• Senin, 18 Oktober 2021

Dua Gelas Kisah Bagian Delapan

- Selasa, 31 Agustus 2021 | 17:57 WIB
Dua Gelas Kisah (Dok.klikanggaran.com/Sekar)
Dua Gelas Kisah (Dok.klikanggaran.com/Sekar)

Baca Juga: Indonesia di Posisi ke 6 Dunia Eksportir Keragenan, Industri Rumput Laut Masuk Daftar Prioritas Investasi

Kirana mengangguk. Ia membenamkan diri ke pelukanku. Tak lama, kudengar napasnya mulai teratur. Pelan-pelan aku bangkit dari ranjang anak-anak. Aku butuh menghirup udara segar sejenak sebelum beranjak tidur.

Aku membawa secangkir teh jahe dan dua batang rokok. Cukup untuk menghalau penat dan gundah yang beberapa hari ini selalu menang melawan diriku.

Tidak biasanya aku duduk sendirian di teras belakang. Selalu dengan Yuna atau anak-anak. Aku memang membuat taman kecil di halaman belakang. Ada kolam ikan, berhias perdu melati dan sebatang pohon jepun. Lalu, ada satu ayunan besar yang biasanya dipakai Yuna dan anak-anak untuk bersantai. Dulu, halaman belakang ini amat hidup. Gelak tawa Yuna dan anak-anak memenuhi udara, mengisi tiap sudut taman. Sekarang, kalau saja tidak ada lampu besar di tengah taman, semuanya tampak tak bernyawa.

Satu batang rokok berlalu, setengah cangkir teh tandas, hatiku masih belum bisa tenang. Aku bukan orang yang intuitif, jarang memakai perasaan jika menghadapi masalah. Namun, sejak aku sadar Yuna mulai berulah, insting itu seperti muncul sendiri dan menajam seiring waktu. Dan, malam ini aku merasa instingku sedang memberi tahu akan terjadi sesuatu tak lama lagi.

Baca Juga: Bantuan Operasional Masjid dan Musala Senilai Rp 6,9 M, Pengajuan Paling Lambat 12 September 2021

Jarum jam sudah menunjuk pukul sebelas malam ketika aku mengunci pintu yang menuju halaman belakang. Aku baru membuka pintu kamarku sendiri ketika kudengar suara dari bagian depan rumah. Tepatnya, sebuah mobil baru saja berhenti di depan rumah.

Aku membuka pintu depan dan di hadapanku sudah berdiri Yuna yang seperti hendak mengetuk pintu.

“Kupikir kamu lupa jalan pulang, Yuna.”

“Sudahlah, Ru. Aku tidak ingin bertengkar,” sahutnya sambil menghalau tubuhku dari jalannya.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

CERPEN: Menunggu Kereta

Minggu, 17 Oktober 2021 | 20:23 WIB

PUISI : Cappucino Pagi

Minggu, 17 Oktober 2021 | 07:06 WIB

PUISI: Melukis dalam Doa dan Harapan

Minggu, 17 Oktober 2021 | 07:03 WIB

Puisi Cevi Whiesa Manunggaling Hurip.

Rabu, 13 Oktober 2021 | 07:35 WIB

PUISI: Sekisah Cappucino

Selasa, 12 Oktober 2021 | 07:34 WIB

CERPEN: Pertemuan Kedua

Minggu, 10 Oktober 2021 | 18:53 WIB

PUISI: Rembulan Menangis

Minggu, 10 Oktober 2021 | 08:18 WIB

PUISI: Aku Akan Menangis Lain Kali

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 20:21 WIB

Kita Membutuhkan Kata Saling

Kamis, 7 Oktober 2021 | 13:57 WIB

Guru Berdaster

Rabu, 6 Oktober 2021 | 15:42 WIB

Secret Door

Minggu, 3 Oktober 2021 | 15:50 WIB

Lelaki Air Mata Ikan

Rabu, 29 September 2021 | 20:18 WIB

Cenayang Bukit Mawar 2

Sabtu, 25 September 2021 | 21:57 WIB

Cenayang Bukit Mawar 1

Jumat, 24 September 2021 | 16:55 WIB

Khutbah Angin

Rabu, 22 September 2021 | 21:07 WIB

Hijab: Hanya Cerita Pendek

Rabu, 22 September 2021 | 09:47 WIB

Ternyata Kau Bukan Lelaki

Selasa, 21 September 2021 | 22:07 WIB

Pelangiku untuk Gaza

Selasa, 21 September 2021 | 08:22 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Enam

Selasa, 14 September 2021 | 21:46 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Lima, Rumah Kaca

Senin, 13 September 2021 | 21:05 WIB
X