merasa instingku sedang memberi tahu akan terjadi sesuatu tak lama lagi.

Baca Juga: Bantuan Operasional Masjid dan Musala Senilai Rp 6,9 M, Pengajuan Paling Lambat 12 September 2021

Jarum jam sudah menunjuk pukul sebelas malam ketika aku mengunci pintu yang menuju halaman belakang. Aku baru membuka pintu kamarku sendiri ketika kudengar suara dari bagian depan rumah. Tepatnya, sebuah mobil baru saja berhenti di depan rumah.

Aku membuka pintu depan dan di hadapanku sudah berdiri Yuna yang seperti hendak mengetuk pintu.

“Kupikir kamu lupa jalan pulang, Yuna.”

“Sudahlah, Ru. Aku tidak ingin bertengkar,” sahutnya sambil menghalau tubuhku dari jalannya.

Yuna langsung masuk kamar. Ia menyambar koper dari sudut kamar, mengambil beberapa potong pakaian serta botol-botol kosmetik di meja rias, dan memasukkan semuanya ke dalam koper.

“Mau ke—”

“Aku tidak akan menjawab,” potong Yuna. “Besok siang aku akan kembali ke sini, membawa anak-anak untuk tinggal di tempatku.”

Baca Juga: Perum Perhutani Belum Kenakan Rp 6,5 M Tarif Uang Letak Kayu Jasa Makloon PT LAP di Gudang Cepu dan Brumbung

“Di tempatmu? Memangnya kamu punya rumah lain? Uangmu banyak sekali, ya, sampai bisa beli rumah lain?” Aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku. Aku mencengkeram dua lengan Yuna, memaksanya melihatku. “Yuna, kamu sadar apa yang kamu lakukan ini? Apa kamu sudah benar-benar memikirkan segalanya? Siapa laki-laki itu, Yuna? Siapa yang telah membuatmu tega meninggalkan anak-anak berhari-hari tanpa kabar?”

Yuna meringis kesakitan, tetapi aku belum ingin melepaskannya. Aku butuh jawaban atas semua pertanyaanku.

“Sakit, Ru,” lirih Yuna.

“Jawab saja, Yuna. Apa pertanyaan-pertanyaan itu terlalu sulit bagimu, seorang pengacara terkenal dengan banyak klien besar?”

Baca Juga: Kemenag Akan Cairkan 300 Ribu Kuota Insentif Guru Madrasah Bukan PNS, Ini Kriterianya

Sayangnya, nada tinggiku kali ini rupanya membangunkan Kirana dan Dira. Dua bocah itu sudah berada di ambang pintu dan melihatku masih mencengkeram lengan ibu mereka. Serta-merta aku menjauhkan tanganku dari tubuh Yuna. Beruntungnya aku, aku masih bisa berpikir jernih barang beberapa detik.

Aku meraup tubuh anak-anak dan membawa mereka kembali ke kamar. Kututup pintu kamar, kubiarkan Yuna bertindak sesukanya. Aku sudah pada titik tidak peduli. Akan kulayangkan surat cerai dalam beberapa hari ke depan. Gemetaran aku memeluk dua buah hatiku, membayangkan kehidupan mereka nanti tanpa sosok ibu yang seharusnya bisa menemani sepanjang waktu.

Suara mesin mobil kembali terdengar, meraung kencang, lalu menjauh dari pendengaranku.

Aku menangis. Seumur hidupku, baru kali ini aku benar-benar menangis. Aku merasa runtuh seketika, merasa hancur luar biasa. Aku terus menangis tanpa suara, sampai aku melempar pertanyaan pada diri sendiri: kapan kiranya semesta berpihak padaku?

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

CERPEN: Menunggu Kereta

Minggu, 17 Oktober 2021 | 20:23 WIB

PUISI : Cappucino Pagi

Minggu, 17 Oktober 2021 | 07:06 WIB

PUISI: Melukis dalam Doa dan Harapan

Minggu, 17 Oktober 2021 | 07:03 WIB

Puisi Cevi Whiesa Manunggaling Hurip.

Rabu, 13 Oktober 2021 | 07:35 WIB

PUISI: Sekisah Cappucino

Selasa, 12 Oktober 2021 | 07:34 WIB

CERPEN: Pertemuan Kedua

Minggu, 10 Oktober 2021 | 18:53 WIB

PUISI: Rembulan Menangis

Minggu, 10 Oktober 2021 | 08:18 WIB

PUISI: Aku Akan Menangis Lain Kali

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 20:21 WIB

Kita Membutuhkan Kata Saling

Kamis, 7 Oktober 2021 | 13:57 WIB

Guru Berdaster

Rabu, 6 Oktober 2021 | 15:42 WIB

Secret Door

Minggu, 3 Oktober 2021 | 15:50 WIB

Lelaki Air Mata Ikan

Rabu, 29 September 2021 | 20:18 WIB

Cenayang Bukit Mawar 2

Sabtu, 25 September 2021 | 21:57 WIB

Cenayang Bukit Mawar 1

Jumat, 24 September 2021 | 16:55 WIB

Khutbah Angin

Rabu, 22 September 2021 | 21:07 WIB

Hijab: Hanya Cerita Pendek

Rabu, 22 September 2021 | 09:47 WIB

Ternyata Kau Bukan Lelaki

Selasa, 21 September 2021 | 22:07 WIB

Pelangiku untuk Gaza

Selasa, 21 September 2021 | 08:22 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Enam

Selasa, 14 September 2021 | 21:46 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Lima, Rumah Kaca

Senin, 13 September 2021 | 21:05 WIB
X