• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (13-04-2018) - Pada akhirnya apa yang dikhawatirkan semua negara termasuk Indonesia hampir mendekati kenyataan. Ancaman aksi militer AS ke Suriah nampaknya bukan sekedar perang urat syaraf atau bahkan fiksi. Setidaknya hal ini terlihat dari kekhawatiran para investor.

Bergejolaknya Timur Tengah dikutip dari Reuters Kamis (12/4/2018), ikut memicu ketidakpastian harga minyak dunia. Dampaknya, indeks acuan harga minyak AS West Texas Intermediate naik 2 persen atau 1,31 dollar AS menjadi 66,82 dollar AS. Angka ini adalah level tertinggi sejak 3 Desember 2014.

Selain itu, indeks harga minyak Brent untuk pengiriman bulan Juni 2018 naik 1,4 persen atau 1,02 dollar AS menjadi 72,06 dollar AS. Angka ini merupakan level tertinggi sejak 1 Desember 2014.

Kondisi global tentunya akan berimbas terhadap Indonesia, khususnya terkait harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Pemerintah saat ini tentunya sangat dilematis menghadapi dampak dari konflik Amerika Serikat dengan Suriah, karena berimbas melambungnya minyak dunia.

Di sisi lain pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, yang dinilai publik sudah keburu sesumbar tidak akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium dan Solar sampai akhir 2019. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah yang terlalu reaksioner, tanpa mempertimbangkan dinamika harga minyak dunia yang serba tidak pasti.

Menanggapi kebijakan pemerintah yang disampaikan Ignasius Jonan dengan tidak akan merubah harga BBM jenis premium dan solar sampai akhir 2019, Senior Economist World Bank, Derek Chen, ikut berkomentar. Menurutnya harga BBM tidak selamanya bisa ditetapkan di satu harga saja. Apalagi, komponen harganya sangat bergantung dengan harga minyak dunia.

"Saya melihat pemerintah mencoba untuk make sure bahwa inflasi tidak mengalami peningkatan yang signifikan karena akan berpengaruh ke private consumption. Tapi, di sisi lain kita juga khawatir, kita tidak bisa membuat harga BBM itu konstan selamanya, terlebih jika krisis global meningkat,” jelas Derek Chen di Kantor Bank Dunia, Jakarta, Kamis (12/4/2018).

Dengan harga minyak dunia yang terus bergerak naik maupun turun, harga BBM yang dijual pun melakukan penyesuaian. Hanya saja, kata Derek, penyesuaian yang dilakukan tidak bisa langsung secara penuh, melainkan harus bertahap.

Derek menambahkan, "Cepat atau lambat, kita harus membiarkannya (mengalami penyesuaian). Mungkin penyesuaian harganya besar, atau mungkin secara bertahap. Kita berharap tidak terlalu besar penyesuaiannya, karena itu akan sedikit mengacaukan."

Derek mengatakan, keputusan untuk tidak melakukan penyesuaian harga BBM di saat harga minyak dunia tinggi juga akan memberikan dampak terhadap perusahaan, dalam hal ini Pertamina dan PLN, untuk bahan bakar pembangkit listrik.

"Kadang, jika kita membiarkan harga BBM tetap, terus krisis keuangan global meningkat, badan usaha harus menanggung gap (antara harga minyak dunia dengan harga BBM). Ini akan mengacaukan untuk Pertamina atau PLN," tegas Derek, menutup keterangan kepada awak media.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...