• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (10-01-2018) - Saat ini Pemerintah Indonesia memiliki sederet prestasi perekonomian dan infrastruktur. Tapi, Indonesia belum mencapai prestasi yang sesungguhnya, yaitu mengatasi kesenjangan dan kebodohan. Kunci utama untuk mengatasi kedua hal tersebut adalah dengan pendidikan yang tersistem dengan baik dan merata ke seluruh daerah.

Upaya pemerintah dalam memperbaiki sistem dan mutu pendidikan yang dilakukan melalui Kemendikbud dengan kebijakan 5 hari sekolah merupakan salah satu kebijakan yang sangat tidak efektif. Anggapan itu pun bukan tanpa alasan.

Terkait hal tersebut, Direktur Kajian Kebijakan dan Keterbukaan Informasi Publik (KAKI PUBLIK), Adri Zulpianto, mengatakan bahwa dengan libur hari Sabtu saja, ternyata banyak anak yang kemudian memanfaatkan untuk menghamburkan uang dengan pacaran, balapan liar, dan tindakan-tindakan yang merugikan seperti kumpul bersama teman sambil merokok, tawuran, serta hal negatif lainnya.

Terbukti dari data KPAI 2012 hingga 2016 kasus tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, kriminalitas, pelecehan dan kekerasan seksual, serta pornografi yang dilakukan anak-anak yang notabene masih berstatus pelajar cenderung meningkat.

"Hal-hal negatif ini sering terjadi pada saat malam Minggu, karena pada hari Minggunya anak-anak libur sekolah. Jadi Sabtu malam mereka gunakan untuk melakukan hal yang sia-sia di rumahnya," terang Adri.

Adri menambahkan, tujuan libur sekolah yang digadang-gadang berguna untuk meningkatkan kualitas waktu bersama keluarga jadi sangat jauh untuk dilaksanakan. Karena sebagian orangtua di Indonesia tidak memiliki waktu untuk bersama keluarga.

Hal ini menurut Adri dikarenakan jam kerja orangtua tidak sejalan dengan jam sekolah anak. Sehingga orangtua menjadi tidak memiliki waktu untuk melakukan kontrol terhadap anak.

“Kebijakan 5 hari sekolah hanya memiliki sasaran bagi orangtua-orangtua yang memiliki tingkat ekonomi di atas rata-rata. Hal ini wajar saja, karena jika program 5 hari sekolah ditujukan kepada seluruh warga Indonesia, yang perlu diperhatikan adalah sistematika sekolah dan sistematika jam kerja orangtua, serta harga sembako di pasaran,” kata Adri.

Menurut Adri, faktor-faktor di atas saling berhubungan, karena jam kerja orangtua meningkat seiring dengan meningkatnya harga kebutuhan keluarga. Sehingga untuk membatasi ruang anak adalah bagaimana sekolah memberlakukan sistem kerja mandiri bagi anak. Tapi, hal tersebut menjadi tidak sejalan jika sekolah tidak memberlakukan sanksi bagi siswa yang tidak mengerjakan tugas sekolah.

Belum lagi, lanjutnya, selama ini sistem sekolah tidak sejalan dengan tujuan program pendidikan, dikarenakan guru di sekolah selalu disibukkan dengan administrasi pendidikan. Sehingga untuk membebani siswa dengan tugas, sama saja menambah beban bagi si guru di sekolah. Jadi, mengulur waktu di sekolah full hingga hari Sabtu sebetulnya membantu guru untuk melebur tugas sebagai guru, dan menjaga anak-anak dalam sekolah dari kegiatan-kegiatan negatif.

Bagi Adri, waktu anak seluruhnya ada di sekolah, lalu dilaksanakan dan diaplikasikan di rumah, kemudian dievaluasi oleh orangtua. Program sekolah 5 hari ini menurutnya tidak baik bagi tumbuh kembang anak. Dan, mempersempit waktu kosong bagi anak adalah salah satu jalan terbaik untuk menjaga anak-anak dari kegiatan negatif.

Sehingga, orangtua dapat melakukan kontrol terhadap anak pada saat di rumah menjadi berkualitas, dan melakukan evaluasi sekolah kepada gurunya menjadi memiliki waktu yang lebih banyak.

“Mestinya, perubahan 5 hari itu tidak perlu, tapi perlu perbaikan jadwal di hari Sabtu. Karena di hari Sabtulah yang sering mengalami masalah. Antara lain, tidak jelasnya kegiatan sekolah di hari Sabtu, sekolah yang tidak ketat pada aturan, dan sekolah yang takut kepada wali murid yang terjadi setiap Sabtu membuat institusi sekolah menjadi lemah, dan guru pun menjadi lebih disepelekan. Hal ini yang perlu diperbaiki,” terang Adri.

“Sehingga yang dipahami saat ini, Kemendikbud tidak memiliki ketajaman dalam mengukur efektifitas sekolah,” tutup Adri.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...