• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (22/4/2017) - Direktur Polmark Indonesia, Eep Saefullah, mengucapkan terima kasih kepada Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot. Karena ujung dari kontestasi Pilkada Jakarta 2017 adalah ujung yang indah, yaitu ketika pada petang itu langsung terjadi komunikasi di antara Basuki dan Anies.

“Secara publik baik, Basuki maupun Djarot membuat pernyataan-pernyataan publik yang sangat elegan. Mereka bukan saja tampil sebagai kandidat yang layak dalam pilkada, tetapi juga tampil sebagai orang yang paham betul bagaimana cara berdemokrasi secara matang,” ujar Eep dalam diskusi “Pilkada Telah Usai“ di Warung Daun, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (22/4/2017).

Eep menyampaikan, ucapan terima kasih layak diberikan kepada keduanya, kepada semua partai yang mengusung mereka, kepada tim pemenangannya, dan kepada para pendukungnya.

Karena menurutnya Pilkada itu bukan akhir, Pilkada itu justru awal. Inilah awal sebuah proses yang memajukan sebuah kota yang membuat warganya bahagia dan harus kita mulai.

Dia menambahkan, bahwa sebuah peribahasa mengatakan, berkampanye yaitu menulis puisi, memerintah itu membuat prosa. Orang bisa saja membuat puisi dengan mudah, seorang penyair bisa membuat puisi dengan mengatakan, misalnya, lalu tiang listrik itu menjadi sore. Bisa, tapi susah untuk menjelaskan bagaimana tiang listrik itu menjadi sore.

"Tetapi, sebuah syair itu bagus kala tiang listrik menjadi sore, karena kita tidak pernah berpikir tiang listrik itu menjadi sore. Biasanya menjadi siang, nah itu puisi," katanya.

Eep memberikan ilustrasi, bahwa prosa tidak harus ada penokohan, harus ada skenario. Prosa harus ada plot, klimaks antiklimaks, harus ada konflik, dan seterusnya. Sebuah prosa menggambarkan sebuah proses dari hulu ke hilir dalam satu tautan yang saling terjaga dan memeritah.

"Anies dan Sandi, atau dulu Jokowi dan Basuki, bisa saja membuat prosa sepanjang kampanye, tetapi sekali kemudian diberikan amanah, maka mereka harus membuat prosa," ujarnya.

Karena itu, lanjut Eep, mari kita beri kesempatan jika kelak saatnya tiba, Jakarta punya gubernur dan wakil gubernur baru, dan kita beri kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan bahwa mereka adalah penulis prosa yang baik. Bahwa mereka bisa memimpin dengan baik, melanjutkan keberhasilan Basuki dan Djarot.

"Semua orang, tanpa kecuali, begitu banyak energi yang kita habiskan. Perhatian dan lain lain selama Pilkada. Semuanya layak belaka, semuanya sepadan belaka, karena kemudian orang Jakarta merasakan nikmatnya. Bahwa demokrasi di Jakarta adalah pohon yang buahnya manis," tandanya.

 

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...