• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (14-04-2018)) - Alex Noerdin, pria asli Sumatera Selatan (Sumsel), tepatnya di Kota Palembang ia lahir dan dibesarkan. Usianya akan genap 68 tahun di bulan November 2018 nanti. Bisa dibilang Alex ini politikus paling sukses di Sumatera Selatan. Dua kali jadi Gubernur telah ia jabani, bahkan sempat mencoba peruntungan di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Sayang ia gugur di ronde pertama dan kembali ke tanah Sumsel.

Akhir-akhir ini kejayaan Alex mendapatkan rintangan terberat sepanjang karir politiknya. Tidak menutup kemungkinan kader partai pohon beringin ini berujung “from hero to zero”, atau lebih naas lagi karirnya berujung tragis (su’ul khatimah), seperti nasib mantan dia punya Ketua Umum (ketum), Setya Novanto.

Kasus besar yang bisa menghancurkan masa tua seorang Alex tidak lain soal mega skandal Dana Hibah dan Bantuan Sosial (Bansos) yang masuk Tahun Anggaran 2013. Tidak tanggung-tanggung, Dana Hibah dan Bansos yang dikorupsi nilainya mencapai  Rp 1,2 triliun, seperti disampaikan Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus, Arminsyah, kepada awak media dalam sebuah kesempatan.

Adapun kerugian negara yang ditanggung belum pasti jumlahnya, sedikitnya ada Rp 21 miliar yang baru bisa terdeteksi salah masuk kantong alias ditilep oknum pejabat di Sumsel. Untuk Alex sendiri, sebenarnya  sudah mengaku “telah mengembalikan dana Bansos senilai Rp 15 miliar”. Namun, hingga berita ini diturunkan, bapak dari Dody Reza Alex ini masih bisa sedikit bernapas lega walaupun sambil deg-deg ser.

Layaknya pendekar-pendekar sejawat yang berasal dari padepokan Pohon Beringin, Alex ini memang petarung kuat. Sekelas Kejaksaan Agung saja dibuat linglung soal kasus Dana Hibah dan Bansos Sumsel. Hingga saat ini baru nama-nama kelas cere yang berhasil dijerat, untuk sampai ke aktor-aktor besar seperti menghadapi jalan terjal.

Hal ini banyak dikeluhkan pemerhati tindak pidana korupsi, seperti yang disampaikan Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA), saat diwawancarai Klikangaran.com melalui WhatsApp, Jumat (13/04/2018).

Menurut Jajang, berlarut-larutnya penanganan kasus Dana Hibah dan Bansos Sumsel menjadi tendensi buruk bagi penegakan hukum di Sumsel. Ini kasus sudah terjadi sejak lama, dari Alex memimpin untuk kedua kalinya. Kalau terus seperti ini, masyarakat bisa antipati dengan penegak hukum, khususnya yang menangani korupsi Hibah dan Bansos, dalam hal ini Kejaksaan Agung.

Senada dengan Jajang, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) melalui Bonyamin bin Saiman juga turut heran. Sudah hampir setahun diterbitkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik), kok sampai detik ini tidak juga ditetapkan tersangka. Ada apa, sih?” tanya Bonyamin Saiman, Koordinator MAKI, kepada wartawan beberapa waktu yang lalu.

Publik masih perlu menunggu, menjelang akhir karir politik sebagai Gubernur, apakah Alex akan lepas dari ujian terberatnya? Nasibnya berakhir tragis atau malah makin manis, mengingat akrobat politik yang terus ia pertontonkan. Salah satunya dengan majunya dia punya anak, Dody Reza Alex, sebagai kandidat Gubernur Sumatera Selatan. Kata publik, "Hmm, luar biasa kau, Lex."

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...