• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Novel Baswedan

  • Sekelumit Soal Kasus SN dan Novel Baswedan

    Jakarta, Klikanggaran.com (2/11 /2017) - Kepolisian dalam penanganan kasus Setya Novanto dengan Novel Bawesdan terlihat amat berbeda. Sudah berbulan-bulan kasus Novel Bawesdan, polisi sama sekali belum bisa mengungkap kasus penyiraman air keras kepada Novel Bawesdan.

    Dalam kasus Novel Bawesdan, publik menilai, seolah-olah polisi tidak punya kesanggupan untuk mengungkap, siapa oknum penyiram air keras ke mata Novel Bawesdan. Karena, sesuai dengan informasi dari Novel Bawesdan, menguat dugaan keterlibatan seorang Jenderal Polisi dalam upaya pengaburan barang bukti kasus penyiraman air keras terhadap dirinya.

    Dengan demikian, kasus penyerangan terhadap penyidik KPK, seperti sudah macet. Pesan dari publik, “Kalau ingin menangani kasus ini, harus dipercayakan kepada lembaga penyidik lain, bukan kepada kepolisian. Polisi itu sudah tidak dipercaya, titik.”

    Penanganan kasus Novel Bawesdan ini, dinilai publik terasa sangat lambat dibandingkan kasus Setya Novanto. Dalam waktu cepat dan singkat, kepolisian berhasil menangkap penyebar meme Setya Novanto saat sakit. Kala itu, foto Setya Novanto mengenakan alat bantu tidur tersebar melalui media sosial.

    Dengan telah tertangkapnya pembuat dan penyebar meme Setya Novanto tersebut, apakah kepolisian akan menangkap ribuan orang lagi, yang ikut menyebarkan meme Setya Novanto tersebut?

    “Pekerjaan sia sia, kalau kepolisian melakukan hal tersebut,” komentar salah seorang publik.

    Karena orang-orang pembuat atau penyebar meme Setya Novanto itu bukan didasarkan pada sebuah dendam, atau kesengajaan ingin mengolok-olok pejabat negara. Ini hanya sebuah kritik publik dalam bentuk satire kepada pejabat publik, sebagai bagian dari proses demokrasi.

    Seharusnya, kepolisian paham bahwa bentuk satire itu bagian dari kritik untuk berdemokrasi. Dan, bagi Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar, juga pejabat publik, seharusnya selalu siap untuk dikritik.