• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (06-05-2018) - Karena tingginya harga minyak mentah dunia,  PT Pertamina (Persero) mencari cara untuk meringankan beban keuangan perusahaan dengan meminta harga khusus untuk pembelian minyak mentah jatah negara sebagai bahan baku kilang.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan, perusahaannya mengusulkan agar bisa membeli minyak jatah negara dengan harga yang dipatok Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara (APBN) 2018. Hal ini agar Pertamina tidak membeli harga minyak mentah dengan harga pasar dunia.

Dalam APBN 2018 sendiri, harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) ditetapkan US$ 48 per barel. Sedangkan harga minyak mentah dunia mencapai US$ 67,43 per barel.

“Kami minta Pertamina jangan beli dengan harga pasar,” ungkapnya.

Selama ini menurut Nicke, Pertamina harus membeli minyak mentah untuk kebutuhan kilang menggunakan acuan harga pasar. Di mana saat ini, untuk harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$ 67,83 per barel. Bahkan, untuk jenis Brent sebesar US$ 73,93 per barel.

Nicke mengatakan, sebagian bahan baku untuk kilang minyak Pertamina berasal dari bagian pemerintah produksi dalam negeri.

“35% kebutuhan bahan baku untuk kilang kami itu adalah dari porsi pemerintah,” ujar dia.

Mengacu pada situs resminya, Pertamina memiliki dan mengoperasikan enam unit kilang (Refinery Unit/RU) dengan kapasitas total mencapai 1,7 juta barel. Perinciannya, RU II Dumai 170 MBSD, RU III Plaju 133,7 MBSD, RU IV Cilacap 348 MBSD, RU V Balikpapan 260 MBSD, RU VI Balongan 125 MBSD, dan RU VII Kasim 10 MBSD.

Pertamina juga sedang menggarap enam proyek kilang yang terdiri dari empat modifikasi dan dua kilang baru. Empat proyek modifikasi kilang itu yakni Cilacap, Balongan, Balikpapan, dan Dumai. Adapun proyek kilang baru ada di Tuban dan Bontang.

Sementara itu, dari segi keuangan, PT Pertamina (Persero) membukukan laba US$ 2,41 miliar atau Rp 32,24 triliun pada tahun lalu. Perolehan laba ini turun 24 persen dibandingkan 2016 yang mencapai US$ 3,15 miliar. Salah satu faktor penyebab turunnya laba ini adalah harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tidak berubah di tengah harga minyak dunia yang terus naik. Sehingga harus memangkas laba Pertamina.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...