• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Palembang, Klikanggaran.com (14-04-2018) - Memasuki usia yang ke 5 tahun berdirinya Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, tepatnya pada 22 April mendatang, berbagai isu dugaan praktik korupsi nampaknya masih akan menjadi konsumsi yang tak mengenakkan di mata publik Serepat Serasan.

Atau, istilahnya menjadi kado pahit menjelang HUT Kabupaten PALI tahun 2018. Bagaimana tidak, hampir setiap hari sejumlah praktik dugaan korupsi dari kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Muara Enim itu, utamanya proyek infrastruktur baik konstruksi bangunan dan jalan, berindikasikan dikorup. Dan, selalu hits di beberapa media pemberitaan.

Namun, hal tersebut seakan tak membuat para pengambil kebijakan di Kabupaten PALI merasa malu atau setidaknya berusaha untuk merubah pola kerjanya.

"Usia Kabupaten PALI saat ini sudah memasuki usia 5 tahun. Jika kita bandingkan dengan usia seorang anak, pada saat umur 5 tahun, anak tersebut tentunya sudah bisa berjalan dan berlari. Kalau seorang anak sudah berusia 5 tahun akan tetapi masih belum bisa berjalan dan masih saja merangkak, mungkin anak tersebut sedang dihinggapi suatu penyakit," ujar Enggi Bramanova, salah satu putra asli Kabupaten PALI, mengawali pembicaraan dengan Klikanggaran.com, Sabtu (14/4/18).

"Mari kita sejenak mengoreksi dari setiap program yang dicetuskan di Kabupaten PALI. Salah satunya perihal program pembangunan proyek insfrastruktur baik konstruksi maupun jalan. Yang semenjak berdirinya Kabupaten PALI selalu digembar-gemborkan untuk terlebih dahulu diutamakan. Bahkan, demi program insfrastruktur, Pemkab PALI rela menunda pembangunan kantor-kantor pemerintahan sehingga kantor Bupati pun saat ini masih numpang dan banyak kantor berbagai SKPD masih ngontrak pada rumah warga. Belum lagi tata ruang Ibukota Kabupaten PALI (Kota Pendopo_red), yang tak jelas tata ruangnya dan tak beraturan. Dimana area bisnis, area pendidikan, dan lokasi perkantoran," papar Enggi.

"Tentunya, sebagai masyarakat yang turut mencintai Kabupaten PALI, kita sangat mengapresiasi dan mendukung program infrastruktur yang telah dicanangkan. Karena dengan baiknya akses jalan, maka akan berdampak pada pertumbuhan perekonomian masyarakat di Kabupaten PALI itu sendiri," ujarnya.

"Namun, yang menjadi pertanyaan saat ini, selama hampir lima tahun membangun berbagai proyek infrastruktur utamanya jalan, jalan mana di Kabupaten PALI ini yang dibangun sudah mencapai target?" tanya Enggi.

Bahkan, pembangunan sarana jalan di Kabupaten PALI yang notabane wilayahnya sedikit, yang hanya memiliki lima wilayah administratif kecamatan (Talang Ubi, Abab, Penukal, Penukal Utara, dan Tanah Abang), menurutnya terkesan asal jadi.

"Baru saja selesai dikerjakan, di lapangan sudah hancur kembali. Ini kan aneh, belum lagi indikasi dugaan mark up. Masa, jalan di Pali 1 km bisa menghabiskan anggaran hingga hampir 4 milyar," ujar Enggi binggung.

Untuk itulah, sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Kabupaten PALI, bahkan insya Allah mati pun di Bumi PALI, berharap agar kiranya para pemangku kepentingan jangan terkesan tutup mata perihal permasalahan ini.

"Masyarakat PALI sudah lelah dan muak melihat berbagai proyek baru. Beberapa bulan dibangun dengan uang milyaran rupiah, tapi baru beberapa bulan sudah amburadul," cetus Enggi.

"Semoga dengan bertambahnya usia Kabupaten PALI yang ke-5 tahun di 2018 ini, bisa menjadi kabupaten yang lebih baik lagi, dan bisa sejajar dengan kabupaten/kota lainnya di wilayah Sumatera Selatan. Tak kalah urgent, agar kiranya lebih mengutamakan program-program yang bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat PALI. Dimana saat ini ekonominya sedang carut marut akibat dampak harga komuditi karet yang tak kunjung mengalami kenaikan. Bukan program-program yang terkesan hura-hura, yang tanpa ada keuntungan sama sekali bagi masyarakat PALI," Enggi.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...