• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (02-10-2018) - Manuver yang dilakukan Amerika Serikat (AS) berupa sanksi terhadap Iran telah mendorong sentimen positif bagi harga minyak light sweet yang menjadi acuan.

Harga minyak jenis light sweet kontrak November 2018 menguat 0,33% ke level US$75,55/barel. Sementara, harga minyak jenis brent kontrak pengiriman Desember 2018 juga naik 0,06% ke level US$85,03/barel hingga pukul 10.00 WIB, pada perdagangan hari Selasa (2/10/2018).

Kenaikan tersebut, kompak menjadi bukti menguatnya harga minyak selama 4 hari berturut-turut. Harga brent yang menjadi acuan di Eropa, bahkan mencetak rekor tertingginya dalam 4 tahun terakhir, atau sejak November 2014. Sementara, light sweet tidak mau kalah. Harga yang dipatok sebesar US$75,55/barel merupakan capaian terbaiknya dalam 4 tahun terakhir.

Di lain sisi, per 4 November, Washington meminta pembeli minyak mentah dari Iran (khususnya mitra AS) untuk memangkas pembelian dari Iran hingga ke titik nol. Ancamannya adalah barang siapa yang berbisnis dengan Iran, maka tidak bisa berbisnis dengan Negeri Adidaya.

Sanksi ini berpotensi mengurangi pasokan minyak di pasar dunia. Pada puncaknya di 2018, Iran mengekspor 2,71 juta barel/hari, torehan tersebut hampir 3% dari konsumsi harian minyak mentah global. Namun, mengutip data Refinitiv Eikon, ekspor Iran di September kini hanya tinggal 1,9 juta barel/hari, atau level terendahnya sejak pertengahan 2016.

Di lain pihak, Indonesia sebagai negeri dengan impor sang emas hitam cukup banyak tentu akan kian terpukul dengan menguatnya harga minyak mentah dunia. Terlebih, Indonesia hanya mematok US$70/barel harga minyak dalam APBN 2019.

Selain itu, nilai kurs dolar yang selalu fluktuatif dan cenderung melemah juga ikut mengkerek beban yang harus diterima Ibu Pertiwi bila kenaikan harga minyak terus terjadi.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...
loading...