• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (23-04-2018) - Kenaikan harga BBM di Indonesia ibarat memakan buah "simalakama". Jika pemerintah terus mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tetap hingga 2019, maka pemerintah telah melanggar ketentuan dalam peraturan yang dibuat sendiri pada Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014, bahwa setiap harga BBM harus dievaluasi setiap bulan sesuai perubahan harga minyak dunia dan kurs.

Namun, jika pemerintah nekat untuk terus menaikkan harga BBM sesuai harga minyak dunia, maka pemerintah harus siap berhadapan dengan rakyatnya yang merasa menderita akan kenaikan harga minyak tersebut.

Seperti yang disampaikan oleh Direktur Indonesia Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara (19/04), tidak naiknya harga premium dan solar di tengah terus naiknya harga minyak dunia pasti didukung masyarakat. Namun, jika harga jual premium dan solar jauh lebih rendah dibanding harga keekonomian, maka perintah tersebut akan menjadi beban merugikan yang dapat membangkrutkan BUMN.

"Padahal di sisi lain, rakyat justru membutuhkan BUMN/ Pertamina yang terus berkembang agar dapat menjamin penyediaan energi secara berkelanjutan dan ketahanan energi nasional yang terus meningkat," terangnya.

Marwan juga mengatakan, sesuai formula harga BBM dalam Perpres No.191/2014, adalah akibat dari meningkatnya harga minyak dunia, dari rata-rata US$ 39 per barel pada 2016, menjadi rata-rata US$ 51 per barel pada 2017.

Maka Pertamina harus menanggung kerugian menjual solar dan premium sekitar Rp 24 triliun sepanjang tahun 2017. Pada 2018, naiknya harga minyak menjadi sekitar US$ 67, untuk penyaluran solar dan premium bulan Januari-Maret, Pertamina telah merugi sekitar US$ 8,7 triliun.

"Jika harga minyak dunia terus naik, tak heran jika kerugian akan terus membesar," katanya.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...