• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (09-01-2018) - Rendahnya mutu pendidikan dasar menjadi masalah utama dalam pendidikan karakter di Indonesia. Hal tersebut terus menjadi polemik bangsa ini. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan lima hari sekolah, dimana peserta didik harus belajar selama 8 jam dalam satu hari di sekolah, dirasakan oleh sebagian publik bukan menjadi solusi terbaik.

Terkait hal tersebut, Chairullah Fadli, Koordinator Kajian Kebijakan KAKI PUBLIK, mengatakan bahwa kebijakan 5 hari sekolah justru tidak efektif dan menimbulkan beban pada tumbuh kembang anak. Pasalnya, tujuan dari lima hari sekolah yang antara lain adalah :

1) Agar punya waktu lebih untuk meningkatkan religiusitas

2) Meningkatkan Nasionalisme

3) Gotong Royong bersama masyarakat di Akhir Pekan 

4) Meningkatkan Integritas

5) Membangun Kemandirian 

masih sangat jauh dari kata berhasil untuk pendidikan tingkat dasar dan sekolah, baik di perkotaan apalagi di wilayah pinggiran dan pedesaan.

“Sedangkan peran pendidikan formal pada jenjang SD dan MI lebih menekankan pada afektif dan sikap,” tegas Fadli.

Ia menambahkan, hal tersebut terbukti bahwa fakta di dunia menunjukkan jika negara-negara yang dikenal memiliki sistem pendidikan terbaik tidak menggunakan durasi waktu hingga 8 jam di sekolah. Misalnya saja, SD di Finlandia memiliki durasi jam sekolah antara 4-5 jam sehari, Korea Selatan dari pukul 08.00 – 13.00, lalu Jepang 08.30 – 13.00, sedangkan di Inggris dari pukul 09.00 – 15.00.

“Selain itu, waktu akhir pekan yang bisa digunakan anak dengan orang tuanya yang diidam-idamkan atas kebijakan ini untuk dapat weekend bareng, hanya berlaku bagi mereka yang memiliki ekonomi menengah ke atas. Dan, sekali lagi itu pun bukan menjadi substansi bagi pendidikan karakter anak,” tegas Fadli.

“Dengan demikian, sudah sepatutnya Mendikbud mencabut kebijakan tersebut, biarlah sekolah menjadi dunia bagi anak seperti halnya para orang tua dengan pekerjaannya. Meskipun sekolahnya lebih lama jadi 6 hari, namun beban jam per harinya jauh lebih ringan dan anak bisa mengembangkan potensi-potensi lainnya di luar jam sekolah,” tutup Fadli.

 

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...