• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (12-01-2018) - Awal tahun ini, rakyat Indonesia dipertontonkan dengan dinamika politik nasional yang tidak lazim. Tangisan dan rintian Pimpinan Partai Moncong Putih, seakan-akan mereka bernyanyi elegi syair-syair penderitaan, menampilkan potret partai ini sedang berada dalam duka lara, ratapan, dan penderitaan. Demikian disampaikan oleh Natalius Pigai, Kritikus/Alumni Kelompok Cipayung, pada Klikanggaran.com di Jakarta, Jumat (12/01/2018).

"Ironi memang! Kontras! Ketika setiap politisi selalu dibekali ilmu tentang bagaimana merebut, mempertahankan, dan menyerahkan kekuasaan. Bahkan mereka menyadari, politik itu hanya sebuah permainan, berbagai siasat, taktik, dan instrik. Kawan dan lawan dalam politik juga hal yang lumrah, kekuasaan akan datang juga pergi bergantung musim, setia kawan bergantung kepentingan. Lantas, mengapa Pimpinan partai mempertontonkan perilaku cengeng di depan publik? Apa yang dicari dengan perilaku melodramatik ini?" kata Natalius, menyesalkan sajian di layar panggung politik bangsa ini.

Dalam kaca mata Natalius, di balantika seni, semua alat musik dan simponi memikat hati, mata, dan telinga penonton. Misalnya ketika seorang tua memetik musik dawai tua atau orang muda dengan musik elektronik zaman now, berteriak lantang dan bercerita tanpa makna, tetap saja berlaku di panggung sandiwara. Seni, drama, dan tari, mampu menyandera naluri, terbawa halusinasi dan terbayang imajinasi.

Tapi, Natalius menggarisbawahi, tentu saja berbeda, melodrama politik yang dimainkan partai moncong putih, saat negeri ini dalam kondisi dinamika politik Indonesia berada pada turbulensi politik tinggi terkait Pilkada serentak 2018. Karena itu menurutnya, melodra Hasto tidak akan pernah menarik perhatian publik. Justru menjadi bahan olokan, candaan, sindiran, ejekan, bahkan kehilangan respek terhadap Megawati, sang Politisi Kawakan Indonesia, Sekjen, Partai PDIP.

"Kenapa demikian? Perilaku cengeng bukan karena kantor DPP PDIP dibom teroris atau rudal. Tetapi, justru membela Aswar Anas yang sering bercitra negatif terkait dugaan pelanggaran moralitas dan etika, khususnya wanita," tandasnya.

Natalius mengingatkan, cerita-cerita dugaan amoralitas tentang Aswar Anas itu bukan hal baru. Jauh sebelum PDIP mencalonkan beliau menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur, opini masyarakat Jawa Timur telah terbentuk meskipun sebatas dugaan hubungan gelapnya dengan Ayu Ashary sudah diberitakan berbagai media sejak lama

"Lantas, kenapa PDIP begitu terasa sakit ketika dugaan perilaku amoralitas  diungkit?" tanyanya.

"Rakyat telah menyadari dan membantu mengingatkan PDI Perjuangan agar berjalan di rel revolusi mental sebagaimana jargonnya. Bukannya menyampaikan terima kasih kepada insan pers dan rakyat atau netizen, tetapi malah menangis bersedih," sesal Natalius.

Menurut pandangan Natalius, dalam politik tidak ada yang mustahil, bahkan bisa diduga bahwa PDI Perjuangan memainkan politik melodrama secara terencana (by design), agar pendukung Aswar Anas tetap terjaga dan simpati terhadap PDIP. Sedangkan sedari awal menurutnya PDIP seperti tidak berniat mengusung Aswar Anas, tetapi menyiapkan kader nasionalis atau dari wilayah Mataraman (Madiun, Ngawi dll). Ternyata, strategi tersebut menurutnya hanya untuk mengantarkan Puti Guntur Sukarno Putri dalam panggung kekuasaan di Jawa Timur, salah satu wilayah sentrum utama politik Indonesia.

