• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (25-01-2018) - Sejak awal, kebijakan impor beras memang sarat akan masalah. Mulai dari ketidakjelasan data soal stok beras Indonesia sampai mal administrasi terkait kebijakan itu.

Hal ini terlihat dari yang disampaikan Kementerian Pertanian yang dinilai publik tidak jelas dan akurat, berapa banyak stok beras yang ada. Padahal, perlu informasi yang akurat dan valid terkait ketersediaan beras. Dan, yang aneh lagi, di tengah simpang siurnya info terkait stok beras, pemerintah tetap ngotot untuk melakukan impor beras.

Menurut Koordinator Center for Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman, hal tersebut jelas terlalu reaksioner. Dampaknya bisa berakibat fatal. Bukan hanya bagi petani, tapi juga berpotensi merugikan keuangan negara.

Masalah kebijakan impor beras selalu terjadi, bahkan selama periode pemerintahan saat ini yang sudah berjalan 3 tahun. Swasembada yang dirumuskan dalam Nawacita pun belum bisa terlihat hasilnya.

“Permasalahan soal kebijakan impor beras sebenarnya bukan hal yang baru. Selama ini, meski Jokowi blusukan ke bawah melihat langsung ke tengah-tengah sawah petani, Kemendag tetap saja ada kebijakan impor beras sebanyak 2,9 juta ton dengan nilai Rp 16,9 triliun lebih,” tutur Jajang.

Nilai anggaran Rp 16,9 lebih itu digunakan selama 3 tahun, yang lebih dahsyat adalah kebijakan impor beras yang akan dilakukan Enggartiasto Lukita di awal 2018 ini. Dengan nilai yang disiapkan pemerintah sebanyak Rp 15 triliun untuk 500 ribu ton beras.

“Maka dalam hal ini, CBA mendukung DPR untuk membentuk tim pengawas impor beras. Apalagi uang yang disiapkan senilai 15 triliun ini sungguh kelewat besar jika hanya untuk 500 ribu ton beras,” tutup Jajang.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...