• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Klikanggaran.com (15-09-2018) - KMA adalah istilah sederhana untuk lebih memperkenalkan Prof. Dr. K.H. Ma'ruf Amin (lahir di Kresek, Tangerang, 11 Maret 1943; umur 75 tahun), di mana KMA menjabat sebagai Rais 'Aam Syuriah pada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Ketua Majelis Ulama Indonesia. KMA tidak hanya sebagai anak kandung Nahdlatul Ulama secara historical, akan tetapi sebagai seorang Rois A’am Pimpinan Tertinggi NU.
Artinya, KMA bukan hanya mewarisi belief terhadap ajaran-ajaran Aswaja dari leluhurnya yakni Syaikh Nawawi yang merupakan Bapak Kitab Kuning Indonesia yang hidup tahun 1730 hingga 1813. Namun, sekaligus mempunyai values yang hampir sama dengan spirit values yang dibawakan oleh leluhurnya tersebut dalam mengembangkan ajaran agama sekaligus menjadi manusia sejati Indonesia yang sesuai dengan norma-norma umum etiket seorang warga negara.

Hal ini dibuktikan dengan argumentasinya pascakejadian demonstrasi besar 212. KMA lah sebagai penggagas organisasi Hubbul Wathon (Perkumpulan cinta Tanah Air) yang sengaja KMA munculkan sebagai distingsi untuk menepis segala perspektif yang kala itu sedang dibangun terhadap KMA pascatuduhan subversi makar terhadap para pembela fatwa MUI atau para operator demo 212 yang diperiksa kepolisian beberapa waktu lalu.

Artinya, beberapa saat lalu, sebagai Rois A’am sekaligus Ketua MUI, KMA mampu memerankan posisinya sebagai pemimpin umat sekaligus seorang yang benar-benar netral dalam menyuarakan aspirasi umat yang beliau pimpin, dengan kata lain hal ini bisa terjadi dikarenakan faktor behavior KMA. Yaitu sikap kebaikan KMA sebagai seorang alim dan zuhud yang telah ditempa seumur hidupnya serta sudah menjadi kebiasaan dalam amaliayah sebagai seorang Nahdliyin sejati. Sehingga KMA tidak bisa dipengaruhi oleh suatu case tertentu atau suatu keadaan genting dan memaksa sekalipun.

Dalam kepemimpinan KMA (Ketua Rois A’am PBNU) dan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A. (Ketua Tanfidziyah PBNU) periode 2010-2020, NU kekinian telah berubah menjadi heterogenitas dalam persepsi penulis. Yaitu NU mampu memahami kemoderenan dengan melahap semua aktualisasi dunia kekinian sekaligus berupaya melestarikan values ajaran ASWAJA yang luhur. Itu menjadi kekuatan utama dalam memainkan peranannya sebagai satu-satunya Ormas Islam Indonesia yang sangat Interconnectivity dalam memperlakukan Jamaahnya. Sehingga bisa saling terkait dalam kepentingan keumatan meskipun dari desa terpencil dengan para aristokrasi NU yang ada di kota-kota besar. Sehingga dengan langgam seperti ini keseluruhan Jam’iah NU dapat selalu menyandarkan istinbath etika, norma, nilai, dan kepercayaan ke-NU-an karena dipayungi historical ajaran para mutaqaddimiin (para pendahulu).

Dalam memahami ke-Indonesian, NU merupakan truthfulness yang selalu berada di depan untuk menyuarakan pentingnya kecintaan terhadap Indonesia. Sehingga NU kekinian telah menjadikan Mars Cinta Tanah Air sebagai bagian dari mukaddimah semua pertemuan formal warga Nahdliyin. Hal lain yakni, ajaran-ajaran kebajikan yang diberikan oleh NU dalam hal cara-cara bernegara yang baik, telah menjadikan obyektifitas NU memberikan gagasan-gagasan artifisial dari Islam untuk menjadi pedoman warga nahdliyin dalam menjaga kebhinekaan, bela negara, toleransi, selalu berada di tengah (tawassuth) untuk mengamankan situasi dari goncangan proxy war asimetris serta impor negara agama versi Arab Spring. Sehingga tidak salah jika ada trust (kepercayaan) yang berlebih dari hasil Investigasi Negara untuk menjadikan kader-kader NU sebagai Pemimpin di Indonesia. Hal ini dicirikan juga dengan hadirnya kontestasi KMA sebagai Cawapres di Pemilu 2019 nanti.

Bahwa keberadaan NU sebagai kebutuhan hidup bagi warga awam Nahdliyin, kini sudah menjadi gaya hidup bagi mayoritas warga negara yang obyektifitasnya sedang menuju kemajuan. Lantaran kelembutan, kaulan makruf (tutur kata yang baik) para pimpinan NU serta segala aspek ilmu komunikasi Islam yang mampu diakulturasikan oleh NU ke dalam budaya Indonesia yang majemuk. Sehingga dahsyatnya adalah penilaian terhadap KMA bukan sebagai simbol ulama dari NU, akan tetapi manfaat serta kegunaannya menjadi Cawapres, yakni diharapkan sebagai penggagas Arus Baru Ekonomi di Indonesia.

Bahwa di bawah tekanan hiperreality dan isu-isu negatif terhadap NU dan kader-kadernya di medsos, para hiperreality sedang memainkan teori simulakra yang dimaksudkan untuk mengontrol manusia modern Indonesia dengan cara menjebak mereka untuk percaya bahwa simulasi isu-isu negatif mereka itu nyata adanya. Padahal simulakra mereka bertujuan membawa kontruksi imajinasi para pembaca terhadap agitasi kalimat-kalimat tendensius di medsos atau reality show media masa yang mendiskreditkan pimpinan NU, tanpa menghadirkan kebenaran dari realitas sesungguhnya atau fakta sesungguhnya secara esensial tentang pembelaan NU terhadap umat Islam. Sehingga isu-isu miring terhadap NU yang dibangun di medsos berbentuk instrument yang mampu merubah hal-hal yang tadinya bersifat abstrak, hoaks, distingsi, over faktum dan post truth tiba-tiba berubah menjadi konkret. Seakan-akan secara kelembagaan NU sedang melakukan kesalahan. Padahal tadinya para pencerca NU itu berlindung di bawah fatwa-fatwa KMA saat terjadi huru-hara Ahok beberapa waktu lalu.

Bahwa tekanan hiperreality yang sedang dibangun oleh para penganut post truth yang simulakrum itu dimaksudkan agar ada ketergantungan masyarakat modern Indonesia atau pengguna medsos di Indonesia terhadap isu-isu hoaks yang mereka mainkan. Serta berupaya agar mayoritas pembaca medsos dapat dikontrol dalam keadaan tidak sadar untuk percaya terhadap simulakrum yang ada di phone-cell, tv, dan internet mereka. Sehingga penulis percaya masyarakat modern Indonesia dapat menempatkan diri untuk tidak terpengaruh dengan tekanan hiperreality sekelompok orang yang ingin menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa demi politik kepentingan tersebut.

Penulis adalah Asgar Ali Tuhulele, Wasekjen PWNU Maluku

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...