• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (21/9/2017) - Akhirnya Dirjen Migas, Ego Syahrial, menghentikan sementara operasi SPBU Vivo pada hari Rabu (20/9/2017), yang dikatakan banyak orang namanya mirip nama sebuah produk handphone. Adapun penjelasan Dirjen Migas adalah, Vivo adalah penyalur dari PT. Nusantara Energy Plant Energy (NEPI), yang telah mempunyai Izin Usaha Umum BBM. Sesuai dengan ketentuan Permen ESDM Nomor 16 Tahun 2011, semua penyalur harus mendapatkan Surat Keterangan Penyalur (SKP) dari Ditjen Migas. Saat ini VIVO sudah mengajukan permohonan penerbitan SKP, namun dikembalikan oleh Ditjen Migas karena belum memenuhi persyaratan yang dibutuhkan. Hari ini, Ditjen Migas telah meminta kepada Vivo agar menghentikan kegiatan uji cobanya (termasuk menutup logonya). Ditjen Migas telah meminta PT. NEPI untuk segera mengurus penyelesaian administrasi untuk mendapatkan Surat Keterangan Penyalur (SKP).

Terkait hal tersebut, saat dimintakan pendapatnya di tempat terpisah, Yusri Usman, Direktur Eksekutif CERI menyatakan bahwa penghentian sementara itu bukan jawaban yang tepat bagi pemerintah yang mempunyai komitmen tinggi menjaga ketahanan energi dan kemandirian energi.

Menurut Yusri seharusnya Pemerintah memberikan syarat tambahan bahwa SPBU ini boleh beroperasi sementara dengan catatan bahwa PT NEPI sebagai pemegang izin usaha niaga umum diwajibkan membangun kilang minyak di dalam negeri. Dan, SPBU ini merupakan bagian sarana menyalurkan produk kilang yang harus dibangunnya.

“Nah, kalau itu dilakukan oleh Pemerintah, maka kita akan "tabik 10 jari" untuk Pemerintah. Kalau PT NEPI ada hambatan soal bangun kilang, itu yang harus didorong Pemerintah dengan memberikan kemudahan termasuk menyarankan Pertamina sebagai offtakernya. Sebab proyek RDMP dan bangun kilang baru Pertamina jalan di tempat sudah hampir 3 tahun Pemerintahan Jokowi – JK,” jelas Yusri Usman.

Yusri juga mengatakan bahwa Dirjen jangan langsung bertameng Permen ESDM Nomor 16 Tahun 2011, bahwa izin sudah benar telah diberikan dan urusan selesai. Dia harus tahu dan sebagai penanggung jawab tehnis sektor migas yang strategis ini, bagaimana memberikan jawaban dalam bentuk realisasinya agar kita semakin mandiri di sektor migas, bukan tergantung kepada asing.

“Jadi Pak Dirjen harus paham bahwa jadi pejabat itu bukan sekedar tanda tangan izin saja, tetapi harus diperhitungkan dampak negatifnya atas kebijakan yang dia putuskan. Bagaimana implikasinya dengan BUMN PT Pertamina (Persero) yang selama ini ditugasi Pemerintah menjaga ketahanan energi nasional,” tutur Yusri.

Yusri terkesan agak emosional saat menyatakan, apakah Pertamina ini mau dibesarkan atau mau dikerdilkan.

“Jangan pejabat ini omongannya beda dengan perbuatannya,” katanya.

Sebelumnya, Yusri sempat membuat tulisan perihal sebuah kebijakan yang menurutnya membingungkan. Di tengah gencarnya Pemerintah menginginkan ada Investasi Pembangunan Kilang BBM, namun secara kontradiksi membolehkan Trader bisa bisnis BBM di Indonesia. Hal ini menurutnya berbeda dengan kebijakan Pemerintah di Malaysia waktu Pertamina ingin bisnis retail BBM disyaratkan harus punya kilang.

“Bagaimana Investor tertarik inves Kilang BBM di Indonesia, kalau Trader dengan mudah bisa jualan BBM di Indonesia? Suatu Kebijakan yang membingungkan. Mungkin pemangku kebijakan gagal paham," sesal Yusri pada Klikanggaran.com di Jakarta, Rabu (20/9/2017).

“Padahal, Ego Syahrial sebagai Dirjen Migas, sudah baca pertanyaan saya tanggal 18 September 2017, tapi gak jawab. Maka komentar saya pada wartawan, wajar saja dia tidak menjawab, mungkin dia orang baru di posisi dirjen, butuh waktu membaca peraturan yang ada. Makanya, kesalahannya di Pemerintah adalah, memilih orang di posisi strategis, tetapi orangnya tidak pernah bersentuhan dengan dunia migas. Sehingga dia perlu waktu untuk mengenali lingkungannya yang baru," tutup Yusri.

 

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...