Pemerintahan Jokowi, Property, dan Batu Akik

Jakarta, Klikanggaran.com (25/5/2017) - Pada masa pemerintahan SBY pondasi ekonomi Indonesia adalah batu akik. Harga batu akik naik dengan sangat fantastis. Komunitas internasional mengaku kaget dengan kenaikan harga batu akik di Indonesia yang dinilai naik jauh melampaui kewajaran. Ini gila, katanya, akik yang dipoles apa adanya bisa berharga jutaan rupiah.

Sama dengan batu akik. Ekonomi Pemerintahan SBY adalah property. Kenaikan harga property naik secara tidak wajar. Berkali-kali lebih besar dibandingkan dengan yang seharusnya terjadi. Gelembung harga property mencapai puncak tahun 2013. World Bank mengatakan, Indonesia mengalami buble property dan publik harus waspada.

Kejatuhan harga batu akik secara perlahan berlangsung di era Jokowi, padahal dalam pertemuan KAA di Bandung, para tamu negara dikalungi akik. Pemerintah lebih jauh akan memajaki transaksi batu akik. Namun, kilapan batu akik redup sebelum Jokowi sempat menikmatinya. Pasar batu akik rupanya kurang suka dengan Jokowi. Mungkin dikarenakan, Presiden di masa kampanye dikatakan tidak memakai cincin batu.

Demikian pula dengan pasar property, secara perlahan-lahan redup sejak Presiden Jokowi terpilih. Meskipun Jokowi sejak masa kampanye menggadang-gadang sektor property sebagai prioritasnya. Jokowi bahkan berjanji akan membuka peluang asing mendapatkan hak milik sektor property. Tapi, rupanya pasar property tidak bergeliat. Seperti batu akik, kilapan property ternyata hanya sesaat.

Berbeda dengan bandar batu akik, yang sebagian besar bisnis dengan modal sendiri, dan tidak banyak yang mengambil utang luar negeri. Taipan property hidup besar gemuk di atas timbunan utang menggunung. Mereka para taipan property menggadai setiap jengkal tanah HGB ke bank dan pasar keuangan internasional sebagai jaminan utang. Mereka bukan hanya jual petak kamar dan ruangan, tapi mereka jual beli kertas berharga dan utang.

Namun, sialnya, begitu Jokowi presiden, bukan hanya harga batu akik yang merosot, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika ambruk. Akibatnya, utang-utang taipan property membengkak. Keuntungan perusahaan property disapu oleh utang sampah mereka. Tidak hanya itu, peringkat utang perusahaan property jatuh, harga saham mereka ambruk. Pada 2015 seluruh keuntungan dari berbagai bisnis Lippo disapu bersih oleh utang Lippo Karawaci. Harga saham Lippo Karawaci saat ini telah jatuh 100%, sejak tahun 2015 sampai hari ini.

Perlakuan Pemerintahan Jokowi terhadap bandar batu akik berbeda dengan perlakuannya terhadap taipan property. Para bandar batu akik tidak dibantu, ditengok pun tidak. Tapi, Pemerintahan Jokowi membuat berbagai mega proyek infrastrukur seperti tol, MRT, LRT, airport, dan lain-lain, melintasi lokasi aset-aset properti para taipan. Ini ditenggarai untuk menarik minat pembeli, sehinga menaikkan harga aset property. Namun, ini justru menjadi pukulan balik bagi konsumen dalam negeri. Bank dunia 2014 mengingatkan, Indonesia menghadapi dua masalah ekonomi yang menakutkan, daya beli jatuh tapi inflasi naik.

Ini gawat, tidak ada jalan keluarnya. Kecuali, bagi-bagi uang ke rakyat. Bukan bagi sepeda.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memulihkan kerajaan bisnis property. Pemerintah Jokowi bahkan rela menjadi marketing property dengan mencari pembeli hingga ke luar negeri. Asing diberi hak setara hak milik terhadap tanah dan bangunan di Indonesia. Pemerintah bersama para taipan property mengembangkan program 1 juta rumah. Mengembangkan skema uang muka 1 persen untuk para pembeli property yang berpendapatan rendah. Selain itu, pemerintah  mengembangkan skema utang/kredit  jangka panjang 20-25 tahun, atau bahkan seumur hidup. Semua dilakukan demi mengangkat harkat dan martabat taipan property yang runtuh.

Namun, sektor property ini bak batu akik. Mengkilapnya cepat, namun kusam dalam tempo lebih cepat. Kalau batu akik masih bisa digosok dengan kulit, bambu, direndam minyak zaitun dan lain-lain, agar kembali mengkilap. Kalau property, digosok dengan apa?

Itulah, jauh lebih mudah memulihkan harga batu akik dibandingkan membenahi buble property.

Jadi, saran saya, lebih baik Bapak Presiden kembali ke batu akik.

Demikian disampaikan oleh Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, pada Klikanggaran.com di Jakarta, Kamis (25/5/2017).

 

Bisnis

More Articles