• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

penistaan agama

  • Masyhuri Malik: Sidang Ahok, Siapa yang Berfatwa, Siapa yang Bersaksi

    Jakarta, Klikanggaran.com (30/3/2017) - Sidang kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terus bergulir. Pekan ini, tepatnya hari Rabu (29/3/2017) kasus yang mengiringi pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta itu sudah memasuki sidang ke 16. Kelanjutan sidang, dikatakan oleh Ketua Majelis Hakim, Dwiarso Budi Santiarto, yang dikutip detik.com, akan dilanjutkan hari Selasa pekan depan.

    "Sidang ditunda dan dibuka kembali Selasa (4/4/2017) pekan depan," kata Ketua Majelis hakim Dwiarso Budi di Auditorium Kementan, Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2017).

    Dalam catatan klikanggaran, sisi lain yang menarik di sidang Ahok adalah hadirnya para ahli agama yang menjadi saksi --baik yang memberatkan maupun meringankan-- yang berasal dari NU. Padahal Fatwa Penistaan Agama oleh Ahok berasal dari MUI dengan sub-organ penggeraknya GNPF MUI. Kenyataan ini dibenarkan Masyhuri Malik, mantan Ketua Lazis PBNU, yang mengaku getol mengikuti perkembangan sidang Ahok melalui media sekedar memperluas wawasan.

    "Ya. Saya terus mengikuti perkembangan sidang Ahok dan memang menarik untuk memperluas wawasan. Dan, yang jelas, yang bicara di depan pengadilan kasus BTP sudah 5 jajaran petinggi Rois Syuriyah PBNU & PWNU (KH. Ma ruf Amin, KH Miftachul Akhyar, KH Masdar Farid Mas'udi, Kyai Ahmad Ishomudin, dan Wakil Rois Syuriyah PWNU DIY (KH. Dr. Sahiron Syamsudin MA)," paparnya.

    Masyhuri menekankan, hal yang ditakutkan adalah, asumsi publik yang memposisikan berhadap-hadapan antar ulama NU bukan lagi memahamai sebuah perbedaan cara pandang atas sikap keagamaan. Jika kalimat pertama yang berkembang, maka lebih bernilai negatif (merugikan) bagi NU.

    "Kalau kehadiran para ulama NU itu dimaknai publik sebagai perbedaan cara pandang memahami persoalan keagamaan, saya kira baik dan sah-sah saja. Masalahnya kalau sebaliknya, dimaknai sebagi konfrontasi antar ulama NU, itu yang ironis dan berbahaya. Siapa yang berfatwa siapa yang bersaksi?!" lanjutnya.