• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (03-02-2018) - Oknum nakal terhadap pengurangan volume pekerjaan di suatu lembaga negara masih sering terjadi. Hal ini padahal akan berakibat pada qualitas pekerjaan itu sendiri. Bahkan, jika ada pengurangan pada volume fisik, semisal bangunan atau gedung yang akan dikerjakan, bisa berdampak pada ketahanan dan bisa jadi akan cepat rusak.

Namun sayang, masih ada lembaga negara yang masa bodoh akan hal itu. Seperti halnya yang terjadi di Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) pada tahun 2016. Ditemukan adanya kekurangan volume fisik pekerjaan atas 3 kegiatan belanja modal gedung dan bangunan dengan nilai sebesar Rp 1,61 miliar.

Padahal menurut aturan, sebagaimana tertuang dalam Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Perpres Nomor 4 Tahun 2015 pasal 89 ayat (2a) yang menyatakan bahwa, Pembayaran untuk pekerjaan konstruksi, dilakukan senilai pekerjaan yang telah terpasang.

Wajar saja jika akhirnya publik menjadi kurang percaya terhadap pemerintah. Karena pekerjaan seperti ini saja menjadi proyek-proyekan untuk menguntungkan diri sendiri.

Maka, dengan adanya kekurangan volume pada pekerjaan yang sudah dianggarkan, sama saja dengan ada kelebihan pembayaran.

Pertanyaannya, kelebihan pembayaran sebesar Rp 1,61 miliar atas tiga pekerjaan di atas, ke mana masuknya?

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...