• Senin, 18 Oktober 2021

Dua Gelas Kisah Bagian Lima

- Selasa, 31 Agustus 2021 | 10:17 WIB
Dua Gelas Kisah (Dok.klikanggaran.com/Sekar)
Dua Gelas Kisah (Dok.klikanggaran.com/Sekar)

Wajah Moy tampak murung. Ia akan tetap seperti itu jika aku tidak mulai bicara lagi.

“Aku pernah melihatmu di kantin sekolah, Moy. Itu … dua puluh tiga tahun lalu?”

Moy bereaksi. Ia tak lagi meletakkan dagunya di meja. Duduknya tegak, senyumnya muncul. Seperti malu-malu mengakui kesalahannya, seperti gadis kecil yang ketahuan memakai lipstik ibunya. Aku harus berulang kali meyakinkan diri agar tidak bertindak konyol. Ya, ini masih ruang publik. Aku tak mau orang-orang memandangku dengan heran.

“Kantin sekolah?”

Aku mengangguk.

“Ya, aku ingat itu, Ru. Aku ingat betapa darah serasa berhenti terpompa begitu kamu menyapaku.”

Baca Juga: Bantuan Operasional Masjid dan Musala Senilai Rp 6,9 M, Pengajuan Paling Lambat 12 September 2021

Betul sekali. Saat itu aku melihat wajah Moy yang tadinya ceria—karena seperti tak sabar memilih kudapan yang ada di meja kantin—menjadi pucat pasi seperti baru saja melihat hantu. Moy bahkan tidak membalas sapaanku dan pergi begitu saja dari kantin.

Lain waktu, aku dan Moy berpapasan di selasar kelas. Moy jalan sembari menunduk, entah apa yang ditekuninya. Kami nyaris bertabrakan jika saja aku tidak berhenti melangkah. Aku menggodanya sedikit. Dan, ketika Moy mendongak, aku melihat matanya melebar dan napasnya tersendat.

“Aku luar biasa takut, Ru.”

“Kenapa?”

“Dan, aku kelaparan sepanjang sisa hari di sekolah karena gagal membeli sesuatu di kantin.”

Baca Juga: Perum Perhutani Kelebihan Menerima Biaya Penggantian Pelaksanaan IPK Tol Cisumdawu Sebesar Rp 848 Juta

Moy tidak menjawab pertanyaanku, maka kuulangi lagi, “Kenapa takut padaku, Moy? Kamu bahkan belum mengenalku saat itu. Kita belum benar-benar bersalaman sambil bertukar nama. Aku tahu namamu dari anak lain yang kebetulan mengenalmu.”

“Dan, aku juga tahu namamu dari teman yang kebetulan mengenalmu.” Moy kembali murung. Katanya lagi, “Lanjutkan saja ceritamu, Ru. Aku ingin tahu seperti apa pria yang menjemput Yuna pagi itu?”

Ah, Moy. Aku belum ingin sampai di titik itu.

***

Baca Juga: Dugaan Suap, Bupati Probolinggo dan Suaminya bersama 20 Orang Lainnya Jadi Tersangka. 5 orang ditahan

Aku betulan tidak masuk kerja. Aku bahkan sempat menyuruh pulang pengasuh anakku. Padahal, perempuan tengah baya itu tidak keberatan menjaga anak-anak sementara aku beristirahat. Kata Bu Imah, wajahku amat lusuh dan butuh tidur pengganti yang lama. Aku menuruti perkataan Bu Imah. Aku memang butuh tidur setelah malam yang melelahkan.

Aku memandang anak-anak yang tengah bermain di rumah tengah. Televisi besar menyala tanpa suara dan menampilkan kartun Spongebob. Kirana asyik menonton, sementara Dira tampak sibuk dengan sekardus mainannya.

“Nanti saya bangunkan kamu kalau ada apa-apa, Ru. Mereka biasanya tidak terlalu rewel jika sudah makan dan minum susu.”

Itu kalimat terakhir yang kusimak dari Bu Imah tepat sebelum aku memasuki kamar. Tak lupa kuucapkan terima kasih untuk wanita yang sudah dua tahun belakangan menjadi pengasuh Kirana dan Dira.

Baca Juga: AS menyelesaikan penarikan pasukan dari Afghanistan. Akhiri misi 20 tahun kendalikan Afganistan

Berbaring di ranjang bisa menjadi sangat aneh jika sendirian. Aku terbiasa bersama Yuna di ranjang ini. Sekarang aku hanya nyalang menatap langit-langit kamar. Rasa lelah dan mengantuk yang tadi seperti sulit ditahan, sekarang seolah-olah lenyap. Ini baru pukul sembilan lewat dua puluh. Masih terlalu pagi untuk sebuah tidur siang. Aku melihat ke arah kursi di samping lemari. Ada tas Yuna di sana. Tas yang dipakainya kemarin.

