• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Ibu Indonesia

 

Aku tak tahu syariat Islam

Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik dari cadar dirimu

Gerai tekukan rambutnya suci

Sesuci kain pembungkus ujudmu

Rasa ciptanya sangatlah beraneka

Menyatu dengan kodrat alam sekitar

Jari jemarinya berbau getah hutan

Peluh tersentuh angin laut

 

Lihatlah Ibu Indonesia

Saat penglihatanmu semakin asing

Supaya kau dapat mengingat

Kecantikan asli dari bangsamu

Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif

Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

 

Aku tak tahu syariat Islam

Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azanmu

Gemulai gerak tarinya adalah ibadah

Semurni irama puja kepada Illahi

Nafas doanya berpadu cipta

Helai demi helai benang tertenun

Lelehan demi lelehan damar mengalun

Canting menggores ayat ayat alam surgawi

 

Pandanglah Ibu Indonesia

Saat pandanganmu semakin pudar

Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu

Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada Ibu Indonesia dan kaumnya

 

Klikanggaran.com (04-04-2018) - Itulah bait puisi yang dibacakan oleh Sukmawati, putri Presiden pertama Republik Indonesia yang menuai banyak kecaman di beberapa kalangan umat Islam di Indonesia.

Puisi yang berjudul _Ibu Indonesia_ ini mendapat kritik pedas, karena beberapa dari bait puisi tersebut menggunakan diksi yang kurang tepat, sehingga menimbulkan emosi dan amarah umat muslim. Misal pada bait yang menyebutkan bahwa suara kidung lebih elok daripada alunan azan

Pembandingan yang disampaikan oleh Sukmawati dalam puisinya dinilai  menunjukkan keberpihakannya yang terlalu subjektif. Memang benar adanya, bahwa tulisan adalah sebuah keberpihakan. Tapi, keberpihakan seorang yang baik tentu akan memikirkan apa yang nantinya akan dirasakan oleh orang lain. Artinya, masih ada nilai-nilai kesopanan yang mestinya harus dijaga.

Masih banyak yang bertanya-tanya, apa itu kidung? Sehingga ia dibanding-bandingkan dengan azan; bahkan penilaian Sukmawati menganggap bahwa kidung lebih baik daripada azan.

Menurut KBBI; kidung berarti nyanyian, lagu (syair yang dinyanyikan), serta puisi. 

Ini agak sedikit berbeda dengan kidung yang dijelaskan oleh Prof Sukron Kamil, Guru Besar Sastra Banding dan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau menyebutkan bahwa kidung adalah produk dari walisongo yang merupakan hasil dialog keislaman dan keindonesiaan. Jadi menurut beliau, salah jika Sukmawati membandingkan kidung dan azan hanya karena persoalan kekhawatiran terhadap kebudayaan Islam fundamental yang berkembang pesat pada saat ini. Karena pada dasarnya, kidung sendiri adalah sebuah kebudayaan yang tidak hilang dari sarat ruh keislaman yang hadir secara implisit.

Kita menyadari betul bagaimana fluktuasi rasa nasionalisme kecintaan terhadap tanah air dua tahun terakhir menimbulkan konflik yang berujung SARA. Dimulai kasus penodaan agama yang disandungkan kepada mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kemudian kasus desas-desus hadirnya ideologi PKI kembali, pelecehan ulama, dan lain sebagainya.

Nah, dari sinilah saya pikir Sukmawati ingin menyampaikan rasa kekhawatirannya terhadap berapa porsi rasa nasionalisme yang dimiliki oleh rakyat Indonesia. Sehingga ia dengan berani membandingkan nilai-nilai yang ia anggap asli dari nusantara dan budaya Arab yang sudah mengakar di agama Islam sendiri. Sukmawati sudah terlanjur men-generalisir semua hal yang berbau Arab sebagai budaya Arab, bukan ajaran Islam. Termasuk azan yang ia sampaikan dalam bait puisi tersebut.

Mustahil kita akan mendapatkan sebuah informasi dan perubahan sosial yang benar apabila dari cara berpikir kita masih terdapat sebuah kesalahan atau ketimpangan. Dalam melihat sebuah fenomena masalah sosial, tentu kita juga berbicara cara berpikir seseorang dalam memberlakukan sebuah masalah sosial.

Oleh para ilmuwan, fenomena kesalahan berpikir ini biasa disebut dengan _intellectuall cul de sac_ yang artinya kesalahan dalam berpikir. Nah, kesalahan dalam berpikir ini juga terbagi lagi menjadi dua, yakni _intellectual cul de sac_ dan mitos. Mitos adalah sebuah informasi yang belum tentu wujud kebenarannya, akan tetapi sudah diamini dan dipercayai oleh masyarakat umum.

Dalam teori rekayasa sosial Jalaluddin Rakhmat tentang kesalahan dan kerancuan berpikir, ada banyak macam-macam kesalahan-kesalahan berpikir. Satu di antaranya adalah disebutkan _Fallacy of Dramatic Instance_ tentang kecenderungan melakukan _over generalization_. Sukmawati bisa kita asumsikan gagal dalam memahami perbedaan antara budaya asli Arab dan ajaran Islam yang memang pada dasarnya (hampir seluruh) menggunakan bahasa Arab. Kecenderungan ini oleh Jalaluddin Rakhmat disebut sebuah kesalahan berpikir.

Di lain sisi, kita tidak bisa juga sepenuhnya menyalahkan Sukmawati, karena kemungkinan alasan lain bisa jadi diterima dalam nalar berpikir kita. Penulis meyakini betul, bahwa Sukmawati sebenarnya tidak bermaksud melecehkan ataupun menistakan agama. Karena menarik ulur lagi keseluruhan isi dari puisi tersebut, Sukmawati ibarat sosok yang sedang merintih akan kekhawatirannya tentang jiwa nasionalisme cinta tanah yang sudah mulai hilang seiring berkembang pesatnya ajaran-ajaran Islam konservatif di Indonesia.

Terakhir, penulis ingin menyampaikan konteks puisi yang dibacakan oleh putri Soekarno tersebut tidak sepenuhnya bisa kita salahkan. Akan tetapi, dari segi tekstual, cara berpikir, dan pemahaman tentang Islam, saya pikir memang jelas ada kesalahan. Nah, kewajiban kita sebagai warga negara yang menghargai pendapat orang lain serta senantiasa menanamkan nilai toleransi, hendaknya dijadikan sebagai senjata kita dalam menghadapi segala macam bentuk kesalahan-kesalahan dalam berpikir.

Penulis : Dwi Putri, Mahasiswa Psikologi UNU Indonesia, Equality Institute, PMII UNUSIA Jakarta

Opini kolumnis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...