• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Kliknggaran.com (02-04-2018) - Kementrian Sosial (Kemensos) harus segera mengentaskan 16.290 anak jalanan. Tidak hanya melalui pendekatan penghapuskan yang berupaya menghapus gejala anak jalanan secara radikal, serta perlindungan yang berupaya melindungi hak-hak anak jalanan. Tetapi, juga harus melakukan pendekatan pemberdayaan yang berupaya mereduksi jumlah anak jalanan.

Mereka merupakan bagian dari bangsa ini, mengapa mereka tersisihkan hingga menjadi bingkai yang menghiasi jalanan “anak jalanan”. Kerap dijumpai adanya fenomena anak jalan di kota-kota besar sebagai pusat-pusat perekonomian. Ketertindasan mereka adalah secara sosial, budaya, politik, dan ekonomi.

Kenyataan memang tak selalu sejalan dengan harapan, namun kalau memungkinkan, kita harus berbuat untuk memperkecil jurang pemisah antara harapan dan kenyataan. Dan, tidak hanya membenarkan terjadinya jurang pemisah itu sendiri. Meskipun telah ada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak dan upaya menanggulangi anak terlantar, namun pada perjalanannya ini belum mampu memberangus jurang harapan dan kenyataan.

Realitas anak jalanan dapat dilihat dengan dimensi ekonomi, dimana anak jalanan merupakan produk dari kemiskinan. Kemiskinan merupakan akibat dari bekerjanya sistem ekonomi-politik masyarakat yang tidak adil. Anak jalanan dalam realitas ekonomi-politik dalam masyarakat yang tidak adil ini, digolongkan mereka yang mencari nafkah di jalanan dengan cara mengamen, berjualan asongan, membersihkan kaca mobil di lampu merah, dan tak bisa dielakkan, aktivitas mereka sering dianggap mengganggu ketertiban dan kebersihan. Maka tak jarang mereka kena garuk oleh aparatur kebersihan dan keamanan kota.

Padahal, mereka dilahirkan di negeri yang kaya, tapi mereka tidak menikmati kekayaan negerinya. Mereka bagian dari Negeri ini, tapi kenapa jurang harapan dan kenyataan begitu dalam, mereka ingin akan kesejahteraan. Teruntuk penguasa, sudah seharusnya mereka diangkat derajat kesejahteraannya. Bagaimana Indonesia membangun masa depan yang kokoh jika mereka, “anak jalanan”, sebagai bagian Keizen Futuristik (menuju lebih baik) terlantarkan di negrinya sendiri?

Mereka semua merupakan bagian dari penyongsong masa depan. Bila mereka ditelantarkan, jadi apa negeri Indonesia ini kelak? Oleh sebab itu, mereka “anak jalanan” tidak boleh dibiarkan lestari. Tapi, mereka harus terdidik, terbina, dan terarahkan untuk memiliki harapan dan cita-cita luhur. Menjadi bagian demi kemajuan negeri ini.

Demikian disampaikan oleh Wahyudin Jali, Koordinator Investigasi Lembaga Kajian dan Analisis Keterbukaan Inforamsi Publik, pada Klikanggaran.com, Senin (02/04/2018).

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...