• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (25/3/2017) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Sirodj menyampaikan persoalan “Radikalisme dan Terorisme”. Menurutnya, Radikalisme dan terorisme itu adalah “ghorib min akhlaqil indunisiyyin” asing bagi akhlak manusia Indonesia. Sebagai bangsa yang memegang terus prinsip kewargananegaraan, yang artinya pula, menghargai hak dan kewajiban satu dengan yang lain, Indonesia menjadi landasan atas tegaknya prinsip Islam yang damai. Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. 

Sebelum mencetuskan statement tersebut, Ketua Umum PBNU itu menjelaskan terlebih dahulu bagaimana tekstur masyarakat Nusantara di era Hindhuisme sampai era Walisongo. Era Ratu Sima Kerajaan Kalingga yang menerima perwakilan dari Kerajaan Persia yaitu Syeikh Subakir untuk mensterilkan dedemit yang menghuni Jawy. Upaya itu berhasil, kecuali dua yang tidak mau dipindah dan masuk Islam yakni Sang Hyang Semar dan Sang Hyang Togog. Kemudian era Mbah Wasil Setono Gedong yang mengajarkan Kitab Asror kepada Raja Joyoboyo yang sekarang masyhur dengan sebutan Kitab Ramalan Joyoboyo. Hingga era Walisongo yang mencoba menkolaborasikan tradisi hindhuisme awal di Indonesia dengan ajaran-ajaran Islam.  

Mengenai isu-isu radikalisme dan terorisme. “Radikalisme pertama dalam Islam adalah pembunuhan Sayyidina Ali bin Abi Tholib oleh Abdurrahman bin Muljam At-Tamimy”. Muljam sendiri merupakan orang yang taat beribadah, gemar berpuasa, suka qoimul lail, pun hafal Al Qur’an. Tapi sikapnya membunuh Sayyidina Ali, tentu sangatlah bertentangan dengan kesehariannya yang demikian tersebut. Dalam konteks Nusantara, beliau menegaskan, apabila berpijak pada rukun budaya nusantara, radikalisme dan terorisme itu “ghorib min akhlaqil indunisiyyin” asing bagi akhlak manusia Indonesia.

Melestarikan yang dianggap orang lain sebagai bid’ah–pun demikian, adalah keharusan. Apalagi bid’ah tersebut (beliau mencontohkan selametan, kendurian, haul, tahlil) diisi dengan ajaran-ajaran Islam. Seperti halnya metode dakwah Walisongo tatkala menyebarkan Islam di Tanah Jawi yang, mengasimilasikan dan mengakulturasikan budaya dengan agama.

Dari uraian tersebut, beliau mengakumulasikan budaya sebagai infrastuktur agama. Sebab, beliau menyitir maqolah, “Islam bukan melulu hanya berbicara Aqidah dan Syari’at. Akan tetapi, Islam merupakan Agama berbudaya, berperadaban, bertamaddun dan berkemanusiaan”.

Ketua Umum PBNU itu juga membawa audiens untuk memahami dan menyelami makna Islam Nusantara secara kolektif. Bahwa Islam Nusantara adalah representasi dari Islam di Indonesia yang santun, damai, menjaga persaudaraan, menghormati hak orang lain, menjaga kedaulatan Negara dan mempertahankan Asas Binnheka Tunggal Ika yang oleh Nahdlatul Ulama disuarakan dengan sangat, sedari dua tahun yang lalu.

 

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...