• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Klikanggaran.com (12-01-2018) – Tahun ini merupakan tahunnya pesta politik, berbagai strategi sudah mulai disiapkan untuk merebut kursi atau jabatan di negeri ini. Mulai dari fitnah keji yang kini mulai bertebaran dimana-mana, terlebih media sosial, telah menjadi kapal penghantar untuk mengeksekusinya terlebih dahulu.

Tak pandang lawan maupun kawan, asalkan menjadi nomor satu di negeri ini. Uang habis tak menjadi masalah, nanti akan terganti lagi dengan korupsi. Momen-monen palsu untuk mencari sensasi dan perhatian masyarakat pun mulai bergemuruh mengudara. Para pencari uang mulai mencari kesempatan untuk mendapatkan kehidupan layak sebagai gantinya. Hati-hati saja, jika kini para politisi akan mulai bermesraan dengan para pemuka agama dan menggunakannya hanya sebagai batu loncatan saja.

Jijik sih, jika negeri ini masih melakukan hal yang hina seperti ini, ketika tahun demokrasi menjelang. Tak ayal seperti kaum barbar yang selalu riuh dan tak pernah mau belajar dari kesalahan yang sering dilakukannya. Sehingga prioritas utamanya adalah yang penting dapat saja dulu, urusan moral dan keadilan nanti belakangan saja setelah terpilih nanti.

Namun, aneh bin ajaibnya, masyarakat pun selalu tersihir dengan rayuan gombal oleh orang yang tiba-tiba mengaku akan siap melayani rakyatnya di negeri ini. Memang perlu kecerdasan dan mata hati yang benar-benar terbuka ketika dihadapkan dengan pesta demokrasi tersebut. Lengah sekali saja akan kehilangan 5 tahun yang dinantikan rakyat sebagai kesejahteraan bukan keserakahan.

Kita sebagai rakyat di negeri ini pun harus segera mengambil sikap dan tindakan, dan itu pun harus belajar terlebih dahulu agar kelak dalam pesta demokrasi tak salah memilih pemimpin yang akan melayani rakyatnya sepenuh hati, memperjuangkan hak-hak rakyat, dekat dengan rakyat. Bukan hanya ketika akan mencalonkan diri saja, tahu bahwa rakyat adalah prioritas utamanya, dirinya hanyalah pelayan bagi negeri ini. Bukan menggunakan kekuasaannya untuk memenuhi hasrat bajingannya ketika menjadi pemimpin negeri.

Sehingga, pada saat itu si miskin di negeri ini tidak akan lagi mendengar ketidakadilan, keserakahan, kebencian, penganiyaan, kesombongan, kegaduhan, penggusuran. Yang ada hanyalah sebuah ketenangan hidup yang terjamin, karena mereka layak untuk hidup di negeri ini dan memilki kebebasan untuk mensejahterakan hidupnya.

 

*) Opini kolumnis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...