• Senin, 15 Agustus 2022

Dua Gelas Kisah Bagian Delapan

- Selasa, 31 Agustus 2021 | 17:57 WIB
Dua Gelas Kisah (Dok.klikanggaran.com/Sekar)
Dua Gelas Kisah (Dok.klikanggaran.com/Sekar)

Matahari kembali muncul. Kirana dan Dira kegirangan. Mereka sudah selesai dengan gelembung-gelembung sabun dan sekarang bermain ayunan. Keduanya seolah-olah berlomba mencapai titik tertinggi. Tawa mereka begitu meneteramkan hatiku.

“Aku tidak menyangka Yuna seberani itu,” kata Moy. Ia berdiri, menghampiri perdu melati, lalu memetik salah satu kuntumnya. “Andai aku punya keberanian seperti itu, Ru, segalanya pasti akan berbeda.”

Aku meringis mendengar ucapan Moy. Berandai-andai tidak akan mengubah apa-apa. Nyatanya, itulah yang terjadi. Setelah nyaris bertubrukan di selasar, aku dan Moy seperti benar-benar dipisahkan oleh semesta. Aku sibuk dengan hidupku: kenakalan-kenakalan khas remaja, tugas sekolah yang seolah-olah tidak ada habisnya, juga aktivitas pencarian jati diri yang tak absen kukerjakan. Moy juga seperti amat menikmati hari-harinya. Entahlah, tahun-tahun itu, dan belasan tahun setelahnya, terasa begitu kabur. Aku tidak pernah mendapati sosok Moy, bahkan dalam mimpiku sekali pun.

Sampai tiga tahun lalu, aku menemukannya.

Baca Juga: Tak Kunjung Lengkapi Berkas Sidang Gugatan Limbah TTM Blok Rokan, Ini Kata Hakim pada Kuasa KemenLHK

“Aku ingat pertama kalinya kita berjumpa lagi setelah belasan tahun itu, Ru. Kamu datang dengan buket bunga. Aku tidak tahu nama bunga itu, tetapi aku suka aromanya. Mengingatkanku akan aroma pagi hari di taman sekolah kita dulu. Dan, yang kamu lakukan setelah kita berjumpa lagi … hanya duduk menungguiku selama entah berapa jam.” Moy menoleh ke arahku. “Betul, kan?”

“Moy, please ….”

Moy tersenyum. Ia kembali duduk di hadapanku. “Sudahlah, Ru. Aku tidak akan mengungkitnya lagi. Sekarang ceritakan padaku. Apa Yuna kembali lagi setelah kepergian malam itu?”

Aku menghela napas panjang setidaknya dua kali. Berat sekali. Semakin berat setelah beberapa episode kuceritakan pada Moy. Akan tetapi, memang harus seperti ini jalannya. Tidak ada makan siang yang gratis, tidak ada senyum tanpa perjuangan yang mahasialan.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puisi : Menjadi Kartini

Kamis, 21 April 2022 | 07:18 WIB

Fabel : Kisah Amora, Ayam yang Belajar Ikhlas

Kamis, 7 April 2022 | 07:39 WIB

CERPEN: Aku Tunggu di Hotel Sekarang!

Minggu, 13 Maret 2022 | 07:47 WIB

CERPEN: Aku Kehilangan Diriku Sendiri

Selasa, 1 Maret 2022 | 14:44 WIB

CERPEN: Taman Langit

Selasa, 1 Maret 2022 | 10:46 WIB

Puisi Malam yang Sakit

Jumat, 28 Januari 2022 | 21:11 WIB

Cerpen Ramli Lahaping: Segitiga Pembunuhan

Jumat, 21 Januari 2022 | 12:34 WIB

CERITA ANAK: Kerang untuk Damar

Minggu, 9 Januari 2022 | 16:11 WIB

CERPEN: Dekap Hangat yang Selamanya

Sabtu, 1 Januari 2022 | 11:43 WIB

Tiga Puisi Karya ALfi Irsyad Ibrahim

Jumat, 24 Desember 2021 | 18:52 WIB

Cerbung: Kabut Pembatas Dua Hati

Minggu, 19 Desember 2021 | 13:29 WIB

Cerbung Kabut Pembatas Dua Dunia

Jumat, 17 Desember 2021 | 20:05 WIB

Cerbung: Tanda Cinta di Wajah Pias

Rabu, 15 Desember 2021 | 18:28 WIB

Cerbung: Wajah Pias dalam Pelukan

Selasa, 14 Desember 2021 | 21:26 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Hati Venerose

Kamis, 9 Desember 2021 | 18:06 WIB

Cerbung: Tirai Hitam di Antara Dua Hati

Kamis, 9 Desember 2021 | 17:40 WIB

Puisi untuk Sahabat

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:52 WIB

Puisi: Aku Adalah

Kamis, 9 Desember 2021 | 16:32 WIB

Puisi: Jeritan Malam

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:31 WIB

Cerbung Samudra Ingin Kembali

Minggu, 5 Desember 2021 | 16:28 WIB
X