• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Palembang, Klikanggaran.com (21-10-2018) - Joint Operating Body (JOB) Pertamina Hulu Energi Jambi Merang menandatangani kontrak perjanjian jual beli gas (PJBG) senilai US$ 577 juta dengan tiga pihak yaitu PT Pembangunan Kota Batam, PD Pertambangan dan Energi Provinsi Sumatera Selatan, dan PT Chevron Pacific Indonesia.

Direktur PHE Jambi Merang, Eddy Purnomo, kala itu (2010) menjelaskan, gas yang dijual dari blok Jambi Merang merupakan satu-satunya gas yang menjadi andalan pemerintah dari blok-blok migas yang ada di wilayah Sumatera Selatan.

Ia merinci, alokasi untuk masing-masing pembeli adalah sebesar 48.400 Billion British Thermal Unit (BBTU) untuk PD Pertambangan dan Energi Provinsi Sumatera Selatan. Perusahaan daerah tersebut akan menggunakan gas itu untuk memasok kebutuhan energi di Sumatera Selatan dan industri di sekitar Jambi.

Blok Jambi Merang saat ini dioperasikan oleh JOB Jambi Merang yang sahamnya dimiliki oleh PT PHE Jambi Merang sebanyak 50%, Talisman Jambi Merang 25%, dan Pacific Oil & Gas 25%. Awalnya, PSC-JOB Blok Jambi Merang pertama kali ditandatangani pada 10 Februari 1989 untuk jangka waktu 30 tahun hingga 9 Februari 2019.

Perjanjian jual beli gas antara PDPDE Sumsel dengan PHE Jambi Merang tertuang di dalam perjanjian jual beli gas Nomor MAN-J/10-0954 dan 11-PJBG/PDPDE.JOBPTJM/X/2010 tertanggal 2 Nopember 2010 dengan volume sebesar 15 MMSCFD atau setara 15 X 1.040 = 15.600 MMBTUD.

Harusnya, hak jual ini sangat menguntungkan Pemprov Sumsel bilamana bekerja sama dengan pihak ketiga yang beritikad baik dan saling menguntungkan. Selisih harga pembelian dan penjualan sebesar $ 1 akan menghasilkan keuntungan puluhan miliar per tahun atau bahkan mendekati ratusan miliar per tahun.
Perjanjian penjualan gas dengan broker (pembeli) PDPDE Gas justru sangat tidak menguntungkan PDPDE Sumsel bila dilihat dari perjanjian jual beli antara PDPDE Sumsel dan PT PDPDE Gas dan amandement perjanjian jual beli tersebut.

Perjanjian jual beli antara PDPDE Sumsel dan PT PDPDE Gas ditandatangani oleh Dirut PDPDE Sumsel kala itu, yang disinyalir adalah mantan salah satu Direktur PT PDPDE Gas. Yaitu Caca Isa Saleh, dan yang mewakili PT PDPDE Gas dalam perjanjian tersebut adalah Ahmad Yaniarsah Hasan, yang menggantikan Caca Isa Saleh selaku Dirut PDPDE Sumsel setelahnya.

Pokok perjanjian yang sangat tidak menguntungkan PDPDE Sumsel antara lain menyelesaikan pembangunan pipa gas dari Simpang Abadi sampai titik penyerahan sepanjang kurang lebih 52 (lima puluh dua) kilo meter dengan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh penjual (PDPDE Sumsel) dan selama periode pemasukan gas tanpa adanya tanggung jawab pembeli terhadap kegagalan melakukanya. Kemudian pajak-pajak yang harus ditanggung oleh penjual dalam hal ini PDPDE Sumsel.

Harga kontrak pembelian sudah disepakati antara penjual (PDPDE Sumsel) dan broker (PT PDPDE Gas) sebesar $ 5,5 (lima koma lima Dolar Amerika Serikat) ditambah toll fee sesuai tagihan PT Transfortasi Gas Indonesia dan tanpa keterlibatan PDPDE Sumsel dalam penjualan oleh broker atau PDPDE Gas kepada pihak ketiga.

Berdasarkan perjanjian ini, PDPDE Sumsel disinyalir hanya mendapatkan toll fee dengan kisaran $ 0,07 atau 7 sent dolar per MMBTU. Sementara selisih harga jual dan beli menjadi keuntungan kotor PT PDPDE Gas.

Hitung-hitungan kasar berdasarkan kontrak pembelian antara PT PDPDE Gas dengan PT Lontar Papyrus Pulp dan Paper Industri sebesar 10 BBTUD sejak 11 Nopember 2011 bilamana selisih harga $ 2 BBTUD maka keuntungan kotor PDPDE Gas sebesar 10 X 30 X 12 X $ 2 X 1.040 X Rp12.000 = Rp89.856.000.000/tahun.

Sementara PDPDE Sumsel hanya mendapat toll fee sebesar 10 X 30 X 12 X $ 0,07 X 1.040 X Rp12.000 = Rp3.144.960.000/tahun.