"Tidak mengherankan jika banyak orang menduga, tindakan PDIP tersebut cenderung memainkan strategi machiavelian, menjustifikasi framing negatif Aswar Anas. Aswar Anas dijadikan alat dongkrak," cetusnya.

Thesis tersebut diatas menurut Natalius harus diuji dan diutarakan, karena partai politik adalah instrumen utama untuk mencapai kekuaaan. Sehingga Megawati tidak rela jika kekuasan negara ini jatuh di tangan orang lain di luar tra Bung Karno. Berbeda ketika rakyat memaksa PDIP usung Jokowi, karena pada tahun 2014 belum ada tra Sukarno, termasuk Megawati laku dijual.

"Harus digarisbawahi bahwa salah satu cara pandang Megawati yang harus  dikritik adalah mendorong PDIP mengembangkan Nasionalisme Personifikasi Individu. Yaitu Sukarnoisme sebagai Nasionalisme. Mengkultuskan Sukarno identik dengan nasionalisme itu sangat paradoks, karena akan menggeser Nasionalisme Cinta Tanah Air dan Bangsa. Apalagi dalam perjalanannya Sukarno pernah mendorong doktrin perpaduan; nasionalisme, agama, dan komunisme, sebagai spirit dalam pembangunan di zaman orde lama," papar Natalius.

Semangat kebangsaan PDIP dengan mengkultuskan individu Sukarno menurutnya adalah sebagai simbol nasionalisme salah besar. Strategi PDIP dengan jargon nasionalisme dengan personifikasi individu, sehingga di masa yang akan datang, keluarga Sukarno dianggap sebagai keluarga nasionalis. Padahal menurutnya belum tentu.

"Lagi-lagi saya katakan, PDIP kurang dapur akademik atau intelektual untuk bisa mengembangkan politik kebangsaan secara baik dan benar. Oleh Karena itu, tidak mengherankan jika dikaji secara akademik pengertian nasionalisme menurut para ahli adalah merasa, negara, tanah, dan air ini milik bersama. Silakan membaca Theori Ernes Renan, Hans Kohn, dan lain sebagainya. Sementara PDIP menganggap Nasionalisme itu identik dengan oknum individu manusia," lanjutnya.

Masih menurut Natalius, Nasionalisme yang benar adalah merasa Indonesia milik bersama, membangun negara dengan tanggung renteng, mampu melakukan distribusi kekuasaan dan pembangunan, tidak monopoli apalagi oligopoli, tidak boleh mengembangkan politik nepotisme, politik kroni, korupsi. Membangun Indonesia dengan sistem meritokrasi.

Natalius juga memoertanyakan, ketika PDIP sebagai partai yang menjamin kebhinekaan dan pluralitas, tetapi ketika berkuasa didominasi kelompok beraliran marhaen, wakil Kristen tergeser, maruarar Sirait (Parkindo) tidak dikasih apa-apa, Andreas Parera wakil Katolik menjadi Duta Besar di negara besar saja susah. Apakah itu yang namanya Nasionaliame?

"Bagaimanapun juga kita sedang menyaksikan, ada indikasi besar kematian politik kebangsaan dan bangkitnya politik primordialisme atau politik kroni di PDIP. Kalau itu terjadi, maka PDIP sebagai partai ideologis akan mati suri, karena makin lama rakyat sadar ditinggalkan pemilih. Maka ini adalah awal dari kematian partai besar bernama PDIP, sepeninggal Megawati Sukarno Putri," ujarnya.

Dengan menyesal Natalius pun mengatakan, bahwa akhirnya semua adalah panggung sandiwara. Musikus Tua memetik gitar begitu mempersona, kharismatik, dan sentimentil. Bahkan dia bisa membawa pendengar dalam imajinasi dan romantisme masa lampau. Gitar dan lagu-lagu penyanyi tua tatap hidup dia tidak pernah layu dan lekang oleh lapuknya zaman.

"PDIP pandai bersandiwara, namun sayangnya melodramatika politik PDIP tidak berkharisma dan sentimental. Simponi juga tidak mampu mengikat relung-relung jiwa para pendukung fanatiknya. Maka, mari kita menyaksikan kematian PDIP secara perlahan karena ditinggalkan pendukungnya," tutup Natalius Pigai.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...