Biasanya aku tidak pernah penasaran dengan barang-barang Yuna, tetapi tidak untuk kali ini. Aku bangkit, meraih tas itu, dan kembali duduk di tepi ranjang. Tas itu cukup besar untuk menyimpan beberapa potong baju, tetapi cukup ringkas untuk dibawa bepergian seorang diri. Benda itu tampak kosong, semua baju kotor sudah dikeluarkan dari sana. Akan tetapi, masih ada beberapa kantong kecil yang memancing rasa ingin tahuku. Lima kantong, dan semuanya aman. Beberapa lembar uang ribuan serta uang logam, nota-nota belanja, kertas-kertas catatan entah apa, sebungkus permen mentol, ikat rambut, dan karcis parkir bekas. Hanya saja, perasaanku masih tidak enak.

Baca Juga: Perang Telah Berakkhir: Amerika Serikat Kalah Perang, Tarik Pasukannya dari Afganistan

Kantong-kantong yang baru saja kuperiksa letaknya di bagian luar tas. Aku tahu, tas wanita selalu memiliki satu atau banyak kantong rahasia di bagian dalam. Jadi, aku membukanya, mencari-cari, dan menemukannya. Satu kantong. Di dalamnya ada sesuatu, dan aku sungguh membenci dugaanku.

Semesta tampaknya belum ingin berbaik hati padaku. Mungkin masih jauh. Aku belum layak mendapat ketenangan, malah baru saja disuguhi getir. Aku menemukan beberapa bungkus kondom di kantong itu. Pertanyaannya: untuk apa Yuna membawa kondom—banyak sekali kondom!—selama bepergian ke luar kota yang katanya untuk mengurus pekerjaan? Aku ingin sekali berpikiran positif, tetapi tidak bisa. Yuna bukan pengacara perkara kriminal. Klien-klien di firmanya kebanyakan perusahaan-perusahaan besar dengan perkara ini-itu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan aktivitas bertukar cairan tubuh. Jadi, untuk apa kondom-kondom ini? Mengapa tidak pria di telepon saja yang menyimpan kondomnya? Mengapa harus Yuna yang membawanya? Mengapa harus istriku yang menyimpannya?

Aku mulai kacau. Aku butuh bicara dengan Ferdi.

Meet me at Lunar Café, Ru.

Itu balasan Ferdi semenit setelah aku mengirim pesan lewat WhatsApp. Segera saja aku memacu motorku. Aku bahkan lupa berpamitan dengan Bu Imah dan anak-anak. Ah, biarlah. Nanti bisa kujelaskan. Aku harus mengeluarkan bara dalam tubuhku.

Halaman:

Editor: Kitt Rose

Tags

Artikel Terkait

Terkini

CERPEN: Menunggu Kereta

Minggu, 17 Oktober 2021 | 20:23 WIB

PUISI : Cappucino Pagi

Minggu, 17 Oktober 2021 | 07:06 WIB

PUISI: Melukis dalam Doa dan Harapan

Minggu, 17 Oktober 2021 | 07:03 WIB

Puisi Cevi Whiesa Manunggaling Hurip.

Rabu, 13 Oktober 2021 | 07:35 WIB

PUISI: Sekisah Cappucino

Selasa, 12 Oktober 2021 | 07:34 WIB

CERPEN: Pertemuan Kedua

Minggu, 10 Oktober 2021 | 18:53 WIB

PUISI: Rembulan Menangis

Minggu, 10 Oktober 2021 | 08:18 WIB

PUISI: Aku Akan Menangis Lain Kali

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 20:21 WIB

Kita Membutuhkan Kata Saling

Kamis, 7 Oktober 2021 | 13:57 WIB

Guru Berdaster

Rabu, 6 Oktober 2021 | 15:42 WIB

Secret Door

Minggu, 3 Oktober 2021 | 15:50 WIB

Lelaki Air Mata Ikan

Rabu, 29 September 2021 | 20:18 WIB

Cenayang Bukit Mawar 2

Sabtu, 25 September 2021 | 21:57 WIB

Cenayang Bukit Mawar 1

Jumat, 24 September 2021 | 16:55 WIB

Khutbah Angin

Rabu, 22 September 2021 | 21:07 WIB

Hijab: Hanya Cerita Pendek

Rabu, 22 September 2021 | 09:47 WIB

Ternyata Kau Bukan Lelaki

Selasa, 21 September 2021 | 22:07 WIB

Pelangiku untuk Gaza

Selasa, 21 September 2021 | 08:22 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Enam

Selasa, 14 September 2021 | 21:46 WIB

Kopi Sore dan Timbunan Cinta Lima, Rumah Kaca

Senin, 13 September 2021 | 21:05 WIB
X