Dikarenakan PDPDE Sumsel tidak mampu menyediakan fasilitas pipa gas sepanjang 52 Km, maka PT PDPDE Gas menyediakan secara keseluruhan dengan skema perjanjian PDPDE Sumsel mendapat saham 15% PDPDE Gas dan semua perjanjian pembelian gas ke PHE Jambi Merang diambil alih PDPDE Gas.
PDPDE Sumsel hanya mendapat deviden saham yang ditentukan oleh PT PDPDE Gas. Sementara keuntungan jual beli gas menjadi hak sepenuhnya dari PDPDE Gas, termasuk kewajiban PDPDE Gas kepada PDPDE Sumsel yang tertuang di dalam perjanjian jual beli gas diabaikan.

Pokok-pokok perjanjian yang diabaikan dalam perjanjian jual beli antara PDPDE Gas dan PDPDE Sumsel meliputi pembayaran setiap bulan oleh pembeli ke rekening PDPDE Sumsel berdasarkan jumlah minimum pembelian berdasarkan ketentuan perjanjian.

Pembeli dalam hal ini PT PDPDE Gas harus menerbitkan Standby Letter Of Credit (SLBC) sebagai jaminan yang tidak dapat dicabut kembali dan tidak bersyarat dengan mata uang dollar Amerika dengan jumlah setara 90 hari atau untuk 3 bulan dikalikan harga kontrak yang berlaku. Namun, hal ini sepertinya diabaikan.

Bilamana pembeli dalam hal ini PDPDE Gas gagal menyediakan SLBC, maka penjual dalam hal ini PDPDE Sumsel berhak membatalkan kontrak jual beli gas dan mencairkan SLBC sesuai kewajiban pembeli atau PDPDE Gas.

Pembeli dalam hal ini PDPDE Gas harus memberikan jaminan pelaksanaan sebesar $ 250.000 yang diserahkan setelah 30 hari penandatanganan kontrak antara PDPDE Sumsel dan PDPDE Gas, namun disinyalir diabaikan.

Pembeli dalam hal ini PDPDE Gas harus memenuhi kontrak minimum pembelian gas pada tahun pertama sebesar 85% dari total Jumlah Kontrak Harian (JKH) sebesar 12,75 MMSCFD dan membayar jumlah pembelian minimum tersebut setiap bulannya kepada PDPDE Sumsel. Kemudian pembeli dalam hal ini PDPDE Gas harus memenuhi kontrak minimum pembelian gas pada tahun kedua sebesar 90% dari total Jumlah Kontrak Harian (JKH) sebesar 13,50 MMSCFD dan membayar jumlah pembelian minimum tersebut setiap bulannya kepada PDPDE Sumsel.

Kedua syarat perjanjian ini disinyalir tidak pernah dilaksanakan, dimana seharusnya PDPDE Gas membayar penalti sebesar (12,75 – 10) X 30 x 12 X 1.040 X $ 5,5 X 12.000 = Rp67.953.600.000 pada tahun pertama kepada PDPDE Sumsel sesuai kontrak perjanjian jual beli.

Kemudian untuk tahun kedua PDPDE Gas harus membayar penalti sebesar (13,50 – 10) X 30 x 12 X 1.040 X $ 5,5 X 12.000 = Rp86.486.400.000 kepada PDPDE Sumsel karena tidak mampu memenuhi kuota pembelian.

Pada tahun kedua, seharusnya telah dilakukan amandemen perjanjian untuk memenuhi kuota perjanjian jual beli sebesar 15 MMSCFD atau 15 juta kaki kubik per hari antara PDPDE Sumsel dan PT PDPDE Gas atau mengakhiri perjanjian tersebut. Namun, amandemen perjanjian dibuat tahun ke-empat setelah kontrak dengan PLTG Purwodadi ditandatangani oleh PDPDE Gas dan PT PLN.

Sangat disayangkan, perjanjian jual beli gas antara PDPDE Sumsel dan PT PDPDE Gas tetap dilanjutkan dengan klausal perjanjian yang sangat merugikan Pemprov Sumsel atau masyarakat Sumsel secara keseluruhan.

Jumlah potensi keuangan yang disinyalir hilang karena lemahnya analisis hukum dan ekonomi oleh Biro Hukum dan Biro Ekonomi Pemprov Sumsel mendekati besaran nominal Rp96.000.000.000/tahun selama kurang lebih 7 tahun sejak penandatanganan kontrak jual beli antara PDPDE Sumsel dan PDPDE Gas. Atau, setara Rp 672 milyar potensi PAD yang hilang dari kontrak hak jual gas PHE Blok Jambi Merang.

Pada tanggal 8 Oktober 2012, PT Rukun Raharja (RAJA) melalui anak usaha Perseroan, PT Panji Raya Alamindo (PRA), mengakuisisi 51% saham PT PDPDE GAS senilai Rp27.284.000.000.00 dan $ 8.000.000 di mana kepemilikan saham RAJA disinyalir terkait dengan petinggi PDIP hingga berpotensi menyebabkan konflik kepentingan.

RAJA telah mengeluarkan dana kurang lebih Rp 147 milyar untuk membeli saham PDPDE Gas pada tahun 2012. Akankah tinggal diam bila kontrak jual beli gas antara PDPDE Sumsel dan PDPDE Gas dibatalkan?

Demikian disampaikan oleh salah satu aktivis Sumatera Selatan yang kami rahasiakan identitiasnya, pada Klikanggaran.com, Minggu (21/10/18).

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...