• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (2/6/2017) - Kasus korupsi Kebun Sawit Kembayan 2  Kalimantan Barat yang diduga fiktif, terlihat sudah akan memasuki babak akhir untuk diberkas oleh Kejaksaan Tinggi Kalbar, untuk disidangkan di Pengadilan Negeri Pontianak.

Anehnya, belum ada satu pun tersangka yang ditahan oleh Kejati, karena menurut bocoran hasil gelar perkara tanggal 31 Mei 2017 di kantor Kejati, diperoleh kerugian sementara senilai Rp 80 miliar. Diketahui, sejak Maret 2017 sudah puluhan pejabat PTPN 13 mondar-mandir diperiksa oleh penyidik Kejati Kalbar.

Adapun kerugian yang disebutkan itu meliputi biaya-biaya pembebasan lahan, biaya "land clearing", pembelian bibit sawit dan penanaman, serta pemberian pupuk sepanjang tahun berikut perawatannya. Biaya-biaya itu sudah dianggarkan dalam setiap RKAP sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2013. Sehingga, kalau dihitung lebih detail oleh BPK, bisa jadi kerugianya jauh lebih besar dari perhitungan sementara yang dilakukan oleh tim penyidik Kejati.

Apalagi kalau ditotal dengan kerugian kebun fiktif di Kaltim senilai hampir Rp 100 miliar, dan beberapa proyek pergantian "pintu rebusan" 3 pabrik Kelapa sawit, juga bermasalah. Dan, pabriknya berhenti beroperasi karena menggunakan pintu rebusan "barang bekas", yaitu PKS Ngabang, PKS Parindu, dan PKS Melia. Untuk kasus ini, Kabag Tehniknya, Daniel Sitompul, sudah dicopot sejak 2016.

Kerugian yang dialami oleh PTPN 13 dari kasus ini saja sudah jauh melebihi kerugian Keuangan Negara atas kasus Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN atas kasus penjualan perusahaan BUMD  di Jatim. Ibaratnya, "Guru kencing berdiri, muridnya kencing berlari".

Kasus Kembayan II begitu serius ditangani Kejati Kalbar. Kejati tidak main-main dalam menuntaskan kasus yang sedang ditangani tersebut.

Kasus ini mengejutkan banyak pihak, karena di sekitar kebun fiktif ini ada beberapa Perkebunan Kelapa Sawit milik pribadi para mantan direksi dan staff yang menjadi tersangka kasus penyelewengan ini.

Tetapi, ada yang aneh.

Kasus serupa kebun sawit fiktif terjadi juga di kebun Muara Koman dan Tajati di Kabupaten Pasir Kalimantan Timur, dan sudah diproses penyidikannya oleh Mabes Polri. Tapi, sampai saat ini tidak jelas ujungnya. Padahal kerugian yang dialami bisa jadi hampir sama nilainya. Seperti diketahui, kasus kebun fiktif ini dilakukan semasa Dirut PTNP 13 dijabat Ir. Kusumandaru, Direktur Pengembangannya Memet M, Direktur Produksi Boim Rahman, Distrik Manager Khairul Anam, GM Kalbar Pandapotan Girsang, dan Distrik Managernya Grincen Hasudian.

Merekalah yang paling harus bertanggungjawab secara hukum. Jadi tidak heran kalau hasil audit keuangan holding perusahaan BUMN perkebunan terakhir dirilis Direktur Keuangan Erwan Pelawi tanggal 31 Maret 2017 mendekati total kerugian Rp 1,4 triliun. Sehingga, PTPN 13 yang merupakan anak perusahaan dari Holding Perkebunan itu  memang sedang dalam keadaan parah.

Anehnya, perusahaan BUMN ini rugi sepanjang tahun, tetapi direksinya tajir-tajir semuanya.

Adapun yang paling lucu, sejak tahun 2012 semua direksi yang bermasalah di PTPN 13 malah dipromosikan jadi Direksi di PTPN 3 dan PTPN 4 Medan. Sehingga kita tidak heran, virus yang dibawa mereka sudah menjalar juga di PTPN 3 dan PTPN 4.

Menginggat begitu banyak kasus dugaan korupsi di beberapa PTPN yang agak mandek penyidikannya, sebaiknya KPK memberikan perhatian khusus untuk menghindari hilangnya uang negara.

(BERSAMBUNG : Kerugian BUMN  Holding Perkebuanan 2016 Rp 1,4 Triliun, Kasus Korupsi PTPN 1 Sampai Dengan PTPN 14)

Disampaikan dari Pematang Siantar, oleh Marsel Harahap, LasserNewsToday, Kamis (1/6/2017).

 

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...