• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (13-01-2018) - PT. Permodalan Nasional Madani, atau biasa disebut PNM, adalah lembaga keuangaan khusus untuk mengembangkan, memajukan, dan memelihara usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). 

Meskipun tugas PNM adalah untuk membantu usaha mikro kecil dan menengah, tetapi ternyata utangnya banyak sekali. Salah satu sumber utang berasal dari penerbitan obligasi oleh perusahaan plat merah tersebut.

Jadi, mentang-mentang PNM ini sahamnya 100 persen milik pemerintah. Lalu, seperti seenaknya saja, para direksi dan komisaris menerbitkan obligasi agar bisa membebani keuangaan PNM?

Hal ini bisa dilihat dari laporan keuangaan PNM pada tahun 2015, utang obligasi perusahaan masih sebesar Rp1.928.070.661.207.

Tetapi, pada tahun 2016 utang obligasi meningkat tajam sebesar Rp1.499.689.275.522. Secara total utang obligasi menjadi sebesar Rp3.427.759.936.729.

Tingginya utang obligasi, yang sampai sebesar Rp 3,4 triliun ini mengakibatkan keuntungan perusahaan harus dialihkan untuk membayar bunga obligasi. Dimana bunga obligasi tahun 2015 yang harus dibayar sebesar Rp193.079.342.845, dan tahun 2016 sebesar Rp208.646.612.022.

Dengan utang obligasi dan bayar bunga obligasi setiap tahun, maka benar-benar akan membebani perusahaan PNM. Bisa-bisa, lama kelamaan, utang obligasi akan membuat perusahaan BUMN tersebut tidak sehat. Karena setiap tahun pendapatannya hanya sekitar Rp 1,2 triliun, dan tidak bisa sekaligus melunasi utang obligasi.

Berarti kalau PNM harus bayar utang obligasi setiap tahun, maka perusahaan tidak bisa bayar dari pendapatan sekaligus. Harus dicicil dulu selama 3 tahun, baru bisa lunas yang namanya utang obligasi itu.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...