• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (19-10-2018) - Manajemen PT Telkom (persero) dinilai seperti melakukan upaya make up untuk memoles laporan kinerja manajemen maupun keuangan yang seolah-olah bagus, namun faktanya sangat memprihatinkan.
Menurut Gigih Guntoro selaku Direktur Eksekutif Indonesian Club, kenyataannya harga saham blue chip terus mengalami penurunan tajam.

"Salah satu faktor terjadinya malpraktek adalah secara bersama-sama menggunakan double billing system milik asing (I-Siska dan Necktrecker) dalam mengelola data pelanggan yang sama selama 1,5 tahun terakhir, justru tidak efisien dan cenderung terjadi pemborosan atau rentan terjadinya korupsi," ujar Gigih.

Praktek ini, lanjut Gigih, terkesan ada upaya kesengajaan Telkom untuk mengadu domba di antara vendornya.

"Sunggu praktek yang jahat," kata Gigih.

Belum lagi grand design penghapusan data pelanggan yang mencapai 5 juta lebih, dalam rangka untuk mengindari pembayaran lisensi billing system yang dilakukan oleh 3 petinggi Telkom.

Skenario jahat ini patut diduga merupakan modus mengeruk dan menjarah keuangan Telkom untuk kepentingan golongannya," geram Gigih.

Penghapusan data pelanggan ini, tambah Gigih, telah memperburuk citra Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia internasional.

"Tata kelola Telkom semacam ini seperti gelembung udara yang rentan pecah terhadap benturan-benturan apa pun," terangnya.

Maka dari itu, Indonesia Club meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mengaudit laporan Keuangan Telkom, sebagai bentuk upaya dalam melakukan transparansi demi menunjukkan kinerja perusaahaan BUMN agar bisa dipertanggungjawabkan.

"Kami juga meminta kepada Jampidsus Kejaksaan Agung untuk segera melakukan penyidikan terhadap seluruh Jajaran Direksi Telkom atas dugaan tindak pidana korupsi. Khususnya terhadap penggunaan double billing system dan penghapusan data yang mencapai 5 juta data pelanggan," jelas Gigih.

Selain itu, tambah Gigih, dua kasus besar ini merupakan entry point untuk membongkar skandal-skandal kejahatan yang lebih besar di Telkom, yang melibatkan elite politik parpol dan elite Telkom. Dua skandal ini merupakan pertaruhan integritas Kejaksaan Agung agar kejahatan korupsi yang merugikan keuangan negara dapat dihentikan secara transparan dan adil.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...