• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (24/11/2017) - Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo), Bastian P Simanjuntak, mengungkapkan kesalahan fatal pada amandemen pasal 6 Undang-Undang Dasar 45, yang mengakibatkan orang Jawa, Batak, Ambon, Sunda, Sulawesi, Kalimantan, Papua, Padang, dan orang asli nusantara lainnya, tidak boleh menjadi presiden, jika ia pernah menerima kewarganegaraan lain.

Sedangkan orang India, Eropa, Cina, Arab, Korea, dan orang Jepang, boleh menjadi presiden, jika ia sudah menjadi warga negara Indonesia sejak kelahirannya. Dengan demikian, menurut Bastian Negara ini jelas bukan lagi milik Bangsa Indonesia, namun milik bangsa-bangsa lain di dunia, selama mereka memiliki status kewarganegaraan Indonesia sejak kelahirannya.

Pasal 6 amandemen berbunyi :

(1) Calon Presiden dan calon Wakil Presiden harus seorang "Warga Negara Indonesia" sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri, tidak pernah mengkhianati negara, serta mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Sebelum amandemen tetulis : (1) Presiden ialah "Orang Indonesia asli".

Untuk tulisan tersebut, Bastian menekankan pada "Warga" vs "Orang". Menurutnya banyak politisi kita yang tidak sadar akan perbedaan pengertian antara “Warga Negara Indonesia” dengan Orang Indonesia Asli. Banyak yang berpikir “Warga Negara Indonesia” dan “Orang Indonesia Asli” bermakna sama, padahal sebenarnya menurut Bastian tidak demikian.

“Warga Negara Indonesia, menyangkut Kewarganegaraan Indonesia (Citizenship) yang tidak melekat pada seseorang sejak lahir, sedangkan "Orang Indonesia" berkaitan dengan Kebangsaan (Nationality) yang sudah melekat pada seseorang sejak lahir,” tutur Basian pada Klikanggaran.com di Jakarta, Jumat (24/11/2017).

Bastian memberikan contoh, misalkan kita bertemu dengan orang yang kulitnya sawo matang, bermata belo, berbahasa Jawa atau berbahasa Ambon, maka kita bisa menebak langsung bahwa ia "Orang Indonesia". Meskipun sebenarnya belum tentu kewarganegaraannya Indonesia. Contohnya orang Jawa di Suriname, orang ambon WN Belanda.

"Contoh berikutnya, jika kita melihat orang Eropa (bule) berkulit putih, bermata biru, berbahasa Inggris, maka kita menebak bahwa ia orang Inggris. Padahal kita belum tahu kewarganegaraannya Inggris. Bisa saja ia berkewarganegaraan Jerman, Italy, Prancis, Amerika, atau bahkan berkewarganegaraan Indonesia," jelasnya.

Oleh karena itu, Bastian berpendapat bahwa kata "Warga" dan kata "Orang" merupakan dua hal yang sangat berbeda, sehingga perubahan pasal 6 UUD 1945 pasal 6 yang mengganti kalimat "Orang Indonesia Asli" dengan "Warga Negara Indonesia" merupakan kesalahan yang SANGAT FATAL.

Karena secara otomatis telah merubah konsep Negara Bangsa (National State) dengan konsep Negara tanpa Bangsa dengan kata lain telah terjadi penghapusan entitas bangsa Indonesia dalam Negara Indonesia. Negara tidak lagi mengakui keberadaan Bangsa Indonesia, menurut Bastian sama saja dengan pembunuhan massal tanpa kekerasan. Inilah yang dinilai Bastian sebagai bukti bahwa bangsa Indonesia telah kalah dalam perang asimetris 1998, yang tadinya kita Bangsa Pemenang paska 1945, sekarang menjadi bangsa yang kalah paska reformasi 1998.

"Saya menyerukan kepada seluruh elemen Bangsa Indonesia bersama TNI & Polri (Penegak Pancasila & UUD 45 18 Agustus 1945), mendesak pemerintah dan legislatif, agar segera mengembalikan UUD 1945. Jika tidak, cepat atau lambat negara akan diambil alih bangsa lain yang bukan bangsa Indonesia. Ini sangat mendesak, harus dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Mari Bung rebut kembali," tutupnya.

 

Subcategories

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...